Dalam pidatonya pada Kamis di hadapan kalangan akademisi bidang kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, Putin mengakui serangan Ukraina telah berdampak pada perekonomian Rusia.

Ia mengatakan serangan itu menyebabkan Rusia kehilangan sekitar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Putin juga menyebut operasi militer Ukraina di Laut Hitam telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal Rusia.

Meski demikian, Putin menegaskan Rusia tidak akan mundur.

"Di Laut Hitam, itu adalah zona pertempuran. Kami menyerang kapal militer dan kapal yang mengangkut muatan militer, dan kami hampir tidak pernah salah sasaran. Sepanjang rangkaian ini, mereka (Ukraina) telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal kami. Ya, kami kemudian mulai membalas, dan sekarang kami dihujani seruan dari segala arah: 'Oh, tolong hentikan itu'," kata Putin.

"Hal yang sama terjadi terhadap kilang minyak kami. Mereka [Ukraina] secara terbuka menyatakan bahwa tujuan mereka adalah merusak perekonomian kami. Apakah mereka berhasil? Sebagian. Menurut perkiraan kami, kami kehilangan sekitar satu persen dari PDB. Dan itu dilakukan dengan sengaja. Bagaimanapun, yang menjadi sasaran adalah objek sipil. Jadi, mereka mendapat balasan yang setimpal."

Pengakuan Putin soal dampak serangan Ukraina terhadap perekonomian Rusia itu disampaikan hanya sehari setelah ia mengatakan kepada para anggota baru Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia, bahwa perekonomian negara tersebut tetap stabil.

Dalam pemilu itu, partai Rusia Bersatu yang mendukung Putin kembali mempertahankan mayoritas kursi.

Putin juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menyindir ketergantungan Ukraina pada bantuan keuangan dari negara-negara Barat.

"Kesalahan, terutama dalam situasi sekarang, sama sekali tidak bisa ditoleransi," kata Putin kepada para anggota parlemen.

"Tidak seperti sebagian pihak—dan kami tidak akan menyebut siapa—Rusia tidak bisa berkeliling dunia meminta bantuan dengan merendahkan diri. Pertama, karena seperti yang sudah saya katakan, itu memalukan. Kedua, tidak ada yang akan memberi kita apa pun, dan kita sangat memahami hal itu. Ketiga, dan yang paling penting, kita tidak membutuhkannya. Sistem keuangan dan perekonomian Rusia berada dalam kondisi aman."

Meski dalam beberapa pekan terakhir memberi sinyal bahwa dirinya tidak berniat mengurangi intensitas perang di Ukraina, Putin juga mengatakan lebih memilih konflik tersebut berakhir melalui perundingan.

Menjelang pemilu, Putin mengatakan hasil pemilihan akan menunjukkan bahwa masyarakat Rusia bersatu mendukung militer dan tujuan-tujuannya.

Namun, jajak pendapat Levada Center, lembaga survei independen, pada Agustus menunjukkan 59 persen warga Rusia mendukung dimulainya perundingan damai.

Rencana Rusia untuk terus melanjutkan "operasi militer khusus" juga terlihat dari anggaran pertahanannya. Dokumen yang ditinjau Reuters menunjukkan Moskow berencana mengalokasikan 17,1 triliun rubel atau sekitar US$ 205,112 miliar untuk sektor pertahanan pada 2027.

Angka itu sekitar 27 persen lebih tinggi dibandingkan anggaran yang sebelumnya direncanakan dan menjadi yang terbesar sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.