Prancis matikan tiga reaktor nuklir akibat kekeringan - ANTARA News Jawa Timur
Istanbul (ANTARA) - Perusahaan energi Prancis EDF mematikan tiga reaktor nuklir setelah kondisi kekeringan mengurangi debit air di Sungai Meuse dan Moselle, menurut laporan media setempat, Selasa (4/8).
Dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chooz di wilayah Ardennes, timur laut Prancis, serta satu reaktor di fasilitas Cattenom di Moselle masih belum beroperasi hingga Senin sore, menurut surat kabar Le Figaro.
EDF mematikan reaktor No. 1 Chooz pada Sabtu malam untuk mematuhi perjanjian tahun 1998 antara Prancis dan Belgia yang mengatur pengelolaan Sungai Meuse.
Reaktor kedua di pembangkit tersebut sudah tidak beroperasi sejak 11 Juli berdasarkan perjanjian yang sama.
Perjanjian tersebut memungkinkan penyesuaian produksi listrik demi menjaga debit air yang memadai bagi para pengguna Sungai Meuse, baik di Prancis maupun Belgia, demikian keterangan EDF.
Perusahaan itu juga mematikan salah satu reaktor di PLTN Cattenom pada malam hari antara Jumat dan Sabtu sebagai langkah pencegahan menyusul penurunan permukaan air di Sungai Moselle.
EDF juga telah mengurangi atau berencana mengurangi produksi di empat reaktor lainnya, yakni Bugey 3, Tricastin 4, serta Saint-Alban 1 dan 2.
Prancis mengoperasikan 57 reaktor nuklir yang menghasilkan sekitar 70 persen kebutuhan listrik nasional.
PLTN umumnya berlokasi di dekat sungai atau laut karena memerlukan pasokan air dalam jumlah besar untuk proses pendinginan. Saat terjadi kekeringan dan gelombang panas, penurunan debit sungai serta kenaikan suhu air dapat memaksa EDF membatasi atau menghentikan produksi.
Pembatasan tersebut bertujuan melindungi ekosistem perairan dengan mencegah peningkatan suhu air sungai akibat pembuangan air pendingin, sekaligus menghindari pelepasan limbah kimia maupun radioaktif tertentu ketika permukaan air sedang rendah.
Wilayah administratif Ardennes dan Moselle berstatus peringatan kuning gelombang panas pada Senin seiring suhu ekstrem yang terus melanda sebagian wilayah Prancis.
Sumber: Anadolu
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.