Tim ahli konservasi internasional tinjau percepatan pembangunan TN Way Kambas
Lampung Selatan (ANTARA) - Tim ahli konservasi internasional bersama Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra meninjau langsung percepatan pembangunan sarana dan prasarana kawasan konservasi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Kegiatan itu melibatkan delegasi Elephant Nature Park (ENP) Thailand, Saengduean Chailert, serta tim ahli Wilderness (PT Living Landscapes Indonesia) dipimpin Keren Brooks.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan infrastruktur TNWK berjalan sesuai rencana, sekaligus memenuhi prinsip konservasi dan standar pelestarian lingkungan yang mendukung upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu pusat konservasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) bertaraf dunia.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK Brigjen TNI Sriyanto, sebagaimana dikonfirmasi di Lampung Selatan, Minggu, mengatakan pendampingan terhadap tim ahli internasional merupakan bagian dari upaya menyelaraskan pembangunan dengan kebutuhan konservasi.
“Peninjauan progres percepatan pembangunan Taman Nasional Way Kambas oleh Tim ENP Thailand dan Tim Wilderness merupakan bentuk perhatian dan koordinasi dalam rangka memastikan perkembangan pembangunan sarana dan prasarana di kawasan TNWK berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan,” katanya.
Menurut dia, koordinasi lintas pihak diperlukan agar pembangunan sarana dan prasarana dapat dilakukan secara tepat sasaran tanpa mengabaikan karakteristik kawasan konservasi.
Sriyanto yang juga Kapoksahli Pangdam XXI/Radin Inten menegaskan percepatan pembangunan tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian melalui pengawasan terhadap aspek teknis, lingkungan, keamanan, serta manfaatnya bagi masyarakat sekitar.
“Komunikasi dan koordinasi yang erat menjadi kunci agar target besar pemerintah dapat terwujud tanpa terhambat kendala teknis,” ujarnya.
Transformasi TNWK, kata dia, tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan ekosistem konservasi dan sistem mitigasi interaksi antara manusia dengan gajah sumatra.
Transformasi tersebut antara lain diarahkan pada peningkatan kenyamanan dan kesejahteraan gajah sumatra melalui penyediaan fasilitas air bersih dan tempat tinggal yang layak, penguatan mitigasi interaksi satwa dan manusia melalui sistem berlapis, serta pembangunan sarana wisata edukasi yang ramah lingkungan.
Salah satu fasilitas yang dikembangkan berupa skywalk yang terintegrasi dengan menara pandang untuk memberikan pengalaman edukasi dan wisata tanpa mengganggu habitat satwa.
Selain itu, pelibatan masyarakat sekitar dan penyediaan sarana pembelajaran di pos-pos pantau menjadi bagian dari strategi membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga habitat dan keberlangsungan populasi gajah Sumatra.
Seluruh tahapan pembangunan dan pengembangan TNWK akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan pembangunan berjalan seimbang dengan kepentingan konservasi, keselamatan, edukasi, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, TNWK diharapkan tidak hanya menjadi kawasan perlindungan gajah sumatra, tetapi juga dapat berkembang sebagai model konservasi yang mengintegrasikan kelestarian alam, ilmu pengetahuan, budaya, pariwisata, dan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus budayawan Lampung Ansori Djausal menilai pengembangan TNWK memiliki nilai strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara rujukan konservasi satwa dunia.
Ia mengatakan keberadaan TNWK merupakan hasil dari perjalanan panjang konservasi di Lampung, termasuk perubahan kawasan bekas hak pengusahaan hutan (HPH) menjadi kawasan konservasi pada awal 1980-an dan upaya penyelamatan populasi gajah melalui kegiatan Tata Liman pada 1986.
“Way Kambas yang sekarang telah menjadi kawasan konservasi yang penting dengan Pusat Konservasi Badak. Konservasi gajah pertama di Indonesia tidak lepas dari keberhasilan mengubah kawasan bekas HPH menjadi kawasan konservasi sebagai Taman Nasional awal 1980-an,” ujar dia.
Dia menjelaskan, pengembangan TNWK harus tetap menempatkan konservasi sebagai prioritas, sekaligus membuka ruang bagi penguatan potensi pariwisata dan pengenalan budaya Lampung kepada masyarakat internasional.
Menurutnya, keberhasilan menjadikan TNWK sebagai percontohan konservasi gajah dunia membutuhkan dukungan berbagai pihak serta komitmen jangka panjang.
“Perlu mendukung upaya konservasi, terlebih menjadi percontohan dunia yang berada di Indonesia dalam pengembangan dan pelestarian satwa seperti gajah Sumatra,” ujarnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tim ahli internasional tinjau percepatan pembangunan TN Way Kambas
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.