Solok (ANTARA) - Petani bawang merah di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, memanfaatkan teknologi perangkap hama sebagai upaya mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman sekaligus menekan penggunaan pestisida dalam budidaya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi di Solok, Rabu mengapresiasi langkah petani di Alahan Panjang yang mampu memanfaatkan teknologi dan energi listrik dalam pengembangan budidaya bawang merah.

Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan kreativitas petani dalam meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi penggunaan pestisida.

Untuk mengantisipasi kekurangan air, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian memberikan bantuan sarana irigasi perpipaan dan perpompaan kepada kelompok tani. Pada 2026, Kabupaten Solok memperoleh bantuan sebanyak 18 unit melalui Balai Pertanian Medan.

Dinas Pertanian Kabupaten Solok juga terus mengusulkan penambahan bantuan irigasi pada 2027, termasuk tambahan anggaran pada 2026 untuk pembangunan jaringan perpipaan berdasarkan usulan kelompok tani guna mendukung produktivitas bawang merah dan komoditas hortikultura lainnya.

Di samping itu, salah seorang petani bawang merah di Alahan Panjang, Amri Ismail mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman bawang di lahan pertaniannya.

Ia mengatakan selain menghadapi persoalan serangan hama, petani juga membutuhkan sistem pengairan yang mampu mendukung kebutuhan tanaman, terutama dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar lahan.

"Untuk pengairan, kami memanfaatkan sumber air dari sekitar danau. Air tersebut dipompa menggunakan tenaga listrik untuk kemudian dialirkan ke lahan dengan sistem sprinkler," katanya.

Pemanfaatan listrik tersebut dilakukan melalui program electrifying agriculture dari PT PLN (Persero), yakni inovasi pemanfaatan energi listrik untuk mendukung kegiatan sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan peternakan.

Dengan dukungan program itu, Amri memasang jaringan pipa di lahan pertaniannya sehingga air dari pinggiran danau dapat dipompa dan disalurkan untuk menyiram tanaman bawang secara lebih efektif.

Tidak hanya untuk pengairan, listrik yang tersedia juga dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem perangkap hama atau light trap. Belasan titik lampu dipasang di area pertanaman untuk menarik hama yang aktif pada malam hari.

Di bawah setiap lampu disediakan wadah berisi air yang berfungsi menjebak hama yang tertarik mendekati sumber cahaya. Cara tersebut membantu petani mengurangi populasi hama tanpa harus terus-menerus mengandalkan penyemprotan insektisida.

Menurutnya penerapan light trap dapat mengurangi penggunaan insektisida sekitar 50 persen atau bahkan lebih dibandingkan sebelumnya. Kondisi itu sekaligus berdampak terhadap penurunan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.

Ia menambahkan pengurangan penggunaan insektisida juga diharapkan menghasilkan produk pertanian yang lebih aman dikonsumsi karena paparan bahan kimia dapat ditekan.

Meskipun investasi awal pembangunan jaringan lampu cukup besar, biaya tersebut dinilai dapat dikompensasi melalui penghematan pembelian insektisida dan penggunaan listrik yang relatif hemat.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Petani bawang di Alahan Panjang manfaatkan teknologi perangkap hama