Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong regulasi industri kripto berpotensi memberikan dampak yang lebih luas, termasuk terhadap pasar obligasi pemerintah AS. Pertumbuhan stablecoin dinilai dapat menciptakan sumber permintaan baru bagi surat utang jangka pendek atau Treasury bills, yang sejalan dengan strategi Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam mengelola pembiayaan pemerintah.

Melansir The Wall Street Journal, Bessent tengah menjalankan misi untuk meredam tekanan di pasar obligasi AS, termasuk melalui perubahan komposisi penerbitan surat utang pemerintah. Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan pembelian kembali obligasi berjangka panjang dalam jumlah lebih besar yang dapat didanai melalui peningkatan penerbitan Treasury bills berjangka pendek.

Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent menyebut strategi tersebut sebagai Treasury twist. Menariknya, Bessent sebelumnya juga menyoroti stablecoin sebagai salah satu sumber potensial permintaan baru yang besar bagi Treasury bills.

Keterkaitan tersebut muncul melalui Genius Act, undang-undang regulasi kripto yang telah disahkan di AS. Aturan itu mengatur bahwa stablecoin yang diterbitkan di AS dan dipatok terhadap dolar hanya dapat didukung oleh aset tertentu, termasuk surat utang Treasury dengan jatuh tempo maksimal 93 hari.

Saat ini, nilai pasar seluruh stablecoin mencapai sekitar US$300 miliar, yang masih relatif kecil dibandingkan industri pasar uang AS. Sebagai perbandingan, total aset dana pasar uang atau money-market funds di AS mendekati US$8 triliun.

Namun, Bessent sebelumnya mengutip proyeksi bahwa pasar stablecoin berpotensi berkembang hingga mendekati US$4 triliun. Menurutnya, pertumbuhan tersebut berpotensi menurunkan biaya pinjaman pemerintah karena meningkatnya permintaan terhadap surat utang pemerintah AS.

Dorongan lain terhadap pertumbuhan stablecoin dapat datang dari Clarity Act yang ditujukan untuk mengatur aspek lain dari pasar aset kripto. Rancangan aturan tersebut masih menjadi bahan perdebatan antara industri perbankan dan perusahaan kripto, khususnya terkait pemberian imbal hasil atau rewards kepada pemegang stablecoin yang dianggap berpotensi bersaing dengan bunga simpanan bank.

Trump pada pekan lalu bahkan mengundang para eksekutif perusahaan kripto ke Gedung Putih untuk mendorong pengesahan aturan tersebut. Pada saat yang sama, Securities and Exchange Commission (SEC) juga mengusulkan kerangka regulasi baru bagi aset kripto.

Ekspektasi terhadap semakin jelasnya regulasi tersebut turut mendorong penguatan saham-saham terkait industri kripto. Saham Circle Internet Group, penerbit stablecoin USDC, serta Coinbase Global yang menawarkan imbal hasil bagi pemegang USDC, masing-masing melonjak lebih dari 20% pada pekan lalu.

Analis TD Cowen Bryan Bergin menilai pengesahan Clarity Act dapat mengurangi hambatan terhadap perkembangan stablecoin melalui kepastian regulasi yang lebih besar. Meski demikian, ia menilai adopsi stablecoin sebenarnya sudah terus berkembang bahkan sebelum aturan tersebut disahkan.

Hubungan antara pertumbuhan stablecoin dan permintaan terhadap Treasury bills juga mendapat perhatian dari kajian yang disiapkan untuk Aspen Economic Strategy Group dan diterbitkan oleh Hutchins Center on Fiscal and Monetary Policy milik Brookings Institution. Kajian tersebut menyimpulkan stablecoin berpotensi menciptakan permintaan baru yang cukup besar terhadap Treasury bills, terutama jika dana yang masuk berasal dari rekening bank atau investor asing.

