Jakarta, VIVA – Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengajak publik memaknai penataan ulang Republik sebagai upaya menemukan kembali jalan pulang ke rumusan awal pendirian negara. Pandangan ini disampaikan dalam orasi kemerdekaan di Universitas Harkat Negeri, 17 Agustus 2026.

Baca Juga

"Warga membayar pajak karena takut sanksi adalah upaya paksa. Warga membayar pajak karena sadar itu iuran membiayai hidup bersama adalah usaha bersama. Warga memilih pemimpin karena telah menerima uang atau janji adalah upaya paksa terselubung. Warga memilih pemimpin karena ingin sungguh-sungguh mencari yang terbaik adalah usaha bersama," kata Sudirman dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 18 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perbedaan dua watak itu, menurut Sudirman, terletak pada dorongan di baliknya, bukan pada hasil yang tampak di permukaan. Dalam usaha bersama, rakyat menjadi pelaku yang menggabungkan modal, sumber daya, dan kapasitasnya untuk kepentingan bersama, bukan sekadar objek dari kebijakan yang dirancang dari atas.

Baca Juga

Pembangunan jiwa disebut lebih dulu dalam lirik lagu Indonesia Raya sebelum pembangunan raga. Jiwa yang dimaksud Sudirman adalah nilai seperti kejujuran, keengganan mencuri, rasa malu, integritas, dan keberanian karena benar. Tanpa jiwa yang lurus, kemajuan fisik dan ekonomi sebesar apa pun akan bergerak seperti kapal tanpa kompas.

"Hari-hari ini, kondisi 'kapal tanpa kompas' tengah marak. Kelincahan otak diunggulkan, kebeningan nurani ditinggalkan. Kekuatan otot dipamerkan, tapi asas kewajaran dipinggirkan," ujar Sudirman.

Baca Juga

Ia juga menyoroti pendapatan per kapita naik empat kali lipat, dari USD 463 pada 1998 menjadi USD 5.083 pada 2025. Indeks Pembangunan Manusia meningkat dari 66,5 menjadi 75,9 sepanjang 2010–2025. 

Namun kelas menengah menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, skor PISA turun dari 402 pada 2009 menjadi 359, dan Indeks Persepsi Korupsi, Indeks Demokrasi, serta Indeks Kebebasan Pers sama-sama menurun dalam satu dekade terakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Pembangunan yang bersifat badaniah, ekonomi, dan fisik, terus mengalami kemajuan. Tapi, di sisi lain, pembangunan jiwa, pembangunan tata-kelola, penegakan hukum, pembangunan moral dan etik, sedang terus mengalami kemunduran," ujarnya.

Bagi Sudirman, usaha bersama tidak bisa tumbuh jika kekuasaan publik dikelola sebagai aset pribadi untuk diri, keluarga, dan kelompok tertentu. Ia mengajak pengurus negara di eksekutif, legislatif, dan yudikatif mengembalikan fungsi institusi sesuai maksud awal pendiriannya, dan mendorong calon pemimpin serta wakil rakyat maju karena kesadaran memperbaiki hidup bersama, bukan karena daya tarik kekuasaan. 

Halaman Selanjutnya

"Keteladanan pemimpin, adalah syarat agar rakyat percaya usaha bersama itu nyata, bukan sebatas slogan," katanya.