Kota Jambi (ANTARA) - "Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati" Lidya Wati datang untuk memeriksakan kesehatan tanpa membawa rasa takut.

Tidak ada keluhan yang membuatnya khawatir. Tidak ada rasa sakit yang memaksanya mencari pertolongan. Dalam kesehariannya, ia merasa baik-baik saja.

Karena itu, seperti banyak orang lainnya, Lidya menganggap dirinya sehat.

Keyakinan itu berubah setelah ia mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dari pemeriksaan tersebut, diketahui tekanan darahnya tinggi. Lidya terkejut.

Hasil pemeriksaan itu seperti mempertemukan dua hal yang selama ini ia anggap sama: merasa sehat dan benar-benar sehat. Ternyata keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

"Sebelum CKG saya merasa sehat karena tidak ada keluhan. Saya merasa sehat," kata warga Kota Jambi itu.

Ada kekhawatiran setelah hasil pemeriksaan keluar. Bukan semata-mata karena mengetahui tekanan darahnya tinggi, tetapi karena selama ini ia tidak merasakan tanda yang membuatnya berpikir ada masalah di dalam tubuhnya.

"Setelah mengetahui hasilnya, saya kaget dan khawatir karena merasa sehat dan tidak ada keluhan," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Lidya melihat kesehatan dengan cara berbeda.

Selama ini, ia memahami penyakit melalui rasa sakit. Jika tubuh mengeluh, barulah seseorang mencari pertolongan. Jika tidak ada keluhan, seseorang merasa tidak memiliki alasan untuk diperiksa.

CKG mematahkan pemahaman itu.

Pemeriksaan justru dilakukan ketika seseorang masih merasa sehat.

Bagi Lidya, hasil pemeriksaan bukan sekadar angka pada kertas. Angka tersebut menjadi peringatan agar ia tidak menunggu tubuhnya memberikan tanda yang lebih keras.

Petugas kesehatan kemudian memberikan arahan untuk menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan dan mencukupi istirahat. Ada pula kondisi yang perlu mendapatkan pengobatan.

Dari sana, Lidya mendapatkan satu kesadaran baru: kesehatan tidak cukup hanya dirasakan.

Kesehatan perlu diperiksa.

"Saya lebih sadar kalau kita merasa sehat belum tentu tubuh kita benar-benar sehat," katanya.

Ia pun menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat.

"Jangan menunggu sakit dulu baru periksa."

Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih besar dari sebuah program pemeriksaan kesehatan.

Sebab, ketika seseorang yang merasa sehat ternyata memiliki faktor risiko atau penyakit, pertanyaan berikutnya bukan lagi berapa banyak warga yang sudah diperiksa, melainkan apa yang terjadi setelah penyakit ditemukan?

Di situlah perjalanan CKG sesungguhnya dimulai.

Aktivitas pelayanan warga Kota Jambi melakukan pemeriksaan kesehatan di Jambi, Kamis (27/8/2026). (ANTARA/Melli Andani)

Penyakit yang diam-diam berjalan

Dokter Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi dr Nesya Andini melihat pengalaman Lidya bukan sesuatu yang luar biasa.

Justru, cukup banyak peserta datang dalam kondisi merasa sehat, tetapi hasil skrining menunjukkan adanya persoalan kesehatan.

Di Puskesmas Putri Ayu, hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah temuan yang perlu diperhatikan. Prehipertensi mencapai 15,64 persen, tekanan darah tinggi 13,92 persen, dislipidemia 54,18 persen dan karies 68 persen.

Selain itu, tenaga kesehatan menemukan peserta dengan prediabetes, obesitas hingga risiko kanker paru.

Sebagian di antaranya tidak datang karena sedang merasakan sakit.

Mereka datang karena ada kesempatan untuk memeriksa diri.

"Banyak pasien yang merasa sehat, tetapi ternyata memiliki penyakit," kata Nesya.

Di situlah arti deteksi dini.

Penyakit tidak selalu mengetuk pintu dengan rasa sakit.

Kadang ia berjalan perlahan.

Seseorang masih bisa bekerja, mengurus keluarga, bepergian, berolahraga atau menjalankan rutinitas seperti biasa, sementara faktor risiko penyakit sudah berada di dalam tubuh.

Jika baru diperiksa ketika keluhan muncul, kesempatan untuk melakukan intervensi lebih awal bisa menjadi lebih sempit.

Karena itu, deteksi dini memberikan sesuatu yang sangat berharga: waktu.

Waktu untuk mengetahui.

