PT Hutan Sawit Lestari raih ISPO, tegaskan komitmen sawit berkelanjutan

Sabtu, 26 September 2026 12:55 WIB

Image Print

General Manager PT Hutan Sawit Lestari, Siswanto (kaca mata) berjabat tangan saat pertemuan terkait tata batas izin perusahaan, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-PT HSL

Sampit (ANTARA) - PT Hutan Sawit Lestari (PT HSL) meraih Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada 2026 sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat tata kelola perkebunan kelapa sawit yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Kami memaknai Sertifikat ISPO bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai amanah untuk terus memperbaiki tata kelola, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, serta memastikan setiap aktivitas perusahaan memberikan nilai yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” kata General Manager PT Hutan Sawit Lestari, Siswanto di Sampit, Sabtu.

Keberhasilan meraih ISPO menjadi kebanggaan bagi keluarga besar perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini. Sertifikasi ISPO dipandang sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola, budaya keberlanjutan, dan tanggung jawab perusahaan dalam jangka panjang.

Pencapaian tersebut menjadi momentum penting bagi PT HSL karena sertifikasi ISPO tidak semata berkaitan dengan pemenuhan persyaratan administratif dan operasional, tetapi juga mencerminkan konsistensi perusahaan dalam membangun praktik usaha yang semakin memperhatikan kepatuhan, lingkungan, aspek sosial, serta keberlanjutan.

Siswanto mengatakan, pencapaian ISPO merupakan hasil dari proses yang melibatkan manajemen, karyawan, mitra, masyarakat sekitar, serta berbagai pemangku kepentingan.

Menurut pria yang juga merupakan Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kotawaringin Timur, Seruyan dan Katingan ini, keberhasilan memperoleh sertifikasi tersebut juga menunjukkan pentingnya membangun keberlanjutan sebagai bagian dari budaya organisasi, bukan sekadar sebagai kewajiban untuk memenuhi standar.

Prinsip-prinsip keberlanjutan perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, mulai dari tingkat manajemen hingga pekerja di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, implementasi ISPO diharapkan tidak berhenti pada dokumen, prosedur, maupun pemenuhan indikator audit, tetapi berkembang menjadi kesadaran kolektif di dalam organisasi.

Ucapan terima masih manajemen PT Hutan Sawit Lestari atas dukungan semua pihak sehingga perusahaan ini bisa meraih Sertifikat ISPO 2026. ANTARA/HO-PT HSL

“Keberlanjutan harus hidup dalam sistem, keputusan manajemen, dan perilaku setiap insan perusahaan. Sertifikasi memberikan pengakuan terhadap sebuah proses, sedangkan keberlanjutan menuntut konsistensi dalam jangka panjang,” ujar Siswanto yang juga menjabat Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Indonesia (Apindo) Kotawaringin Timur.

PT HSL menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan, mitra, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi selama proses menuju sertifikasi. Bagi perusahaan, pencapaian itu sekaligus menjadi landasan untuk terus meningkatkan praktik pengelolaan perkebunan yang produktif dengan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Perusahaan berpandangan bahwa industri kelapa sawit masa depan tidak cukup hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memerlukan kepatuhan yang kuat, tata kelola yang transparan, legitimasi sosial, serta kemampuan menjaga keberlanjutan sumber daya.

Oleh karena itu, pencapaian Sertifikat ISPO pada 2026 diharapkan menjadi pendorong bagi proses transformasi PT Hutan Sawit Lestari menuju perusahaan perkebunan yang semakin adaptif, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang.

“Kami bersyukur atas pencapaian ini. Namun, rasa syukur tersebut harus diwujudkan dalam tanggung jawab yang lebih besar. Semakin tinggi pengakuan yang diperoleh, semakin besar pula kewajiban perusahaan untuk menjaga kepercayaan itu melalui kerja nyata,” katanya.

Pria yang juga menjabat Wakil Ketua 1 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Tengah menambahkan, semangat yang ingin dibangun setelah memperoleh ISPO adalah tumbuh bersama seluruh pemangku kepentingan dengan menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi penciptaan nilai.

“Pada akhirnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari seberapa besar perusahaan tumbuh, tetapi juga dari seberapa besar keberadaannya memberikan manfaat. Kami ingin terus bertumbuh, sekaligus memastikan lingkungan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat tumbuh bersama,” demikian Siswanto.

General Manager PT Hutan Sawit Lestari, Siswanto saat sosialisasi antisipasi karhutla dan bantuan sarana prasarana pendukung di Kecamatan Tualan Hulu, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-PT HSL

Seperti diketahui, ISPO menjadi kebijakan dan sistem sertifikasi yang dibentuk Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian, untuk memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dilakukan sesuai standar keberlanjutan.

ISPO merupakan standar nasional minyak sawit berkelanjutan pertama di dunia yang dibentuk oleh suatu negara, sekaligus menjadi rujukan bagi negara produsen sawit lain yang mempertimbangkan skema serupa.

Pemerintah terus memperkuat tata kelola industri sawit nasional melalui penerapan standar ISPO yang kini bersifat wajib (mandatori), sebagai langkah strategis memastikan industri sawit Indonesia tumbuh berkelanjutan sekaligus menjaga daya saing di tengah dinamika perdagangan global.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan standar keberlanjutan ini menjadi fondasi penting bagi masa depan industri sawit nasional.

Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.