Trading Masih Punya Masa Depan di Indonesia, Asal Edukasi Didahulukan daripada Pamer Profit
"Crypto maupun forex sangat bisa dijadikan sandaran untuk jangka panjang jika seseorang bertemu dengan orang yang benar-benar mengajarkan dan mengedukasinya, serta memahami penerapan money management," kata Jafar melalui pernyataan resminya, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Cara Cek Legalitas Aplikasi Trading agar Terhindar dari Platform Ilegal, Jangan Hanya Lihat Nama Aplikasinya
Pandangan tersebut disampaikannya sebagai respons terhadap masih banyaknya persepsi negatif yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aktivitas trading.
Citra Trading Rusak karena Edukasi yang Keliru
Jafar mengakui bahwa dunia trading saat ini menghadapi tantangan besar dalam membangun kepercayaan publik.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang lebih memilih menampilkan hasil keuntungan besar di media sosial dibanding membagikan proses belajar dan ilmu yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Akibatnya, masyarakat yang baru mengenal trading hanya melihat sisi keuntungan tanpa memahami risiko yang menyertainya.
"Industri dan profesi ini sudah rusak citranya karena banyak retail maupun pengedukasinya lebih sering memamerkan profit daripada ilmunya. Akhirnya pemula menjadi FOMO, ikut-ikutan, lalu berujung mengalami kerugian," ujar pemilik akun Instagram @japsku ini.
Fenomena tersebut, menurut Jafar, menjadi salah satu alasan mengapa istilah seperti "trading scam," "trading penipuan," atau "trading halu" masih sering muncul di ruang publik.
Padahal, menurutnya, sebagian besar penilaian negatif tersebut lahir dari pengalaman orang-orang yang terjun ke pasar tanpa bekal pengetahuan yang memadai.
"Saya percaya rata-rata orang yang berbicara seperti itu adalah mereka yang pernah mengalami kerugian ketika pertama kali mencoba trading," kata Jafar, yang juga mengelola akun TikTok @japsku.com.
Edukasi Harus Menjadi Prioritas
Bagi Jafar, memperbaiki citra industri trading tidak cukup hanya dengan menunjukkan kisah sukses.
Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya belajar yang benar sejak awal.
Dia menilai seorang mentor atau edukator memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman mengenai analisis pasar, manajemen risiko, serta pentingnya menjaga kondisi psikologis saat bertransaksi.
Tanpa bekal tersebut, menurutnya, peluang seseorang mengalami kerugian akan jauh lebih besar dibanding memperoleh keuntungan secara konsisten.
Karena itu, Jafar berharap semakin banyak pelaku industri yang mengedepankan pendidikan finansial dibanding sekadar mengejar popularitas di media sosial.
Bersyukur atas Setiap Proses
Selain menyoroti pentingnya edukasi, Jafar juga mengingatkan bahwa kesuksesan dalam trading tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan.
Dia mengajak para trader untuk belajar menghargai setiap perkembangan yang berhasil dicapai, sekecil apa pun hasilnya.
"Inti dari semuanya, bersyukur berapa pun profit yang kamu dapatkan. Karena di luar sana masih banyak orang yang ingin bisa memperoleh keuntungan seperti yang sudah kamu capai," ujarnya.
Menurutnya, rasa syukur menjadi salah satu cara menjaga seseorang agar tidak terjebak dalam ambisi memperoleh keuntungan secara berlebihan.
Dengan begitu, trader akan lebih mudah mengambil keputusan secara rasional dan tidak mudah terbawa emosi ketika menghadapi fluktuasi pasar.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud Volume Trading Saham
Kesuksesan Dimulai dari Karakter
Di penghujung wawancara, Jafar lebih banyak berbicara mengenai nilai-nilai kehidupan dibanding strategi investasi.
Baginya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan membaca peluang, tetapi juga oleh karakter yang dimiliki.
Dia menyebut dua hal yang selalu menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan maupun membangun karier.
"Beradab dan ilmu. Sekali lagi, beradab dan ilmu. Percuma punya ilmu kalau tidak beradab, karena adab yang baik akan melahirkan ilmu yang sesungguhnya," kata Jafar.
Prinsip tersebut, menurutnya, berlaku bukan hanya bagi trader, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin berkembang di bidang apa pun.
Tiga Langkah yang Selalu Dipegang
Selain menekankan pentingnya karakter, Jafar juga membagikan tiga prinsip sederhana yang selama ini menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai usaha maupun aktivitas trading.
Prinsip tersebut adalah merencanakan, melakukan, dan mengoptimalkan.
Ia menilai banyak orang berhenti setelah selesai belajar atau mulai mencoba sesuatu. Padahal, keberhasilan justru ditentukan oleh kemampuan mengevaluasi dan menyempurnakan proses yang telah dijalankan.
"Kalau sudah punya rencana jangan segan untuk melakukannya. Kalau sudah dilakukan, jangan lupa dioptimalkan. Banyak orang semangat saat belajar, tetapi lupa bagaimana cara mengembangkan apa yang sudah dipelajari," ujarnya.
Selain itu, Jafar mengaku memiliki kebiasaan yang terus dijaga sebagai bentuk rasa syukur, yakni rutin bersedekah dengan nominal yang disesuaikan dengan usianya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap rezeki yang diperoleh memiliki tanggung jawab sosial untuk dibagikan kepada orang lain.
"Kebaikan yang dilakukan akan kembali kepada orang yang melakukannya," tuturnya.
Membangun Industri yang Lebih Sehat
Bagi Jafar, masa depan trading di Indonesia masih terbuka lebar. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pelaku industri bersama-sama membangun budaya edukasi yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab.
Dia berharap masyarakat tidak lagi menilai trading hanya dari unggahan keuntungan yang beredar di media sosial, tetapi juga memahami proses panjang, disiplin, serta manajemen risiko yang menjadi fondasi utama dalam dunia investasi.
Menurutnya, ketika ilmu didahulukan daripada sensasi, profesi trader akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan publik dan berkembang sebagai salah satu pilihan karier yang profesional di Indonesia.