Waktu untuk mengubah pola hidup.

Waktu untuk melakukan pengobatan. Dan waktu untuk mencegah komplikasi.

Nesya mengatakan deteksi dini penting karena penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih parah. Langkah tersebut juga dapat mencegah komplikasi serta menekan beban biaya yang lebih besar apabila penyakit sudah berkembang.

Tetapi menemukan penyakit hanyalah satu tahap.

Pasien kemudian harus masuk ke tahap yang jauh lebih menentukan: tindak lanjut.

 Pemeriksaan selesai, perjalanan belum selesai

Di atas meja pemeriksaan, penyakit dapat ditemukan dalam hitungan menit.

Namun, mengubah hasil pemeriksaan menjadi kesehatan membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.

Pasien dengan hasil yang perlu diperhatikan harus mendapatkan konseling, pengobatan, rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dan jadwal pemeriksaan berikutnya.

Masalahnya, tidak semua orang yang sudah mengetahui dirinya bermasalah otomatis mampu melanjutkan pengobatan.

Ada persoalan biaya.

Ada pasien yang belum memiliki JKN. Ada pula yang memiliki JKN, tetapi masih terbebani biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan. Obat atau pemeriksaan tertentu dapat berada di luar tanggungan. Bagi pekerja dengan penghasilan harian, satu kali kunjungan berobat juga dapat berarti kehilangan pendapatan pada hari tersebut.

Ada persoalan jarak.

Ada antrean.

Ada prosedur rujukan.

Ada keterbatasan waktu.

Dan ada persoalan yang tidak kalah penting: penolakan terhadap kenyataan bahwa dirinya sakit.

Seseorang dapat mengetahui dirinya memiliki tekanan darah tinggi, tetapi merasa belum perlu berobat karena tidak merasakan sakit.

Seseorang dapat menerima hasil pemeriksaan, tetapi belum menganggapnya sebagai sesuatu yang mendesak.

Di sinilah kesehatan tidak lagi sekadar persoalan medis.

Ia bersentuhan dengan ekonomi keluarga, akses layanan, pekerjaan, transportasi, pendidikan dan cara seseorang memandang risiko terhadap dirinya sendiri.

Pakar epidemiologi dan kesehatan masyarakat Universitas Jambi Dr Ummi Kalsum, menilai pengetahuan seseorang mengenai penyakit tidak otomatis membuat orang tersebut mau berobat.

Ada orang yang merasa dirinya belum cukup berisiko. Ada yang menganggap penyakitnya belum berat. Ada yang terbentur biaya, jarak dan waktu.

Karena itu, mengetahui sakit tidak selalu berujung pada keputusan untuk berobat.

Dan celah inilah yang harus ditutup jika CKG ingin benar-benar menghasilkan dampak kesehatan.

 Di Puskesmas Putri Ayu, hasil pemeriksaan harus punya jalan keluar

Kepala Puskesmas Putri Ayu dr Raodah memahami bahwa tantangan CKG bukan hanya membuat masyarakat datang.

Puskesmas harus memastikan temuan tidak berhenti sebagai data.

Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 6.882 orang telah mengikuti CKG di wilayah Puskesmas Putri Ayu atau mencapai 94,36 persen dari sasaran.

Sebanyak 4.762 orang telah mendapatkan tindak lanjut berupa pengobatan, konseling maupun rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: setelah pemeriksaan, ada pekerjaan besar yang harus dilakukan tenaga kesehatan.

Raodah mengatakan semua temuan CKG ditindaklanjuti sesuai kondisi peserta.

Peserta yang masuk kategori sehat mendapatkan konseling dan edukasi mengenai pola hidup promotif dan preventif.

Peserta dengan hasil abnormal atau berisiko diarahkan kepada dokter pada hari yang sama.

Jika membutuhkan pengobatan, pasien mendapatkan obat dari puskesmas. Jika memerlukan layanan yang tidak tersedia, pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Puskesmas juga mengembangkan pencatatan digital untuk membantu memantau perkembangan kesehatan pasien pada kunjungan berikutnya.

Kader dan posyandu turut dilibatkan untuk mendampingi warga yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk membantu pemantauan minum obat dan kepatuhan terhadap kunjungan ulang.

Dengan demikian, pemeriksaan tidak dirancang sebagai peristiwa satu hari.

Ia harus menjadi awal dari hubungan yang berkelanjutan antara warga dan layanan kesehatan.

Namun, menjaga hubungan tersebut tidak mudah.

