Emiten tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok hingga 9,23% ke Rp 10.075 pada perdagangan intraday hari ini, Selasa (15/9) pukul 11:11 WIB. Padahal saham BYAN sempat menembus di level Rp 17.272 per saham pada 18 Agustus 2026 lalu. 

Berdasarkan pantauan Katadata saham BYAN sudah merosot hingga 35,19% secara year to date (ytd) dan terperosok hingga 29,34% sebulan terakhir.  Penurunan harga saham konglomerat Low Tuck Kwong itu usai menghadapi gangguan produksi setelah tiga anak usahanya belum mengantongi persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Seiring dengan itu pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, disebut mengincar perusahaan batu bara itu untuk mengakuisisi 62% saham BYAN.  Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai pelemahan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dalam beberapa hari terakhir belum menunjukkan adanya price suppression atau upaya mengondisikan harga menjelang potensi akuisisi.

Menurut Nafan, porsi saham publik atau free float BYAN yang relatif terbatas dan likuiditas perdagangan yang tipis membuat pergerakan saham perseroan lebih sensitif terhadap transaksi jual-beli dalam jumlah tertentu.

Saham BYAN sempat melonjak hampir 20% ke Rp 17.275 pada 18 Agustus 2026 setelah muncul kabar akuisisi. Namun, harga saham perusahaan batu bara milik Low Tuck Kwong itu kemudian berbalik arah, yang pada 14 September saham BYAN anjlok 11,74% ke Rp 10.900.

Nafan menilai pasar tengah menyesuaikan ekspektasi terhadap kabar terbaru yang menyebut Haji Isam menawarkan sekitar US$ 3 miliar untuk mengakuisisi 62% saham BYAN. Pasalnya, nilai penawaran tersebut jauh di bawah nilai pasar perusahaan.

Kondisi itu, menurut dia, menjadi alasan bagi pelaku pasar untuk melakukan repricing terhadap ekspektasi nilai transaksi. Tak hanya itu, Nafan menyoroti penurunan saham BYAN merupakan dampak volatilitas akibat spekulasi akuisisi dan aksi ambil untung setelah lonjakan sebelumnya. 

“Serta penyesuaian ekspektasi terhadap kemungkinan harga transaksi, bukan langsung diasumsikan sebagai rekayasa harga,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Selasa (15/9).

Lebih jauh, Nafan mengatakan anjloknya harga saham BYAN tetap perlu dicermati apabila akuisisi tersebut jadi terealisasi. Hal itu lantaran pergerakan harga saham dapat memengaruhi perhitungan harga minimum dalam Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO).

Secara teori, kata Nafan, penurunan harga saham BYAN memang dapat menekan harga minimum MTO. Namun, mekanismenya tidak serta-merta membuat harga tender wajib menjadi lebih murah ketika harga saham turun.

Mengacu pada POJK 9/2018, Nafan mengatakan harga minimum MTO untuk pengambilalihan langsung perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di bursa menggunakan nilai yang lebih tinggi antara harga pengambilalihan dan rata-rata harga tertinggi perdagangan harian selama 90 hari kalender sebelum pengumuman pengambilalihan.

Nafan menyebut jika harga BYAN terus melemah sebelum periode acuan, rata-rata harga tertinggi selama 90 hari berpotensi ikut turun. Hal itu dapat menekan batas bawah harga MTO.

Namun, ia juga menyoroti penurunan harga MTO tetap memiliki batas. Apabila harga akuisisi lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan rata-rata 90 hari, maka harga transaksi pengambilalihan tersebut yang menjadi acuan minimum MTO. 

“Karena bagi calon pengendali, yang paling penting bukan sekadar membuat harga pasar turun, melainkan tanggal pengumuman transaksi dan harga akuisisi yang disepakati, karena kedua faktor tersebut sangat menentukan formula MTO,” kata Nafan. 

Dalam pemberitaan Bloomberg, entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut tengah mengajukan penawaran tunai kepada BYAN. Haji Isam disebut lagi bernegosiasi untuk mengakuisisi 62% saham BYAN. Nilai penawarannya dinilai mencapai sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS. Harga tersebut jauh di bawah harga pasar BYAN.

“Pembayaran kemungkinan akan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, kesepakatan dengan harga tersebut akan mewakili diskon sekitar 80% dari level pasar saat ini,” kata sumber Bloomberg seperti dikutip Rabu (9/9). 

Namun, Bloomberg menyebut keluarga Low berpotensi melepas kepemilikan mayoritas di Bayan dengan diskon besar dari harga saham di pasar. Terbatasnya jumlah saham yang beredar di publik atau free float dan tipisnya volume perdagangan BYAN dinilai membuat harga saham di pasar tidak sepenuhnya mencerminkan valuasi dalam transaksi berjumlah besar.

Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan yang menjadi salah satu pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024. Konglomerasi bisnisnya, PT Jhonlin Group, telah menjadi salah satu pemain besar di industri pertambangan batu bara Indonesia. 

Bloomberg sebelumnya melaporkan Jhonlin mengajukan kuota produksi batu bara kepada pemerintah sekitar 60 juta ton pada tahun ini. Apabila berhasil mengambil alih 62% saham Bayan, transaksi tersebut akan semakin memperkuat posisi Haji Isam di industri batu bara nasional.

Rencana transaksi tersebut muncul ketika perusahaan tambang batu bara Indonesia tertekan dari kebijakan produksi pemerintah. Prabowo memangkas kuota produksi sejumlah produsen batu bara terbesar untuk mendorong kenaikan harga komoditas tersebut. 

Sejumlah perusahaan tambang juga menghadapi denda besar terkait pelanggaran izin penggunaan kawasan hutan. Bayan menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak pemangkasan kuota produksi tersebut.