Tata Cara Sholat Meminta Hujan, Agar Hujan Langsung Turun Deras
Istisqa secara bahasa berarti meminta hujan. Dalam praktiknya, salat istisqa dilakukan sebagai bentuk penghambaan sekaligus pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Lantas, bagaimana tata cara salat istisqa?
Salat istisqa pada dasarnya dilaksanakan sebanyak dua rakaat dan memiliki kemiripan dengan salat Id dalam sejumlah tata caranya. Pelaksanaannya dianjurkan dilakukan secara berjamaah di tempat yang memungkinkan, seperti lapangan atau tempat terbuka.
Sebelum melaksanakan salat, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, bertobat, memperbanyak amal kebajikan, serta meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan. Hal tersebut menjadi bagian dari sikap merendahkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan.
Baca Juga: Doa Meminta Hujan, Dibaca saat Musim Kemarau Berkepanjangan
Setelah jamaah berkumpul, salat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat.
Pada rakaat pertama, imam melakukan takbiratul ihram kemudian membaca sejumlah takbir tambahan sebagaimana tata cara salat Id menurut pendapat yang digunakan. Setelah itu imam membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur'an, kemudian melanjutkan gerakan salat hingga selesai.
Pada rakaat kedua, imam melakukan takbir ketika berdiri dari sujud untuk memulai rakaat kedua, kemudian dilanjutkan dengan sejumlah takbir tambahan. Setelah membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur'an, salat diteruskan hingga salam.
Setelah salat selesai, imam biasanya menyampaikan khutbah istisqa. Dalam khutbah tersebut, umat diajak untuk memperbanyak istighfar, bertobat, meningkatkan ketakwaan, serta memohon ampun kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang dapat dibaca ketika memohon hujan adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Allahumma asqina ghaithan mughiitsan, marii'an marii'an, naafi'an ghaira dhaarrin, 'aajilan ghaira aajil.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda.”
Selain berdoa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istighfar. Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–11:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Artinya:
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’”
Namun, penting dipahami bahwa salat istisqa bukanlah cara untuk memaksa hujan turun seketika atau menjamin hujan langsung turun deras setelah ibadah dilakukan. Hujan merupakan bagian dari ketetapan dan kehendak Allah SWT.
Baca Juga: Hukum Mencatut Nama Tokoh untuk Mempromosikan Karya Ilmiah dalam Islam
Karena itu, salat istisqa sebaiknya dipahami sebagai bentuk doa dan ikhtiar spiritual ketika masyarakat menghadapi kekeringan. Di saat yang sama, usaha menjaga sumber air, menghemat penggunaan air, memperbaiki lingkungan, serta mengikuti langkah mitigasi kekeringan tetap perlu dilakukan.
Dengan demikian, ketika kemarau berkepanjangan terjadi, umat Islam dapat memadukan ikhtiar lahir dan batin: menjaga lingkungan dan sumber daya air sekaligus memperbanyak doa, istighfar, sedekah, serta melaksanakan salat istisqa. Harapannya, Allah SWT memberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh makhluk.