Nanning (ANTARA) - Saat memasuki paviliun Timor-Leste, para pengunjung disambut oleh gambar seekor paus yang melompat ke permukaan air pada latar utama paviliun.

Di sepanjang dinding, terpampang panorama aktivitas panen kopi yang menampilkan masyarakat Timor-Leste mengenakan pakaian tradisional berwarna cerah di tengah perkebunan kopi yang hijau dan rimbun.

Mereka tampak memegang buah kopi merah yang baru dipetik, sementara keranjang-keranjang anyaman mereka dipenuhi hasil panen.

"Saya tidak pernah tahu bahwa Timor-Leste memiliki kopi yang sangat bagus dan bahwa paus bermigrasi melintasi perairannya," ujar seorang pengunjung setelah mengunjungi paviliun tersebut.

Dia mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang sebuah negara yang sebelumnya kurang dia kenal. "Melalui Pameran China-ASEAN inilah saya berkesempatan untuk mengenal Timor-Leste lebih jauh."

Pameran China-ASEAN (China-ASEAN Expo/CAEXPO) ke-23 digelar dari 17 hingga 21 September 2026 di Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi.

Tahun ini, jajaran bendera di luar Nanning International Convention and Exhibition Center turut menampilkan bendera Timor-Leste, yang menandai pertama kalinya negara itu hadir sebagai tuan rumah bersama (co-host) dalam pameran itu, sekaligus menjadi momen perdana berkumpulnya 11 negara anggota ASEAN di Nanning sejak Timor-Leste bergabung dengan ASEAN.

Bagi banyak pengunjung, perkenalan dengan Timor-Leste bermula dari secangkir kopi.

Keterlibatan Timor-Leste dalam Pameran China-ASEAN bukanlah hal baru. Sebelumnya, negara tersebut telah berpartisipasi dalam berbagai aktivitas terkait pameran sebagai pengamat.

Setelah bergabung dengan ASEAN pada 2025, Timor-Leste untuk kali pertama mengoordinasikan sejumlah perusahaan untuk menampilkan produk unggulan di area pameran komoditas, menggelar kegiatan promosi investasi dan perdagangan selama pameran berlangsung, serta mengirimkan perwakilan Kamar Dagang dan Industri untuk menghadiri KTT Bisnis dan Investasi China-ASEAN serta pertemuan tahunan Dewan Bisnis.

Budi daya kopi memiliki sejarah panjang di Timor-Leste, dengan produksi organik menjadi salah satu ciri khas kopinya. Selama bertahun-tahun, kopi Timor-Leste terutama diekspor ke sejumlah pasar mancanegara seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

"Paviliun ini menarik banyak pengunjung, dan saya berharap semakin banyak orang mengenal serta menyukai kopi Timor-Leste," sebut Zania Abuk Da Costa, seorang peserta pameran asal Timor-Leste yang baru pertama kali berkunjung ke China. Dia berharap pameran ini dapat membantu lebih banyak konsumen China mengenal kopi Timor-Leste dan berharap untuk dapat kembali berpartisipasi dalam pameran tahun depan.

Selain kopi, paviliun tersebut juga menampilkan berbagai produk teknologi pertanian seperti pencatat data (data logger) dan sensor cuaca (weather sensor), yang mampu mengumpulkan data mengenai kecepatan angin, curah hujan, serta arah angin, serta memantau radiasi matahari.

"Kami berharap dapat memperkenalkan produk dan solusi pemantauan meteorologi Timor-Leste kepada lebih banyak orang serta menemukan mitra potensial melalui pameran ini," kata Santiago Da Silva, peserta pameran.

Kopi, kerajinan tangan, dan peralatan teknologi tersebut memberikan gambaran yang lebih beragam mengenai negara kepulauan di Asia Tenggara itu, sekaligus mendekatkan produk-produknya ke pasar China.

Di area pameran "City of Charm", Menteri Perdagangan dan Industri Timor-Leste Filipus Nino Pereira memotong pita peresmian stan Baucau. Dia menyebutkan, "Ini bukan hanya pembukaan sebuah stan, melainkan juga menjadi momen penting untuk menampilkan produk-produk dan budaya Timor-Leste serta mendorong integrasi ekonomi regional."

Bagi pelaku usaha Timor-Leste, keikutsertaan dalam pameran itu juga merupakan kesempatan untuk menjajaki pasar baru.

Pewarta: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.