AKURAT.CO Stok senjata Amerika Serikat dilaporkan menipis setelah perang Iran menguras persediaan amunisi, tetapi pemerintahan Presiden Donald Trump justru bergerak dengan rencana penjualan senjata bernilai miliaran dolar kepada Israel dan Arab Saudi. Kondisi ini menambah tekanan terhadap lini produksi senjata Amerika Serikat yang juga harus memenuhi kebutuhan militer AS.

Pemerintah AS sebelumnya menyetujui potensi penjualan senjata senilai USD 5 miliar kepada Arab Saudi, termasuk bom dan sistem pemandu JDAM-ER. Pada saat yang sama, pemerintahan Trump tengah menyiapkan paket persenjataan sekitar USD 2,8 miliar untuk Israel, yang menurut laporan The Washington Post dan Reuters mencakup puluhan ribu bom berbobot 2.000 pon.

Rencana tersebut muncul ketika pengawasan terhadap persediaan senjata AS semakin meningkat. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan perang AS dengan Iran telah menelan biaya sekitar USD 38 miliar hingga Agustus 2026 dan biaya tersebut dapat bertambah sekitar USD 3 miliar per bulan. Perang juga telah menguras sejumlah persediaan amunisi berpresisi tinggi militer AS.

Trump Siapkan Puluhan Ribu Bom untuk Israel

Menurut laporan The Washington Post yang kemudian dikonfirmasi Reuters, pemerintahan Trump sedang mempersiapkan paket persenjataan senilai sekitar USD 2,8 miliar untuk Israel.

Paket tersebut dilaporkan mencakup sekitar 40.000 bom berbobot 2.000 pon atau sekitar 907 kilogram. Reuters menyebut paket itu mencakup 20.000 bom MK-84 dan 20.000 bom BLU-117.

Bom seberat 2.000 pon merupakan salah satu jenis munisi udara dengan daya hancur besar. Penggunaan jenis senjata tersebut oleh Israel dalam konflik di Gaza sebelumnya telah menjadi sorotan karena dikaitkan dengan sejumlah serangan yang menimbulkan korban sipil.

Menurut laporan The Washington Post, paket baru tersebut akan menjadi salah satu transfer terbesar munisi 2.000 pon kepada Israel dalam beberapa tahun terakhir. Rencana tersebut juga dilaporkan menggunakan dana pembayar pajak Amerika Serikat.

Namun, paket tersebut belum menjadi pengiriman final. Informasi mengenai rencana penjualan telah disampaikan secara informal kepada komite Kongres terkait, sementara persetujuan formal dan proses pemberitahuan masih menjadi bagian dari mekanisme penjualan senjata AS ke negara asing.

Arab Saudi Juga Dapat Paket Senjata USD 5 Miliar

Beberapa hari sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan senjata senilai USD 5 miliar kepada Arab Saudi.

Paket tersebut mencakup sistem Joint Direct Attack Munition-Extended Range (JDAM-ER), bom, sumbu peledak, target detector, suku cadang serta peralatan pendukung. Sistem JDAM-ER memungkinkan bom konvensional dilengkapi sistem pemandu dan memiliki jangkauan lebih jauh.

Penjualan kepada Riyadh berlangsung ketika situasi keamanan di kawasan semakin memburuk. Houthi yang didukung Iran telah meningkatkan aktivitas militernya di Yaman dan kawasan Laut Merah, sementara Arab Saudi menghadapi ancaman terhadap wilayah dan infrastruktur energinya.

Pada 15 September, Arab Saudi bahkan mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Makkah dan Jeddah, setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi. Peringatan tersebut kemudian dicabut tanpa laporan mengenai dampak langsung di wilayah yang menjadi sasaran peringatan.

Kongres AS Bisa Meninjau Penjualan Senjata

Penjualan senjata kepada Saudi dan Israel tetap menghadapi mekanisme pengawasan Kongres AS.

Setelah pemberitahuan resmi, anggota Kongres memiliki periode tertentu untuk meninjau transaksi tersebut. Senator juga dapat mengajukan resolusi penolakan bersama untuk memaksa pemungutan suara terhadap sebuah kesepakatan.