Prabowo dorong BRIN perkuat riset untuk kemandirian nasional
Prabowo dorong BRIN perkuat riset untuk kemandirian nasional
Jumat, 7 Agustus 2026 05:06 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memberikan laporan pelaksanaan saat menggelar hasil riset dan inovasi dari BRIN di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Presiden Prabowo Subianto mengundang lebih dari 150 periset dan peneliti dari berbagai daerah di Indonesia untuk memamerkan dan menjelaskan secara langsung hasil riset dan inovasi yang mendukung program-program prioritas pemerintahan seperti tanggul laut raksasa (giant sea wall), Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat (SR), Gentengisasi, pengolahan sampah, dan program-program lainnya seperti kemandirian energi, ketahanan pangan, pertahanan dan keamanan, serta program tiga juta rumah. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat riset di berbagai bidang strategis untuk mendukung terwujudnya kemandirian nasional, mulai dari sektor energi, pangan, kesehatan, hingga kedirgantaraan.
Kepala BRIN Arif Satria, seusai menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto bersama peneliti BRIN di Halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, mengatakan Presiden memberikan perhatian besar terhadap pengembangan teknologi yang dapat memperkuat daya tahan Indonesia di tengah dinamika global, terutama di sektor energi.
"Bapak Presiden juga tadi mencermati inovasi-inovasi BRIN dalam bidang energi, di mana BRIN diminta untuk terus mengkaji bagaimana mencapai kedaulatan energi, kemandirian energi karena kita tidak boleh tergantung dengan asing," kata Arif.
Menurutnya, Presiden Prabowo secara khusus meminta BRIN mengkaji berbagai skenario kebijakan energi nasional, termasuk implementasi biodiesel B60, B100, hingga bioetanol E30.
"Nah kemudian juga kembali soal energi tadi, kita diminta untuk mengkaji apa implikasi kalau kita terapkan B60, apa implikasi kalau kita terapkan B100, kemudian bagaimana kalau E30. Jadi BRIN diminta untuk mengkaji secara holistik policy terkait dengan energi ini," ujarnya.
Selain itu, Presiden juga menaruh perhatian terhadap pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) yang dikembangkan BRIN untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas alam domestik.
Arif mengatakan teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada LPG sekaligus menghemat beban subsidi hingga sekitar Rp26 triliun per tahun apabila diterapkan secara luas.
Di bidang kedirgantaraan, kata dia, Prabowo turut mencermati pengembangan pesawat N219 hasil kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
BRIN saat ini juga tengah mengembangkan pesawat amfibi yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarpulau tanpa memerlukan pembangunan landasan pacu.
"Nah ini risetnya sedang berlangsung dan mudah-mudahan ini bisa segera selesai dan kemudian setelah sertifikasi bisa dikembangkan di Indonesia untuk bisa mengatasi masalah konektivitas antarpulau, karena dengan pesawat amfibi maka tidak diperlukan investasi untuk runway, karena kita menggunakan air sebagai tempat pendaratan dan untuk landas terbang itu," kata Arif.
Presiden juga memberikan perhatian pada pemanfaatan teknologi nuklir di luar sektor energi. Menurut Arif, BRIN telah mengembangkan teknologi radiofarmaka untuk diagnosis dan terapi kanker, teknologi iradiasi pangan guna memperpanjang masa simpan komoditas ekspor, serta berbagai riset lain yang mendukung kesehatan dan ketahanan pangan.
Selain itu, ia melanjutkan, BRIN turut memamerkan berbagai inovasi lain kepada Presiden, antara lain teknologi pengolahan sampah, rumah tahan gempa, material bangunan ramah lingkungan berbahan limbah sawit dan serabut kelapa, teknologi pengolahan air bersih, hingga sepatu berbahan baku karet dan limbah sawit yang dikembangkan untuk mendukung industri nasional.
Arif mengatakan perhatian Presiden terhadap beragam hasil riset tersebut menunjukkan komitmen pemerintah memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fondasi kemandirian bangsa.
"Beliau selalu mengatakan bahwa penguasaan teknologi adalah soal martabat bangsa," ujar Arif.