Pengembangan Smart Farming butuh kolaborasi lintas sektor
Pengembangan Smart Farming butuh kolaborasi lintas sektor
Jumat, 21 Agustus 2026 05:50 WIB
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono (tengah) pada acara Peresmian Smart Greenhouse Aquaponik PPK Ormawa melibatkan mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Tidar di Lapangan Multiguna Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Kamis (20/8/2026). ANTARA/HO-Bagian Prokompim Pemkot Magelang
Magelang (ANTARA) - Pemerintah Kota Magelang menyatakan pengembangan Smart Farming di Kota Magelang membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui konsep heksaheliks yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, serta regulasi.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dalam rilis Bagian Prokompim Pemkot Magelang diterima di Magelang, Jumat, mengatakan keberhasilan program ini juga tidak hanya ditentukan oleh keberadaan greenhouse.
Akan tetapi juga oleh sejauh mana fasilitas tersebut digunakan dan mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Kedungsari.
Ia mengatakan hal itu pada acara Peresmian Smart Greenhouse Aquaponik Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang melibatkan mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Tidar di Lapangan Multiguna Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kamis (20/8).
Melalui program itu, ia menyebut, Kedungsari sebagai ruang praktik bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di kampus secara langsung di tengah masyarakat.
“Kota Magelang ini bisa menjadi laboratorium, bisa menjadi lokus kerja nyata dari mahasiswa,” ujarnya.
Model aquaponik menggabungkan budi daya ikan dan tanaman dalam satu sistem, sedangkan konsep Smart Farming diarahkan untuk penerapan pertanian yang sesuai dengan kondisi lahan perkotaan.
Wakil Rektor Universitas Tidar Kota Magelang Parmin menjelaskan PPK Ormawa program Kementerian Pendidikan Tinggi, Saint, dan Teknologi berkolaborasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Tahun ini terdapat 220 tempat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memperoleh pendanaan pemerintah pusat. Jumlah tersebut disaring dari hampir 3.000 proposal yang masuk ke kementerian.
"Tahun ini Universitas Tidar menempati peringkat kedua secara nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah pendanaan terbanyak," katanya.
Setiap judul kegiatan memperoleh pendanaan sekitar Rp35 juta. Program di Kedungsari digarap mahasiswa Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi (Himapbio) Untidar dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sejumlah mitra.
Ia menyebut tantangan program tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Universitas Tidar akan melanjutkan pengembangan Smart Greenhouse Aquaponik agar program tersebut tetap berjalan setelah 2026.
Pewarta: M. Hari Atmoko
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.