Robot Ini Bisa Bersih-bersih Rumah, Tarifnya Rp535 Ribu/Jam
Jakarta, CNN Indonesia --
Startup teknologi Tau Robotics menghadirkan program sewa robot humanoid untuk bersih-bersih rumah. Perusahaan membuka layanan ini untuk 1.000 pelanggan pertama.
Perusahaan membanderol layanan ini dengan harga US$30 atau Rp535 ribu per jam. Layanan ini baru tersedia bagi pengguna di San Francisco, Amerika Serikat.
Robot-robot tersebut mengenakan seragam hitam dan diberi nama seperti Chelsea dan Elon. Robot-robot ini diklaim mampu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyedot debu, membersihkan meja dapur, dan membuang sampah. Perusahaan melatih robot seharga Rp893 juta tersebut menggunakan AI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya, mereka dilatih untuk meniru kinerja manusia, dan kemudian mereka akan dilatih untuk melampaui kinerja manusia," kata salah satu pendiri dan CEO Tau Robotics Alexander Koch, melansir CBS News, Selasa (11/8).
Layanan Tau saat ini hanya terbuka berdasarkan undangan. Namun, Koch mengungkapkan rencana perusahaan untuk meningkatkan jumlah layanan menjadi 1.000 kali seminggu di San Francisco pada 2027 mendatang, sebelum berekspansi ke kota-kota lain dan memasarkannya secara global.
Namun, para ahli memperkirakan setidaknya dibutuhkan lima atau sepuluh tahun lagi sebelum benar-benar dapat mengandalkan robot-robot untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga secara efektif.
Robot-robot Tau yang telah beroperasi saat ini dikendalikan oleh teknisi manusia dari jarak jauh untuk mengawasi. Teknisi manusia ini baru akan turun tangan jika perangkat mengalami kendala.
Para teknisi mengawasi dengan mengenakan kacamata VR untuk melihat melalui kamera pada mata robot yang bertugas.
"Robot Tau tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Misalnya, ia tidak tahucara menaiki tangga.Ia tidak tahudi mana harus menyedot debu.Saat ini,sebagian besar perintah masih diarahkan oleh manusia," jelas dia.
Masalah keamanan dan keselamatan
Meski terdengar sebagai terobosan baru yang luar biasa, robot-robot humanoid yang membersihkan rumah ini tak lepas dari kritik.
Ken Goldberg, Profesor Teknik yang meneliti robotika dan otomatisasi di Universitas California, mengatakan robot humanoid masih relatif ceroboh pada tahap pengembangannya, bahkan dalam pengawasan jarak jauh oleh teknisi manusia.
"Mereka kelihatannya lincah, tapi sebenarnya cukup berat," katanya ketika memperingatkan risiko apabila robot terjatuh.
Kemudian, ketika mereka mencoba bangkit kembali, mereka mungkin akan meronta-ronta dan secara tidak sengaja mengenai apapun yang ada di dekatnya.
Goldberg juga menyebut bahwa robot ini tidak ramah anak. Menurut dia, robot ini bisa saja mencubit orang dengan pencapit di tangannya, sehingga tetap perlu menjaga jarak dengan robot tersebut.
Merespons hal ini, Koch mengatakan tujuan tim teknisi Tau memantau robot humanoid mereka salah satunya untuk mencegah hal-hal yang dikhawatirkan tersebut. Jika terjadi sesuatu yang tidak beres, teknisi dapat mengaktifkan mode aman pada perangkat, yang akan mematikan robot dengan memerintahkannya untuk berbaring di lantai.
Koch menambahkan perusahaan akan mengurangi jumlah teknisi pengawas ketika robot-robotnya mencapai tingkat kemandirian yang diharapkan, targetnya tahun 2028 atau 2029, menurut perkiraannya. Sampai titik tersebut tercapai, ini adalah proses pembelajaran.
"Kami masih terus mendorong batas kemampuan teknologi ini, jadi kami sendiri belum sepenuhnya yakin di mana batasnya," katanya.
Robot Tau dilengkapi dua kamera sebagai mata yang merekam video untuk melatih sistem AI perusahaan dan meningkatkan fungsionalitas teknologi. Dengan demikian, isu keamanan dan privasi juga penting untuk diperhatikan.
Goldberg memperingatkan potensi robot-robot tersebut merekam barang-barang pribadi di rumah yang melanggar privasi seperti kuitansi dan tagihan.
Ketika ditanya mengenai protokol keamanan produknya, Koch mengatakan bahwa perusahaannya memiliki kendali penuh atas data yang dikumpulkan.
"Sistem kamera, jaringan, dan komputer semuanya milik kami sendiri," katanya.
(fta/dmi)