 Ketika keberhasilan melahirkan pekerjaan baru

Semakin banyak warga diperiksa, semakin banyak pula temuan yang harus ditindaklanjuti.

Di satu sisi, itu merupakan kabar baik.

Penyakit yang sebelumnya tersembunyi mulai ditemukan.

Namun, di sisi lain, temuan tersebut menambah beban tenaga kesehatan.

Raodah mengatakan keterbatasan petugas menjadi salah satu kendala terbesar. Jumlah penanggung jawab CKG, tenaga program dan kader kesehatan belum selalu sebanding dengan masyarakat yang harus mendapatkan tindak lanjut.

Petugas juga harus membagi waktu dengan pelayanan rutin dan berbagai program kesehatan lainnya.

BIAS berjalan.

Penanganan stunting berjalan.

Pelayanan kesehatan rutin tetap harus berlangsung.

Dalam situasi yang sama, bencana kabut asap juga membutuhkan respons kesehatan.

Karena itu, ada sebuah paradoks dalam CKG.

Keberhasilan menemukan semakin banyak orang berisiko sekaligus menciptakan pekerjaan tindak lanjut yang semakin besar.

Jika kapasitas sistem tidak ikut bertambah, maka titik rawan program bukan lagi berada pada meja skrining, melainkan setelah warga membawa pulang hasil pemeriksaannya.

Raodah juga menghadapi peserta yang tidak mau dirujuk, tidak memiliki JKN atau masih menyangkal kondisi kesehatannya.

Ada pula persoalan data kependudukan. Sejumlah anak sekolah belum mengikuti CKG secara optimal karena terkendala NIK.

Artinya, memperluas cakupan pemeriksaan harus berjalan beriringan dengan memperkuat kemampuan sistem untuk menindaklanjuti hasil.

 Dari 136 ribu pemeriksaan menuju pertanyaan yang lebih besar

Di tingkat Kota Jambi, cakupan CKG terus bertambah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi Elvi Roza mencatat hingga 26 Agustus 2026 sebanyak 136.231 warga telah mendapatkan pelayanan CKG.

Jumlah tersebut mencapai 45,27 persen dari target 300.929 orang untuk seluruh kelompok umur.

Kelompok usia 7-18 tahun telah mencapai 35.308 orang atau 91,24 persen dari target.

Sementara kelompok usia 18-59 tahun baru mencapai 72.489 orang atau 39,92 persen dari target.

Pada kelompok usia 60 tahun ke atas, sebanyak 13.577 orang telah mendapatkan pelayanan atau 33,29 persen dari target.

Angka-angka tersebut menunjukkan jangkauan program.

Namun, angka cakupan belum dapat menceritakan seluruh perjalanan seorang pasien.

Seorang warga dapat tercatat sebagai peserta CKG.

Namanya masuk dalam sistem.

Hasil pemeriksaannya tersimpan.

Tetapi apakah ia mendapatkan pengobatan?

Apakah ia datang ketika dirujuk?

Apakah ia mengonsumsi obat sesuai anjuran?

Apakah tekanan darahnya kemudian terkendali?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah pemeriksaan benar-benar menghasilkan perubahan.

Elvi mengatakan warga yang terindikasi penyakit akan diarahkan mendapatkan tata laksana sesuai kondisi.

Jika obat tersedia di puskesmas, pasien mendapatkan pengobatan di sana. Jika membutuhkan layanan yang tidak tersedia, pasien dirujuk ke rumah sakit.

Dinas Kesehatan Kota Jambi juga telah mengusulkan pengadaan obat hipertensi dan diabetes melitus kepada pemerintah pusat berdasarkan kebutuhan dan temuan kasus dari pemeriksaan sebelumnya.

Dengan demikian, data CKG tidak hanya berfungsi bagi pasien.

Data tersebut dapat menjadi dasar pemerintah untuk membaca kebutuhan obat dan pelayanan kesehatan masyarakat.

 *CKG tidak boleh menjadi gudang data* 

Ummi Kalsum memberikan catatan penting.

Skrining bukanlah pengobatan.

Skrining hanya memberi tahu seseorang mengenai kondisi kesehatan atau risiko yang mungkin dimilikinya.

Jika informasi itu tidak diikuti tindakan, maka hasil pemeriksaan berpotensi hanya menjadi statistik.

Karena itu, menurut Ummi, keberhasilan CKG tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah orang yang datang.

"Seratus juta pemeriksaan pun tidak otomatis membuat lebih dari seratus juta orang menjadi sehat," ujarnya.

Kalimat tersebut membawa ukuran keberhasilan CKG ke tingkat yang lebih dalam.

