Seorang prajurit Houthi berjaga di depan poster bergambar rudal dalam suatu protes terhadap Arab Saudi di Sana'a, Yaman, 31 Juli 2026.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Seorang prajurit Houthi berjaga di depan poster bergambar rudal dalam suatu protes terhadap Arab Saudi di Sana'a, Yaman, 31 Juli 2026.

Telah diterbitkan 4 jam yang lalu

Waktu membaca: 5 menit

Satu warga negara Indonesia yang bekerja di kapal kargo MV Tihamah dilaporkan tewas akibat serangan yang dilakukan Houthi, sebuah kelompok politik-militer berbasis di Yaman, Selasa (11/08). Houthi menuduh kapal itu membawa persenjataan milik Arab Saudiklaim yang belum mendapat tanggapan dari otoritas Saudi.

Kementerian Luar Negeri Indonesia membenarkan peristiwa serangan terhadap MV Tihamah itu. Namun mereka bilang saat ini masih berusaha mengonfirmasi kematian WNI tersebut.

Identitas WNI yang tewas tersebut belum dipublikasikan oleh Kemlu Indonesia maupun otoritas Yaman. Dia hanya disebut bekerja sebagai anak buah kapal MV Tihamah.

Selain satu WNI yang tewas itu, terdapat pula dua anak buah MV Tihamah lainnya yang berstatus WNI—satu di antaranya mengalami luka ringan akibat terkena serpihan dan satu lainnya sedang dirawat di rumah sakit, menurut Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaman yang berkantor di ibu kota Oman, Muscat.

Serangan Houthi ke kapal MV Tihamah itu juga menewaskan tiga warga negara Pakistan, yang juga berstatus anak buah kapal, menurut otoritas Yaman.

Kematian WNI di kapal MV Tihamah terjadi dalam rentetan perang sipil di Yaman, yang eskalasinya meningkat sejak konflik militer pecah antara Iran dan Amerika Serikat pada Februari lalu.

Yaman

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi. Seorang pengunjuk rasa di Sanaa, Yaman, membawa rudal tiruan saat berdemonstrasi menentang blokade Arab Saudi terhadap, 31 Juli 2026.

Perang sipil di Yaman bermula pada 2014, saat Houthi, yang bersekutu dan mendapat dukungan dari Iran, menyerang dan mengambil alih ibu kota Yaman, Sanaa. Peristiwa itu memaksa pemerintahan Yaman hasil pemilu, yang dipimpin Abdrabbuh Mansour Hadi, mengungsi ke Arab Saudi.

Sejak saat itu Houthi menguasai Sanaa, tapi pemerintahan Yaman di bawah Mansour Hadi berlanjut ketika jabatan presiden itu dilanjutkan Rashad al-Alimi pada 2022. Pemerintahan di luar Yaman ini diakui oleh AS dan para sekutunya.

Apa tuduhan dan klaim Houthi terkait serangan yang berujung kematian WNI?

Otoritas militer Yaman di bawah kendali Houthi menuduh kapal kargo MV Tihamah mengangkut peralatan militer Saudi di Selat Bab al-Mandab.

Pernyataan ini mereka sampaikan setelah serangan terhadap MV Tihamah terjadi, melalui kantor berita Saba yang dikendalikan pemerintahan Yaman versi Houthi.

Namun hingga artikel ditayangkan, otoritas Arab Saudi belum menanggapi tuduhan tersebut.

Informasi lain terkait serangan terhadap MV Tihamah dipublikasi oleh kantor berita Tasnim, milik pemerintah Iran.

Mengutip pejabat Houthi di Sanaa, kantor berita Tasnim menyebut serangan terhadap MV Tihamah terjadi di Pelabuhan al-Makha, yang terletak di pantai barat Yaman.

Otoritas Houthi menuding kapal kargo itu membawa peralatan militer Arab Saudi yang hendak diserahkan kepada tentara bayaran Yaman. Tuduhan ini belum mendapat respons dari Arab Saudi.

Yaman

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah gudang di Pelabuhan Mokha porak poranda sehari setelah serangan Houthi terhadap kota Mokha, 10 Agustus lalu. Mokha dikuasai pemerintah Yaman yang berbasis di Arab Saudi.

Omar Al-Bakhiti, juru bicara pemerintah Yaman di bawah Houthi, melontarkan kritik terhadap blokade yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman.

Al-Bakhiti menuduh Arab Saudi sebelumnya telah membela serangan pemerintahan Yaman di bawah Rashad al-Alimi karena mereka memiliki kepentingan di dalamnya.

"Tentara Yaman [di bawah Houthi] sangat serius dalam memberlakukan larangan terhadap pelayaran Saudi dan posisi ini tidak dapat diubah," kata Al-Bakhiti.

"Kami katakan kepada musuh kami, Saudi, alih-alih menangis dan meratap atas kapal-kapal yang menjadi sasaran, hentikan pengepungan dan agresi kejam Anda terhadap rakyat Yaman," ujarnya.

Lokasi serangan terhadap MV Tihamah sebelumnya telah digempur kelompok Houthi.

Kelompok tersebut telah meluncurkan misil ke Pelabuhan al-Makha, Senin (10/08), atau satu hari sebelum mereka meluncurkan rudal ke kapal kargo MV Tihamah.

Serangan itu bukan cuma menyebabkan kerusakan parah pada area pelabuhan, tapi juga menewaskan tujuh orang dan melukai sekitar 30 orang.

Pada hari yang sama, Houthi juga menyerang tentara Yaman yang mereka sebut bersekutu dengan Arab Saudi di Provinsi Shabwa.

Sebaliknya, pasukan Yaman yang dipimpin Rashad al-Alimi dari Arab Saudi juga menyerang Houthi Provinsi Shabwa, al-Jawf, dan Saada.

Juli lalu, Arab Saudi meluncurkan misil ke bandara di Sanaa, beberapa saat sebelum pesawat berbendera Iran yang membawa rombongan pejabat Houthi mendarat.

Serangan itu dibalas Houthi dengan menyerang bandara Abha di Arab Saudi. Mereka juga menyatakan blokade terhadap kapal-kapal yang membawa kepentingan Arab Saudi.

Bagaimana sikap Indonesia dalam konflik di Yaman?

Kementerian Luar Negeri Indonesia mendukung penyelesaian konflik sipil di Yaman "melalui proses politik yang inklusif". Sikap ini mereka sampaikan 24 Juli lalu, saat konflik bersenjata semakin bereskalasi.

Penyelesaian konflik itu, menurut Kemlu, harus berlangsung di bawah fasilitasi PBB, "dengan menghormati kedaulatan, persatuan, dan integritas wilayah Yaman".

Yaman

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok nelayan berada di atas perahu saat mereka melewati kapal kontainer yang berlabuh di dekat Selat Bab al-Mandeb, 6 Agustus lalu.

Terkait dampak konflik itu, Kemlu Indonesia menyebut serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah "bertentangan dengan hukum internasional".

Kemlu Indonesia meminta pihak yang berkonflik, yaitu pemerintahan versi Houthi dan pemerintahan yang berbasis di Arab Saudi, untuk saling menahan diri dan menghormati hukum internasional.

Bagaimana profil MV Tihamah?

Kapal ini tercatat berbendera Tanzania.

MV Tihamah dioperasikan oleh Blue Sea For Management Marine, sebuah firma yang berlokasi di Mesir.

Adapun pemilik kapal kargo ini adalah Thubab For Marine Service, yang juga berbasis di Mesir.

Selain di Yaman, MV Tihamah tercatat pernah berlayar di perairan Singapura, China, Dubai, Djibouti, dan Panama.