Rugi Miliaran, Pemilik Kedai Kopi Ini Jual Kios Rp34 Juta tapi Tak Laku
Jakarta -
Penurunan jumlah pelanggan membuat pemilik kedai kopi ini memutuskan menjual kiosnya seharga Rp 34 juta. Namun, kios tersebut masih belum laku hingga membuatnya semakin rugi.
Persaingan ketat hingga kurangnya minat pelanggan membuat banyak usaha kuliner, termasuk kedai kopi tidak mampu bertahan. Terlebih ketika biaya operasional dan sewa meningkat, seperti yang dialami oleh pemilik kedai kopi ini.
Menurut laporan Shin Min Daily News, pemilik MunCheng Coffee Shop yang berlokasi di Block 510 Bedok North Street 3, Singapura melaporkan kerugian yang ia alami sejak mengambil alih bisnis tersebut pada 2024. Kerugiannya bahkan mencapai sekitar S$1 juta atau sekitar Rp 13,9 miliar, lapor mothership.sg (22/7).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik kedai kopi MunCheng mengungkap jika kedai kopinya telah beroperasi sekitar dua setengah tahun. Rupanya, separuh kios sudah kosong ketika dia mengambil alih.
Lalu Chen perlu menginvestasikan lebih dari S$500.000 (Rp 6,9 miliar) untuk renovasi. Dia bilang memilih bisnis kedai kopi tersebut karena ada apartemen dan pasar di dekatnya. Dengan pertimbangan ini, ia mengira akan banyak pelanggan lewat dan mampir.
(Gambar hanya ilustrasi) Pemilik kedai kopi di Singapura merasa rugi karena kiosnya tidak laku. Foto: Getty Images/iStockphoto
Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Ia tidak menyangka tingkat perputaran kios akan sangat tinggi. Saat ini ia berharap dapat menyewakan kios-kios tersebut secepat mungkin untuk mengurangi kerugian.
Ia mengaku mengalami kerugian setiap bulan selama dua tahun terakhir dengan total sekitar S$1 juta atau Rp 13.9 miliar. Untuk mengurangi biaya operasional, dua karyawan dari kios minuman tersebut diberhentikan.
Chen juga mengaku banyak pengusaha kuliner memangkas biaya karena memang kondisi pasar yang sedang memburuk.
"Pada masa jaya, kamu memiliki enam karyawan, tetapi kami terus melakukan pemberhentian satu per satu, dan sekarang mungkin hanya tersisa dua orang," jelasnya.
Seorang penyewa di kedai kopi lain mengatakan bahwa daerah tersebut semakin menua dan banyak warga di sekitarnya yang memang usianya sudah lanjut usia, sehingga mungkin tidak banyak tertarik untuk mampir.
Pasar dan Pusat Kuliner Kaki Bukit 511 yang letaknya sangat dekat juga mengalami penurunan jumlah pengunjung selama beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19. Namun, alasan penurunan pengunjung tidak bisa dipastikan.
Selama beberapa tahun terakhir, memang banyak gerai makanan di Singapura yang tutup permanen karena berbagai faktor. Namun, kebanyakan karena jumlah pengunjung sedikit yang mana tidak bisa menutupi modal biaya operasional dan biaya sewa yang semakin meningkat.
(aqr/adr)