Sukkha Citta Hadir di Plaza Indonesia, Mengurai Perjalanan Slow Fashion dari Ladang Kapas
Liputan6.com, Jakarta - Sebuah ruang ritel baru membuka cara pandang berbeda tentang pakaian. Adalah Sukkha Citta yang menghadirkan perjalanan slow fashion dari hulu ke hilir ke jantung belanja mewah Jakarta. Sejak 2016, jenama ini konsisten menautkan praktik ramah lingkungan ke setiap helai busana yang mereka hadirkan.
Mengacu ThredUp Resale Report 2025, konsumen—terutama generasi muda—kian mempertimbangkan aspek keberlanjutan saat berbelanja. Mereka mulai melihat pakaian sebagai bagian dari nilai hidup yang lebih besar, bukan semata penanda status atau tren musiman.
Alih-alih sekadar menampilkan koleksi, ruang ini mengajak pengunjung menelusuri asal-usul sehelai pakaian: dari kapas yang dipanen, proses pewarnaan alami, hingga karya yang berdiri sejajar secara visual dengan produk fesyen global di etalase mal.
Dari Kapas Kasmini ke Etalase Mewah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
Perbesar
Salah satu kisah yang diangkat adalah perjalanan kapas milik Ibu Kasmini, seorang petani dari Jawa Timur. Panen di ladang kecilnya tidak berhenti di desa, melainkan menempuh lintasan panjang hingga menjadi bagian dari karya yang dikenakan figur dunia seperti pemain selo Yo-Yo Ma dan ahli oseanografi Dr. Sylvia Earle.
Narasi tersebut menyoroti kontras yang kini kian nyata: dari tangan petani ke butik-butik brand mewah global yang berdampingan dalam satu ruang konsumsi. Di tengah gemerlap ritel modern, asal-usul bahan dan proses pengerjaan kembali ditempatkan sebagai inti cerita.
Melalui kurasi ruang, pengunjung diajak melihat bahwa perjalanan hulu—panen, pemintalan, hingga pewarnaan—terhubung langsung dengan pengalaman hilir di butik. Benang merah antara desa dan kota dihadirkan bukan sebagai romantisasi, melainkan sebagai realitas rantai nilai yang lengkap.
Kerinduan Akan Asal-Usul Busana
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317741/original/084146600_1786068848-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_1.jpg)
Perbesar
Gerai permanen ini berangkat dari pengalaman pop-up sementara yang menunjukkan antusiasme kuat terhadap keterlacakan pakaian. Pertanyaan sederhana namun krusial—dari mana kain berasal—menemukan panggungnya di ruang ritel modern.
"Apa yang bermula sebagai pop-up sementara menunjukkan kepada kami betapa dalamnya kerinduan Jakarta akan hubungan nyata dengan apa yang mereka kenakan. Berada di toko ini selama musim panen berarti kapas yang ada di tangan Anda dan kapas yang ada di ladang kami adalah kisah yang sama, yang terjadi pada saat yang sama,"
kata Pendiri dan CEO SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch.
Pernyataan itu menegaskan relevansi jejak asal-usul busana di tengah budaya belanja kontemporer. Ruang ini dirancang untuk mempertemukan momen panen dan momen membeli, sehingga pengalaman menyentuh kain selaras dengan realitas yang berlangsung di ladang pada waktu yang sama.
Proses Alami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317742/original/017798700_1786068852-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_7.jpg)
Perbesar
Warna-warna yang digunakan bersumber dari alam. Biru hadir dari fermentasi daun indigo selama hampir tiga minggu, merah muda dari kayu secang, sementara rona keemasan diperoleh dari buah Terminalia belerica. Setiap nuansa lahir dari proses yang sabar dan terukur.
Di hulu, kapas dibudidayakan dengan sistem tumpang sari. Jagung, cabai, dan kacang hijau ditanam berdampingan, mencerminkan kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan tanah dan keberlanjutan lahan.
Di tahap pengerjaan, beberapa kain batik membutuhkan waktu hingga 40 hari untuk diselesaikan. Adapun tenun ikat dirajut berlandaskan pola yang telah hidup di ingatan para penenun bahkan sebelum benang pertama disentuh, menghadirkan kontinuitas teknik lintas generasi.
Filosofi produk dirangkum dalam sebutan SukkhaCitta: setiap pakaian sebagai "perpustakaan yang bisa dikenakan". Di dalamnya tersimpan cerita tentang tanah, doa, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan para perempuan; nama para pembuatnya turut dicantumkan sebagai bentuk penghormatan.
Koleksi KAPAS dan IKATAN, Interior Bernapas Ulang
Bersamaan dengan pembukaan ruang baru, dua koleksi diperkenalkan. KAPAS merayakan musim panen kapas regeneratif, menonjolkan bahan yang ditanam dengan pendekatan ramah tanah dari awal siklusnya.
IKATAN dihadirkan untuk menghormati tradisi tenun ikat yang diwarnai secara alami. Koleksi ini menekankan kesinambungan teknik dan palet warna yang bersumber dari tumbuhan, diramu untuk menghadirkan estetika yang lembut namun berkarakter.
Filosofi keberlanjutan juga meresap hingga ke interior toko. Material dari pop-up sebelumnya tidak dibuang, melainkan dihidupkan kembali dalam bentuk baru—pendekatan yang selaras dengan gagasan bahwa dalam dunia yang berkelanjutan, tidak ada yang benar-benar berakhir.