Program kesehatan tidak hanya dinilai dari seberapa luas pintu masuknya dibuka.

Program juga harus dilihat dari apa yang terjadi setelah seseorang masuk.

Dalam konteks CKG, rantainya jelas.

Seseorang diperiksa.

Jika ditemukan risiko, dilakukan penilaian.

Jika ditemukan penyakit, dilakukan diagnosis dan tata laksana.

Jika membutuhkan layanan lanjutan, dilakukan rujukan.

Setelah mendapatkan pengobatan, pasien harus tetap dipantau.

Hingga akhirnya kondisi kesehatannya membaik atau terkendali.

Satu mata rantai yang putus dapat mengurangi manfaat mata rantai sebelumnya.

Pemeriksaan yang menemukan hipertensi menjadi kurang bermakna jika pasien tidak mendapatkan penanganan.

Rujukan menjadi kurang bermakna jika pasien tidak pernah sampai ke rumah sakit.

Obat menjadi kurang bermakna jika pasien tidak mampu mempertahankan kepatuhan pengobatan.

Karena itu, CKG harus bergerak dari cek kesehatan menuju rantai perawatan kesehatan.

 Ketika kesehatan bertemu persoalan ekonomi 

Ada alasan mengapa seseorang yang sudah mengetahui dirinya sakit masih memilih menunda pengobatan.

Kadang bukan karena tidak peduli.

Kadang karena pilihan hidupnya sempit.

Seorang pekerja harian mungkin harus memilih antara datang ke fasilitas kesehatan atau mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Seorang warga yang tinggal jauh dari rumah sakit mungkin harus menghitung ongkos perjalanan sebelum menerima rujukan.

Seseorang tanpa JKN mungkin memikirkan biaya pemeriksaan berikutnya sebelum melangkah.

Karena itu, persoalan tindak lanjut CKG tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengatakan kepada masyarakat, "Anda harus berobat."

Sistem juga harus bertanya:

Apakah mereka mampu berobat?

Apakah layanan tersedia?

Apakah obat tersedia?

Apakah rujukannya mudah?

Apakah pasien mampu datang kembali?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena penyakit tidak menunggu kesiapan sistem.

Tekanan darah tinggi tetap berlangsung.

Gula darah tetap meningkat.

Risiko komplikasi terus ada.

Sementara pasien dapat berhenti di tengah perjalanan.

 Dari “merasa sehat” menjadi “mau menjaga kesehatan”

Pada akhirnya, perubahan yang diharapkan dari CKG bukan hanya perubahan angka pada laporan pemerintah.

Perubahan pertama justru terjadi di dalam diri seseorang.

Lidya mengalaminya.

Sebelum pemeriksaan, ia menggunakan rasa sehat sebagai ukuran.

Setelah pemeriksaan, ia mulai menggunakan pengetahuan sebagai dasar untuk menjaga diri.

Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Rasa sehat mengatakan, "Saya tidak apa-apa karena tidak sakit."

Pengetahuan kesehatan mengatakan, "Saya harus memeriksa untuk mengetahui."

Perubahan cara berpikir itulah yang menjadi inti pencegahan.

Puskesmas Putri Ayu pun mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan setidaknya satu kali dalam setahun.

Pelayanan promotif dan preventif tidak dimaksudkan untuk menunggu penyakit datang.

Justru sebaliknya.

Masyarakat didorong mengenali risiko sebelum penyakit berkembang.

Dan jika penyakit sudah ditemukan, pengobatan harus segera dimulai.

 *Jika pemeriksaan gratis, perjalanan setelahnya juga harus diperhatikan* 

Nama programnya adalah Cek Kesehatan Gratis.

Namun, makna "gratis" akan menjadi jauh lebih kuat jika tidak berhenti pada meja pemeriksaan.

Gratis harus menjadi pintu masuk.

Setelah pintu itu terbuka, masyarakat membutuhkan jalan yang jelas.

Dari hasil pemeriksaan menuju konseling.

Dari konseling menuju pengobatan.

Dari pengobatan menuju pemantauan.

Dari pemantauan menuju kondisi kesehatan yang terkendali.

Karena itu, tantangan terbesar CKG ke depan bukan hanya bagaimana mencapai angka cakupan yang lebih tinggi.

Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan setiap temuan memiliki tindak lanjut.

Bagaimana memastikan pasien tidak hilang setelah menerima hasil pemeriksaan.

Bagaimana memastikan petugas tidak kewalahan ketika jumlah temuan meningkat.

