Warta Ekonomi, Jakarta -

Tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mengalami penurunan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm election) yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Tren tersebut juga terjadi di sejumlah negara bagian yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Partai Republik.

Berdasarkan survei terbaru Civiqs yang melibatkan lebih dari 120.000 pemilih di 11 negara bagian, tingkat persetujuan nasional terhadap Trump sejak 20 Januari 2025 tercatat sebesar 36 persen. Sementara itu, sebanyak 59 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya.

Hasil tersebut membuat Trump mencatatkan persetujuan bersih (net approval) sebesar minus 24 poin. Angka itu merupakan selisih antara responden yang menyatakan setuju dan tidak setuju terhadap kinerja presiden.

Meski masih memperoleh dukungan lebih besar di sejumlah wilayah yang menjadi basis Partai Republik, tren terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Trump terus menurun dibandingkan awal masa jabatan keduanya.

Data Civiqs yang dikutip Newsweek menunjukkan saat Trump dilantik pada Januari 2025, tingkat persetujuannya masih berada di zona positif di seluruh negara bagian yang dimenangkannya dengan selisih lebih dari 10 persen pada Pemilu Presiden 2024.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, sedikitnya 11 negara bagian mencatat tingkat persetujuan bersih negatif terhadap Trump. Negara bagian tersebut meliputi Alaska, Florida, Iowa, Kentucky, Louisiana, Missouri, Mississippi, Nebraska, Ohio, Carolina Selatan, dan Texas.

Di Texas, Trump memperoleh tingkat persetujuan sebesar 40 persen, sedangkan 54 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya. Kondisi itu menghasilkan persetujuan bersih sebesar minus 13 poin.

Sementara di Florida, tingkat persetujuan Trump berada di angka 42 persen. Adapun sebanyak 54 persen responden menyatakan tidak setuju terhadap kinerja Presiden AS tersebut.

Baca Juga: Trump Bilang Menghentikan Serangan ke Iran, Teheran: Bohong!!!

Survei juga menunjukkan waktu penurunan dukungan berbeda di setiap negara bagian. Di beberapa wilayah, penurunan mulai terlihat setelah pemerintahan Trump mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang AS pada April.

Di negara bagian lain seperti Kentucky dan Missouri, tren penurunan mulai muncul setelah pemerintah mengumumkan kebijakan terkait perang dengan Iran pada Februari. Meski demikian, survei tersebut tidak menyimpulkan adanya satu faktor tunggal yang menjadi penyebab utama turunnya tingkat persetujuan terhadap Trump.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy