Presiden, abad kedua NU, dan
Presiden, abad kedua NU, dan "paket istana"
Rabu, 2 September 2026 16:48 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri acara penutupan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). ANTARA/HO-BPMI Setpres-Laily Rachev/pri.
Jakarta (ANTARA) - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) adalah perhelatan paling ramai dibandingkan berbagai muktamar organisasi lain, karena banyak pihak yang bukan NU justru berkepentingan, bahkan orang tidak paham NU pun melibatkan diri.
Apalagi, Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026, juga agak berbeda dengan muktamar sebelumnya. Pemilihan pemimpin pucuk di PBNU yang digelar Tambakberas itu dibuka dan juga ditutup oleh Presiden Prabowo Subianto.
Saat membuka muktamar pada 27 Agustus 2026), Presiden Prabowo Subianto melontarkan satu frasa menarik, yakni "jas hijau" atau jangan sekali-sekali menghilangkan jasa ulama. Lontaran itu dipertegas Presiden Prabowo dengan frasa "jas merah" dari Bung Karno.
“Jas Hijau” yang diviralkan Presiden itu, seolah melengkapi realitas bahwa kemerdekaan Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tapi ujian kemerdekaan itu sesungguhnya justru pecah di Surabaya, dalam pertempuran yang dibayar tunai lewat darah dan nyawa laskar santri di bawah panji Resolusi Jihad 1945.
Baca juga: NU dan Muhammadiyah untuk Indonesia
Tidak hanya itu, Prabowo juga mengapresiasi peran NU dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Baginya, NU merupakan organisasi yang memiliki jasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan kehidupan kebangsaan. Prabowo mencontohkan lagu “Syubbanul Wathan” yang diciptakan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai simbol semangat kebangsaan di lingkungan NU. Lagu patriotik itu menunjukkan NU ingin Indonesia merdeka dan bangkit.
Atas jasa besar NU itulah, pemerintah perlu membangun hubungan yang kuat dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti NU dan Muhammadiyah. Karena itu "jas hijau" (jangan lupakan jasa ulama) adalah harapan Presiden Prabowo agar peran ulama di abad kedua NU tetap menjaga akhlak anak bangsa, menjaga kerukunan dan kedamaian.
Saat menutup Muktamar ke-35 NU, 31 Agustus dan menerima kartu anggota Nahdlatul Ulama (Karta-NU), Presiden Prabowo menyatakan organisasi itu telah memberi contoh sebagai ormas dengan jutaan warga bisa melaksanakan muktamar dengan damai dan rukun. Karena itu, Presiden juga “menangkap” pesan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar agar fokus pada upaya mengangkat rakyat untuk keluar dari kemiskinan sebanyak-banyaknya, tentunya bekerja sama dengan NU juga.
Pewarta : Edy M Ya’kub *)
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026