Rupiah & Dong Jadi Jagoan Asia, Menguat Saat Mata Uang Lain Tertekan
Elaine Tairio, CNBC Indonesia
07 October 2026 09:49
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan kembali mendominasi mata uang Asia pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Meski begitu, tekanan tidak terjadi merata karena rupiah dan dong Vietnam masih mampu menguat di tengah kenaikan indeks dolar AS pada pagi ini.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, tujuh dari sembilan mata uang Asia yang dipantau bergerak melemah terhadap dolar AS. Rupiah dan dong Vietnam menjadi dua mata uang yang bertahan di zona hijau.
Rupiah mencatat penguatan terbesar setelah terapresiasi 0,08% ke level Rp17.875/US$. Dong Vietnam menyusul dengan kenaikan 0,02% ke posisi VND25.983/US$.
Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami tekanan paling dalam dengan depresiasi 0,26% ke TWD31,86/US$. Baht Thailand menyusul dengan pelemahan 0,24% ke THB33,65/US$.
Yen Jepang terkoreksi 0,20% ke JPY158,41/US$, sementara won Korea Selatan melemah 0,19% ke KRW1.340,5/US$. Peso Filipina turun 0,12% ke PHP62,769/US$, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,11% ke SGD1,2787/US$.
Ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,05% ke posisi MYR4,084/US$.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,20% ke level 102,038 pada pukul 09.15 WIB.
Penguatan dolar pada perdagangan Asia pagi ini terjadi setelah greenback terkoreksi pada sesi sebelumnya. DXY tercatat turun 0,27% pada Selasa seiring meredanya tekanan di pasar obligasi global dan turunnya imbal hasil Treasury AS.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun sekitar 4 basis poin ke 5,271%, sementara tenor 30 tahun melemah 2 basis poin ke 5,641%. Penurunan imbal hasil tersebut terjadi setelah lelang obligasi pemerintah AS tenor tiga tahun mendapat respons positif dari pasar.
Tekanan terhadap dolar pada perdagangan sebelumnya juga datang dari berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober. Peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada bulan ini turun ke sekitar 20%, dari sekitar 70% pada pekan lalu.
"Sepertinya urgensi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sedikit berkurang setelah data PCE yang lebih lunak dan laporan nonfarm payroll baru-baru ini," ujar Gavin Friend, Senior Markets Strategist National Australia Bank, dikutip dari Reuters.
Meski peluang kenaikan pada Oktober semakin mengecil, pasar belum sepenuhnya meninggalkan ekspektasi pengetatan lanjutan. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember masih berada di kisaran 84,5%.
Investor kini menanti risalah pertemuan The Fed September serta komentar sejumlah pejabat bank sentral AS untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya. Pada pertemuan September, The Fed menaikkan suku bunga untuk merespons tekanan inflasi.
(haa/haa)