Senin, 19 Oktober 2026 - 06:20 WIB

Prancis, VIVA – Aksi protes di berbagai wilayah di Prancis pada Sabtu (17/10) waktu setempat berujung pada kericuhan. Sejumlah bangunan dibakar, sejumlah toko-toko mewah dijarah di berbagai wilayah di Prancis. 

Baca Juga

Aksi protes tersebut membuat polisi menembakkan gas air mata ke arah massa. Bentrokan juga dilaporkan di berbagai wilayah seperti di Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers. Hingga Minggu, saat petugas mulai membersihkan sisa-sisa kerusuhan, jumlah orang yang ditangkap telah mencapai lebih dari 1.800 orang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kerusuhan ini menjadi ujian terbaru bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron, di tengah berbagai persoalan yang dihadapi Prancis, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga

Aksi protes tersebut bermula pada September, dipelopori oleh para pelajar yang marah terhadap kondisi sekolah menengah mereka setelah libur musim panas.

Namun, aksi tersebut kemudian meluas karena semakin banyak kelompok masyarakat yang ikut turun ke jalan. Mereka memprotes tingginya biaya hidup yang semakin membebani kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

Aksi protes yang terjadi di Prancis ini menjadi sorotan dunia. Berikut hal-hal yang perlu diketahui mengenai gelombang protes tersebut seperti dilansir dari laman The Independent UK, Senin (19/10/2026). 

Awal Mula Aksi Protes

Demonstrasi pertama kali pecah pada September di sebuah sekolah menengah di Creteil, wilayah tenggara Paris. Aksi itu dipicu oleh kekurangan tenaga pengajar dan staf sekolah.

Dari sana, aksi mogok belajar, pemblokiran akses sekolah, dan demonstrasi menyebar ke sejumlah wilayah pinggiran Paris, sebelum meluas ke berbagai daerah di Prancis, termasuk kota-kota kecil. Ratusan sekolah terpaksa ditutup akibat kerusakan fasilitas atau serangan terhadap staf sekolah.

Para pelajar mengeluhkan minimnya fasilitas dan sumber daya di sekolah mereka. Banyak sekolah memiliki bangunan yang sudah rusak dan kekurangan tenaga pengajar, terutama di kawasan berpenghasilan rendah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejumlah media Prancis menayangkan video yang memperlihatkan tikus berkeliaran, plafon runtuh, kebocoran air, perabotan rusak, serta berbagai persoalan lain di bangunan sekolah yang tidak terawat.

Sebagian pelajar juga mengeluhkan kondisi ruang kelas yang tidak nyaman saat cuaca ekstrem. Ketika gelombang panas melanda pada musim panas, mereka kepanasan karena tidak ada pendingin ruangan. Sebaliknya, saat musim dingin, mereka harus menahan suhu yang sangat rendah di dalam kelas.

Halaman Selanjutnya

Mereka juga menilai jam belajar yang kerap berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00 terlalu melelahkan. Selain itu, sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi dianggap rumit dan tidak adil. Sejumlah mahasiswa juga ikut bergabung dalam aksi protes tersebut.