(Foto: Dok. Koleksi Pribadi Ihsan Nurul Fajar)

Perbesar

(Foto: Dok. Koleksi Pribadi Ihsan Nurul Fajar)

Jadi intinya...

  • Ajay, Ihsan Nurul Fajar, sukses sebagai kreator TikTok autodidak dari Tasikmalaya.
  • Kontennya memadukan Free Fire dan komedi santun, viral tanpa ujaran kebencian.
  • Ia membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang, menginspirasi dengan etika digital.

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah idola baru bermunculan di platform medsos TikTok, salah satunya Ajay. Akun TikTok @ini.ajay kini punya 2 jutaan pengikut dan mendulang lebih dari 10 juta likes. Lantas siapa sebenarnya Ajay dan bagaimana kisah suksesnya? Inilah profil Ajay. Cowok kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 10 Oktober 1998, ini punya nama lengkap Ihsan Nurul Fajar. Ajay menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup, termasuk jadi guru ngaji hingga ke luar kota sembari terus mempelajari banyak hal termasuk bidang digital. 

Melihat makin besarnya minat masyarakat terhadap konten video pendek dan gim online, ia mempelajari pembuatan konten secara autodidak dengan memanfaatkan berbagai sumber data di internet. Ajay memahami teknik pengambilan gambar, penyuntingan video, hingga strategi membangun komunikasi dengan audiens. Setelah melalui berbagai percobaan, Ajay menemukan karakter konten yang sesuai dengan dirinya. Ia memadukan permainan Free Fire dengan komedi ringan yang santun sekaligus terhubung ke kehidupan sehari-hari. 

Konten ini dikemas tanpa unsur ujaran kebencian, perundungan, maupun bahasa tidak pantas sehingga dapat dinikmati berbagai kalangan. “Awalnya saya hanya iseng membuat konten prank bahasa arab di Free fire,” kata Ajay dalam wawancara online, pada 18 Juli 2026.

“Tidak disangka langsung viral dengan ratusan ribu penonton. Lama-lama saya menyadari bahwa medsos bisa dimanfaatkan untuk memberi hiburan yang tetap memiliki nilai positif,” ujarnya. Perlahan namun pasti, popularitas Ajay di jagat maya terdongkrak.

Konten Kreatif yang Kedepankan Etika

Pertengahan tahun 2026, akun Instagram @ _ihsan.nf menyerap 15 ribuan pengikut. Kanal YouTube-nya tumbuh bersama 89 ribuan pelanggan. Ini menunjukkan konten kreatif yang mengedepankan etika tetap punya tempat di tengah persaingan industri digital.

Fenomena ini juga menunjukkan, medsos bisa jadi ruang produktif apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab. “Kreator konten tak hanya berperan sebagai pembuat hiburan, tapi juga punya tanggung jawab moral membentuk budaya digital yang sehat,” ucap Ajay.

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang

Kisah Ajay juga jadi contoh keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berkembang di era digital. Dengan kemauan belajar, disiplin, dan konsistensi, seseorang dapat menciptakan peluang kerja baru tanpa harus meninggalkan nilai-nilai positif yang dianutnya.

“(Saya percaya bahwa) di tengah maraknya konten yang mengejar sensasi semata, kehadiran kreator konten yang mengutamakan kreativitas, kesopanan, dan tanggung jawab jadi angin segar bagi masyarakat,” Ajay menambahkan. 

Diharapkan Bisa Menginspirasi

Perjalanan Ajay diharapkan menginspirasi generasi muda untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan berwirausaha secara sehat. Ajay mengingatkan, medsos pada akhirnya bukan hanya tentang popularitas.

“(Di sisi lain) medsos juga tentang bagaimana sebuah karya mampu memberi manfaat, menyebarkan nilai-nilai positif, serta jadi contoh kesuksesan dapat diraih melalui proses, kerja keras, dan integritas,” Ajay mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Demon Slayer: Infinity Castle Tayang di Vidio, Awal Pertempuran Terbesar Tanjiro