Liputan6.com, Athena - Di tengah Laut Aegea, terdapat sebuah pulau tandus yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol penindasan politik Yunani. Pulau Gyaros, yang terletak sekitar 30 menit perjalanan laut dari Syros di Kepulauan Cyclades, pernah menjadi tempat pengasingan dan penjara bagi ribuan tahanan politik.

Kini, pulau yang pernah dijuluki “Pulau Iblis” (Devil Island) itu justru dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi konservasi satwa laut, terutama anjing laut Mediterania (Mediterranean monk seal) yang terancam punah.

Dikutip dari BBC, Jumat (17/7/2026), dari kejauhan, Gyaros tampak seperti daratan kosong dengan lanskap berbatu dan semak belukar. Berbeda dengan pulau-pulau Yunani lain seperti Mykonos atau Andros yang berkembang menjadi tujuan wisata dengan bangunan putih, hotel, dan aktivitas ekonomi, Gyaros hampir tidak tersentuh pembangunan.

Di tengah pulau berdiri bangunan besar berbahan bata merah, bekas kompleks penjara yang menjadi pengingat masa lalu kelam kawasan tersebut.

Jejak Kelam Pengasingan Politik

Sejarah Gyaros sebagai tempat pembuangan tahanan telah berlangsung sejak era Romawi. Namun, masa paling kelam terjadi setelah Perang Saudara Yunani berakhir pada akhir 1940-an.

Pada 1948, pemerintah Yunani mengambil alih properti milik 31 penduduk terakhir Gyaros dan mengubah pulau itu menjadi penjara politik. Dalam dua periode penindasan, lebih dari 20.000 orang dikirim ke pulau tersebut, termasuk anggota kelompok kiri, penulis, mahasiswa, dan seniman yang dianggap menentang pemerintah.

Gelombang pertama terjadi pada akhir 1940-an. Para tahanan dipaksa tinggal dalam kondisi berat, menghadapi suhu ekstrem tanpa fasilitas memadai, serta diwajibkan membangun tembok penjara yang kemudian menjadi bagian dari sejarah kelam Gyaros.

Periode berikutnya berlangsung saat rezim militer Yunani yang dikenal sebagai pemerintahan “kolonel” berkuasa pada 1967 hingga 1974. Pemerintah saat itu menyebut Gyaros sebagai tempat rehabilitasi politik, tetapi laporan sejarah mencatat adanya praktik kerja paksa dan penyiksaan terhadap para tahanan.

Setelah rezim militer berakhir, Angkatan Laut Yunani menggunakan pulau tersebut sebagai lokasi latihan pengeboman hingga 2002. Aktivitas tersebut semakin memperkuat isolasi Gyaros dari dunia luar.

Hingga kini, pulau itu tidak memiliki permukiman tetap, hotel, maupun layanan transportasi reguler. Namun, kondisi tersebut justru menciptakan ruang aman bagi ekosistem yang sebelumnya terancam.