Surabaya -

Perkembangan otak anak yang cerdas dan optimal memerlukan kombinasi seimbang antara asupan nutrisi yang tepat serta stimulasi nyata. Hadirnya teknologi AI dan paparan layar menjadi tantangan bagi orang tua dalam mendukung tumbuh kembang si kecil.

Hal tersebut dibahas dalam talkshow edukatif rangkaian event Morinaga Door of Future yang digelar di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya. Talkshow bertajuk "AI Makin Pintar, Anak Kita Perlu Pintar Apa? Preparing Today for Tomorrow's Future Leaders" diisi narasumber Pediatric Lecturer yang juga dokter spesialis anak, dr. Sunny Mariana Samosir, Sp.A., M.Ked.Klin., dan Teacher, Academic Support & Marketing Coordination Koding Next Surabaya, Vally Valensia, M.Kom.

Menurut dr. Sunny, pada proses tumbuh kembang anak, nutrisi dan stimulasi menjadi bagian penting. Maka orang tua harus memaksimalkan keduanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentu kita sudah memulai kalau digembar-gemborkan 1.000 Hari Pertama, tentu sejak di dalam perut, kandungan. Begitu anak kita lahir, kita kepenginnya kasih nutrisi terbaik. Terutama di tahapan awal-awal usia anak ini karena nutrisi itu sangat penting untuk perkembangan otak," kata dr. Sunny di TP6, Sabtu (10/10/2026).

Hadirnya teknologi AI dan gadget kini membawa tantangan tersendiri bagi orang tua dalam menjaga pola hidup anak sehari-hari. Dominasi screen time yang menggeser waktu bermain hingga pola makan disinyalir dapat memengaruhi fungsi pencernaan serta tumbuh kembang si kecil.

"Jadi sekarang kita hidup kayaknya susah ya dilepaskan dari AI. Yang dewasa akan dicontoh oleh anak-anak. Kalau makan sambil pegang handphone enggak? Orang tua suka takut ya, 'Kalau aku kasih screen time ke anakku, anakku nanti mengalami gangguan perkembangan.' Padahal ada banyak sekali di balik itu," jelasnya.

Menurutnya, durasi screen time yang tak terkontrol berisiko menggantikan aktivitas penting anak, mulai dari bermain fisik hingga kebiasaan makan yang sehat. Dampaknya, perhatian anak tersedot ke layar saat makan sehingga memicu ketidakmampuan mengenali sinyal lapar dan kenyang.

"Kalau orang tua mau tidur pegang handphone enggak? Padahal harusnya kegiatan itu bisa kita gantikan dengan cara stimulasi anak dengan kegiatan sebelum tidur yang bermanfaat, seperti baca cerita untuk anak," ujarnya.

Dokter Sunny menilai, teknologi AI akan membantu kehidupan anak di masa depan jika dimanfaatkan dengan bijak. Kuncinya ada pada edukasi sejak dini agar anak memiliki kemampuan berpikir kritis dalam membuat pertanyaan maupun prompt yang akurat.

"Boleh, silakan. Jadi mungkin satu yang penting juga buat anak-anak, AI itu akan membantu, tapi kita harus mendidik anak tadi nyiapin prompt-nya untuk membikin pertanyaan yang betul. Dan itu sudah harus disiapkan sejak dini, karena di era ke depan anak-anak pasti tentu tidak akan bisa terlepas dari AI," paparnya.

Orang tua pun tak perlu khawatir bila anak belajar tentang AI. Teacher, Academic Support & Marketing Coordination Koding Next Surabaya, Vally Valensia mengatakan, kecanggihan AI mempermudah pengguna. Hanya dengan perintah sederhana, teknologi AI mampu mengeksekusi berbagai kebutuhan digital mulai dari pencarian informasi hingga pembuatan program.

"Dengan menggunakan AI, harapan kita sebagai orang tua ataupun pendamping belajar, mereka juga harus tahu yang namanya thinking, jadi logical thinking-nya. Kira-kira kamu mau pakai AI ini untuk apa, mendapatkan data apa, kemudian problem solving-nya. Kira-kira dari data ini informasinya benar atau enggak, karena enggak semua jawaban AI itu benar," kata Vally.

Vally mengatakan, sebagai orang tua tentu ingin anak-anak tidak membatasi diri untuk mencari tahu informasi apa pun. Namun, tetap memberikan bekal dengan informasi bahwa AI bisa digunakan untuk membantu, seperti pelajaran sekolah.

"Kamu boleh tanya, tapi tidak mencari jawaban. Tujuannya adalah berdiskusi," ujarnya.

Edukasi peran AI sangat penting agar anak tidak cuma mengandalkan hasil instan yang kerap kurang detail atau bahkan keliru. Melalui pendampingan yang tepat, AI justru bisa dimanfaatkan si kecil sebagai sarana berdiskusi untuk memperdalam pemahaman.

"Jadi mereka tidak bisa berpikir secara kritis, berusaha bisa mengerjakan secara step by step. Salah satunya adalah dengan memilah informasi, kemudian mereka juga harus bisa berpikir dan harus mencoba," urainya.

Talkshow ini menjadi salah satu rangkaian acara Morinaga Door of Future di Surabaya. Selain talkshow, terdapat sejumlah aktivitas menarik dan edukatif untuk orang tua dan anak, seperti lomba hingga games seru lainnya.

Hari kedua ini, acara diramaikan oleh lomba Baby Crawling, sesi seru dan ramai oleh orang tua dan si kecil. Lalu ada lomba Science & Technology kategori A (usia 1-3 tahun) dan kategori B (usia 4-6 tahun). Kemudian lomba selanjutnya yang dimeriahkan moms dan si kecil ada Kids Fashion Show Mommy & Me (usia 3-4 tahun), serta Kids Fashion Show kategori A (usia 5-6 tahun) dan kategori B (usia 7-9 tahun).

Morinaga Door of Future kali ini mengangkat perkembangan kecerdasan anak di tengah kemajuan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI). Orang tua diajak untuk mempersiapkan si kecil sejak dini, dengan fondasi nutrisi yang terbaik dan stimulasi agar mereka siap menghadapi masa depan yang berdampingan dengan teknologi.

Semakin sore dan malam, suasana semakin ramai dan seru. Apalagi ada penampilan fashion show dengan konsep yang unik dan inspiratif oleh orang tua dan anak.

Selain mengikuti kegiatan, pengunjung juga bisa memborong berbagai produk Morinaga dengan penawaran promo khusus selama acara. Morinaga Door of Future digelar di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya pada 9-11 Oktober 2026. Acara ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk alias free entry.

(akn/ega)