Bagikan:

YOGYAKARTA – Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) menjadi host Asian Playwrights Meeting (APM) 2026. APM ialah forum yang mempertemukan para penulis naskah drama, seniman teater, dan pegiat seni pertunjukan dari berbagai negara di Asia. Digelar pada 26-31 Juli 2026, rangkaian acara ini menghadirkan beragam pembacaan lakon dan diskusi terkait proses penulisan naskah, bentuk teater, budaya dan realitas dari mana mereka muncul.

Salah satu karya yang dipentaskan dalam tajuk acara tersebut adalah Crossing Sudirman Bridge produksi Teater Ruang Terbuka Hijau. Berbeda dari pembacaan naskah teater pada umumnya, pertunjukan ini berlangsung di ruang terbuka pada sore hari dengan merespons kawasan di sekitar Jembatan Gondolayu atau yang kini juga dikenal sebagai Jembatan Sudirman, Yogyakarta. Seluruh pertunjukan disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris sehingga dapat diikuti oleh peserta internasional yang hadir dalam APM 2026.

Disutradarai Irfanuddien Ghozali dengan terjemahan bahasa Inggris oleh Tola Agusta Jufany, Crossing Sudirman Bridge merupakan pengembangan dari praktik artistik Teater Ruang Terbuka Hijau. Pembacaan naskah lakon ini menawarkan pendekatan dramaturgi yang berbeda dengan teater romantik yang identik dengan gedung pertunjukan dan pementasan malam hari. Sebaliknya, karya mereka memanfaatkan ruang publik pada siang atau sore hari serta menghubungkan cerita lokal dengan persoalan sosial yang masih relevan hingga kini.

pertunjukan pembacaan naskah lakon oleh Teater Ruang Terbuka Hijau di Jembatan Gondolayu
Ilustrasi poster pertunjukan pembacaan naskah lakon oleh Teater Ruang Terbuka Hijau di Jembatan Gondolayu (Sumber: Dok. spesial)

Pertunjukan ini mengambil inspirasi dari lakon Jembatan Gondolayu karya Nasjah Djamin yang ditulis pada 1957. Melalui adaptasi tersebut, penonton diajak melihat kembali Yogyakarta pada masa transisi setelah tidak lagi menjadi ibu kota Republik Indonesia. Kisah dalam lakon menghadirkan tujuh tokoh yang hidupnya dipertemukan oleh kemiskinan, keterpinggiran, harapan, hingga pilihan-pilihan penting dalam menjalani kehidupan.

Tawaran mutakhir dari pertunjukan ini terletak pada cara penonton mengalami cerita. Pembacaan lakon dilakukan di dua ruang terbuka hijau yang berada di kampung sisi utara dan selatan Jembatan Gondolayu. Setelah sesi pembacaan pertama selesai, seluruh peserta bersama-sama berjalan melintasi jembatan menuju lokasi berikutnya untuk melanjutkan pembacaan. Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan menjadi bagian penting dari dramaturgi yang menghubungkan teks, ruang kota, dan pengalaman nyata para peserta.

Warga Kampung Gondolayu Lor dan Kampung Ledok Code juga terlibat menjadi kolaborator. Kehadiran mereka membuat masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut membangun pengalaman artistik bersama. Dengan cara ini, ruang kota diperlakukan sebagai bagian penting dari pertunjukan, bukan sekadar latar belakang cerita.

pertunjukan pembacaan naskah lakon oleh Teater Ruang Terbuka Hijau di Jembatan Gondolayu
Ilustrasi pertunjukan pembacaan naskah lakon oleh Teater Ruang Terbuka Hijau ajak penonton menyusuri Jembatan Gondolayu (Sumber: Dok. spesial)

Melalui pendekatan tersebut, Jembatan Gondolayu tidak diposisikan sebagai dokumen sejarah semata. Lakon ini justru digunakan sebagai cara membaca kembali wajah Yogyakarta masa kini. Penonton diajak merefleksikan bagaimana sebuah jembatan menyimpan ingatan kota, mempertemukan berbagai pengalaman hidup masyarakat, sekaligus mengingatkan bahwa isu ketimpangan, marginalisasi, dan hubungan antarmanusia masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:


Berjalan bersama, membaca bersama, dan mendengarkan bersama menjadi pengalaman utama yang ditawarkan pertunjukan ini. Jembatan Gondolayu bukan hanya menghubungkan dua sisi Sungai Code, tetapi juga mempertemukan dua kampung, dua ruang pembacaan, serta dua masa yang berbeda, yakni Yogyakarta pada 1957 saat naskah ditulis dan Yogyakarta masa kini.

“Pendekatan ini ingin menunjukkan bahwa karya teater dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali ruang publik sebagai tempat berbagi cerita dan memaknai kota”, tutur Irfanuddien Ghozali pada Minggu, 26 Juli.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+