Bagaimana memastikan obat tersedia.

Bagaimana memastikan rujukan tidak menjadi perjalanan yang terlalu panjang.

Dan bagaimana memastikan masyarakat memahami bahwa penyakit yang belum terasa bukan berarti penyakit yang tidak ada.

 *Dari satu angka tekanan darah, menuju kesempatan menyelamatkan kehidupan* 

Ummi Kalsum mengingatkan bahwa dampak terbesar CKG mungkin tidak terlihat pada hari pemeriksaan.

Dampaknya baru dapat terlihat ketika seseorang yang berisiko berhasil mencegah penyakit menjadi lebih berat.

Ketika tekanan darah tinggi dapat dikendalikan sebelum memicu komplikasi.

Ketika faktor risiko diabetes ditangani sebelum berkembang.

Ketika seseorang tidak sampai mengalami stroke, gagal ginjal atau serangan jantung karena risikonya telah ditemukan dan ditangani lebih awal.

Di situlah pencegahan menjadi penyelamatan.

Bukan karena seseorang berhasil diselamatkan di ruang gawat darurat.

Melainkan karena ia tidak pernah sampai ke sana.

Itulah alasan mengapa keberhasilan CKG membutuhkan ukuran yang lebih panjang daripada sekadar jumlah peserta.

Hari ini mungkin yang terlihat adalah angka cakupan.

Besok yang harus dicari adalah angka pasien yang tertangani.

Kemudian angka pasien yang patuh.

Lalu angka penyakit yang terkendali.

Dan dalam jangka panjang, angka komplikasi serta kematian yang berhasil ditekan.

 Lidya dan sebuah kesempatan kedua

Lidya mungkin hanya satu orang dari lebih dari seratus ribu warga Kota Jambi yang telah menjalani CKG.

Tetapi cerita satu orang cukup untuk memperlihatkan apa yang sering tersembunyi di balik angka.

Ia datang dengan keyakinan bahwa dirinya sehat.

Ia pulang membawa hasil yang tidak ia duga.

Ada keterkejutan.

Ada kekhawatiran.

Tetapi ada pula sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan.

Kesempatan untuk memperbaiki pola makan.

Kesempatan untuk beristirahat lebih cukup.

Kesempatan untuk mengikuti arahan petugas kesehatan.

Kesempatan untuk menjalani pengobatan.

Kesempatan untuk mencegah kondisi menjadi lebih berat.

Dan kesempatan untuk tidak terlambat.

"Saya lebih sadar kalau kita merasa sehat belum tentu tubuh kita benar-benar sehat," kata Lidya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa penyakit tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang ia datang tanpa terasa.

Tidak mengetuk.

Tidak mengeluh.

Tidak mengganggu aktivitas.

Hingga suatu hari sebuah pemeriksaan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus diperhatikan.

Maka, ketika tubuh masih terasa sehat, justru itulah saat yang paling tepat untuk bertanya:

Benarkah saya sehat?

Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah perjalanan hidup seseorang.

Karena CKG pada akhirnya bukan tentang berapa banyak orang yang duduk di kursi pemeriksaan.

Bukan tentang berapa banyak alat yang digunakan.

Bukan pula tentang berapa banyak hasil pemeriksaan yang berhasil dicatat.

Makna terdalam CKG terletak pada satu perjalanan manusia: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi peduli, dari peduli menjadi bertindak, dan dari tindakan menjadi kesehatan yang lebih baik.

Di situlah "Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati" menemukan maknanya.

Cek adalah awal.

Cegah adalah tujuan.

Obati adalah kewajiban.

Dan tuntas berarti tidak membiarkan seseorang berjalan sendirian setelah mengetahui bahwa tubuhnya membutuhkan pertolongan.

Lidya sudah mengambil langkah pertama.

Ia datang sebelum sakit.

Ia menemukan risiko sebelum terlambat.

Kini, tantangannya adalah memastikan langkah berikutnya tetap berjalan.

Sebab pada akhirnya, sebuah program kesehatan tidak benar-benar berhasil ketika seseorang selesai diperiksa.

Ia berhasil ketika seseorang yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang berisiko mendapatkan pertolongan, yang sakit mendapatkan pengobatan, dan yang telah diobati mampu mempertahankan kesehatannya.

Karena mungkin, satu pemeriksaan hari ini bukan hanya menemukan satu penyakit.

Ia sedang membeli waktu-waktu untuk mencegah, waktu untuk mengobati, dan mungkin waktu untuk menyelamatkan sebuah kehidupan.

Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.