AKURAT.CO Presiden Prabowo Subianto mengutip Surah Al-Baqarah ayat 191 ketika berbicara mengenai tudingan fitnah yang menurutnya dilontarkan sejumlah pihak terhadap pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Surah Al-Baqarah ayat 191 ketika menyinggung ungkapan “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”.

“Surat Al-Baqarah ayat 191. ‘Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan’,” kata Prabowo.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual bagi seseorang yang memiliki keahlian dan menyampaikan pandangan kepada publik.

Namun, bagaimana sebenarnya para ulama tafsir memahami ayat tersebut?

Konteks Ayat Al-Baqarah 191

Allah SWT berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Tetapi janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191).

Baca Juga: Prabowo Sebut Demokrasi Bisa Dibajak, Singgung Uang dan Buzzer

Jika dibaca secara utuh, ayat ini berada dalam rangkaian ayat yang berbicara mengenai konflik antara kaum Muslim dan kaum musyrik Quraisy.

Bahkan ayat sebelumnya, Al-Baqarah ayat 190, memberikan batasan penting:

وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Karena itu, ungkapan “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks ayat-ayat tentang peperangan dan penindasan terhadap kaum Muslim pada periode tersebut.

Tafsir Imam al-Tabari: Fitnah Berkaitan dengan Syirik

Dalam Jami' al-Bayan, Imam al-Tabari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “fitnah” dalam ayat tersebut adalah syirik kepada Allah.

Menurut al-Tabari, kondisi seseorang yang mengalami tekanan terhadap agamanya hingga meninggalkan keimanan dan kembali kepada kesyirikan merupakan keadaan yang lebih berat bagi dirinya dibandingkan kematian dalam keadaan tetap beriman.

Penafsiran tersebut juga dikaitkan al-Tabari dengan sejumlah riwayat dari Mujahid, Qatadah, al-Dhahhak, dan ulama generasi awal lainnya yang memahami “fitnah” dalam ayat itu sebagai syirik atau fitnah terhadap agama.