Kita tidak bisa hanya berharap kualitas tersebut akan meningkat dengan sendirinya. Kita harus berinvestasi untuk meningkatkannya

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pentingnya investasi terhadap sumber daya manusia (SDM) untuk mengoptimalkan bonus demografi dalam World Bank Group Closed-Door Ministerial Roundtable di Bangkok, Thailand.

Suahasil, dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa Indonesia tengah menghadapi transisi demografi yang signifikan.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 284 juta jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi 325 juta jiwa dalam 20 tahun mendatang.

Dengan kondisi tersebut, menurut Menkeu, tantangan utamanya bukan terletak pada jumlah penduduk, melainkan pada kualitas dan perubahan struktur penduduk yang perlu diantisipasi melalui kebijakan pembangunan jangka panjang.

“Kita tidak bisa hanya berharap kualitas tersebut akan meningkat dengan sendirinya. Kita harus berinvestasi untuk meningkatkannya,” kata Suahasil.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini mengalami tren peningkatan urbanisasi dan perubahan kebutuhan masyarakat.

Di samping itu, Indonesia juga menghadapi tren penuaan penduduk (aging population), di mana 12 persen penduduk saat ini berusia di atas 60 tahun dan hampir 8 persen berusia di atas 65 tahun.

Menkeu Suahasil menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi agar Indonesia dapat memperoleh manfaat bonus demografi kedua (silver dividend) melalui peningkatan kualitas dan produktivitas penduduk.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya investasi pada SDM sejak dini.

“Untuk memperoleh manfaat bonus demografi kedua, kita harus berinvestasi pada kualitas SDM jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut, bahkan sejak sebelum kelahiran, masa anak-anak, pendidikan, hingga memasuki dunia kerja,” katanya.

Menkeu menekankan pentingnya investasi pada kualitas SDM sejak saat ini, meskipun manfaatnya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi risiko penuaan penduduk dengan produktivitas rendah yang berpotensi meningkatkan kebutuhan belanja negara dan memberikan tekanan terhadap penerimaan negara.

Maka dari itu, di tengah keterbatasan anggaran, ia menyatakan Pemerintah perlu menetapkan prioritas belanja secara cermat dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan saat ini dan investasi jangka panjang.

Baca juga: Menkeu sampaikan komitmen defisit di bawah 3 persen ke Bank Dunia

Baca juga: Menkeu tekankan APBN kredibel di tengah prospek positif ASEAN

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.