Sabtu, 19 September 2026 - 14:00 WIB

China, VIVA – Persaingan mobil China dan Eropa kembali memanas. Kali ini bukan cuma soal mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), tetapi juga kendaraan hybrid yang penjualannya mulai meningkat di pasar Eropa.

Baca Juga

China secara tegas menolak rencana pembatasan ekspor mobil hybrid ke Uni Eropa. Pemerintah China menilai skema pembatasan ekspor secara sukarela bertentangan dengan aturan perdagangan internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai voluntary export restrictions atau pembatasan ekspor secara sukarela bertentangan dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan prinsip persaingan pasar.

Baca Juga

"Pembatasan ekspor secara sukarela secara serius melanggar aturan WTO serta bertentangan dengan prinsip pasar dan persaingan yang adil. China dengan tegas menentangnya," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip VIVA dari CnEVPost, Sabtu 19 September 2026.

Pernyataan tersebut muncul setelah muncul laporan bahwa Uni Eropa meminta China secara sukarela membatasi ekspor kendaraan hybrid ke kawasan tersebut. Jika tidak tercapai kesepakatan, Eropa disebut dapat mempertimbangkan kenaikan tarif.

Baca Juga

Isu ini menjadi perhatian karena impor mobil hybrid buatan China ke Eropa mengalami peningkatan cukup pesat. Berdasarkan laporan yang dikutip CnEVPost, jumlah mobil hybrid dari China yang masuk ke Uni Eropa meningkat dari sekitar 3.800 unit pada Oktober 2024 menjadi 50.000 unit pada Juli 2026.

Pada periode yang sama, harga rata-rata kendaraan tersebut juga mengalami penurunan. Kondisi ini membuat mobil hybrid buatan China semakin kompetitif di pasar Eropa.

Eropa sebelumnya telah menerapkan bea masuk tambahan terhadap mobil listrik murni buatan China. Tarif tersebut membuat total pungutan untuk sejumlah BEV China bisa mencapai sekitar 45 persen jika digabung dengan bea yang sudah berlaku.

Sementara itu, kendaraan hybrid masih dikenakan tarif sekitar 10 persen.

Menariknya, setelah kebijakan tersebut diterapkan, pertumbuhan ekspor BEV China ke Eropa disebut relatif terbatas. Sebaliknya, impor kendaraan hybrid justru mengalami peningkatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, kendaraan hybrid kini menjadi titik baru dalam perselisihan perdagangan otomotif antara China dan Uni Eropa.

China sendiri menyatakan solusi apa pun yang dicapai dengan Uni Eropa harus mempertimbangkan kepentingan kedua pihak, mengikuti aturan WTO dan hukum domestik masing-masing, sekaligus memperhatikan kepentingan industri otomotif di kedua wilayah.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, Eropa disebut ingin pembatasan ekspor tersebut mendorong produsen mobil China meningkatkan investasi atau menggandeng perusahaan lokal di kawasan Eropa.