Bank pada umumnya hanya memiliki sekitar 8 sen Treasury bills untuk setiap US$1 aset, sementara stablecoin senilai US$1 biasanya didukung oleh hampir 80 sen Treasury bills. Dengan demikian, pergeseran dana dari sistem perbankan menuju stablecoin berpotensi meningkatkan kepemilikan surat utang jangka pendek pemerintah AS secara signifikan.

Penulis kajian tersebut juga memperkirakan sebagian besar dana asing yang masuk ke stablecoin berbasis dolar AS tidak akan membutuhkan penjualan Treasury bills terlebih dahulu. Permintaan baru dapat berasal dari masyarakat di negara dengan mata uang yang kurang stabil dan tidak memiliki akses terhadap rekening bank di AS.

Dalam salah satu skenario optimistis yang sebelumnya dipaparkan Citi Institute, pasar stablecoin diproyeksikan dapat tumbuh hingga mencapai US$4 triliun. Dalam skenario tersebut, kepemilikan Treasury bills oleh penerbit stablecoin dapat mencapai sekitar seperempat dari total Treasury bills yang beredar pada 2030.

Potensi tersebut sebenarnya telah lama diperhatikan oleh pemerintah dan pelaku pasar AS. Pada tahun lalu, sebuah komite penasihat yang beranggotakan perbankan dan investor menyampaikan kepada Departemen Keuangan AS bahwa peningkatan penerbitan stablecoin dapat menciptakan sumber permintaan baru bagi surat utang pemerintah berjangka pendek.

Strategis suku bunga TD Securities dalam laporan Oktober 2025 juga menilai perkembangan stablecoin dapat memengaruhi keputusan pengelolaan utang Departemen Keuangan AS. Pertumbuhan permintaan stablecoin berpotensi mendorong pemerintah memperpendek rata-rata jatuh tempo penerbitan surat utangnya.

Meski demikian, cerita mengenai stablecoin sebagai penopang pasar Treasury masih berada pada tahap awal. Nilai pasar stablecoin belakangan cenderung stagnan dan relatif tidak banyak berubah dibandingkan level pada Oktober tahun lalu berdasarkan data DefiLlama.

Kajian Brookings juga mengingatkan bahwa besarnya permintaan dari stablecoin belum menjadi satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan pemerintah. Pertanyaan penting lainnya adalah apakah permintaan tersebut akan bersifat stabil atau justru sangat volatil ketika pemerintah menentukan struktur jatuh tempo utang yang optimal.

Prospek perusahaan stablecoin pun tidak sepenuhnya berjalan lurus, mengingat persaingan dalam industri keuangan digital diperkirakan semakin ketat. Kompetisi tidak hanya berasal dari sesama stablecoin, tetapi juga dari deposito yang ditokenisasi maupun versi digital dari Treasury bills itu sendiri.

Pada valuasi saham saat ini, investor dinilai telah memasang ekspektasi terhadap pertumbuhan jangka panjang industri tersebut. Salah satu sumber pendapatan utama perusahaan stablecoin berasal dari bunga atas aset pendukung seperti Treasury, yang nilainya dapat berubah mengikuti pergerakan tingkat imbal hasil.

Ke depan, sumber pendapatan yang lebih stabil dapat berasal dari layanan perpindahan uang digital dan penggunaannya dalam ekosistem kecerdasan buatan atau AI. Bergin menilai agentic commerce, ketika agen AI dapat melakukan transaksi atau belanja atas nama pengguna, berpotensi menjadi katalis jangka panjang bagi penggunaan stablecoin.

Sementara itu, pembayaran lintas negara dan transaksi antar bisnis atau business-to-business dinilai dapat menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih dekat. Jika penggunaan stablecoin terus berkembang, aset digital tersebut pada akhirnya berpotensi memainkan peran besar dalam menentukan biaya yang harus ditanggung pemerintah AS untuk membiayai utangnya.

Namun, perjalanan menuju skala tersebut masih panjang dan kemungkinan melampaui masa jabatan satu pemerintahan. Dengan kata lain, dorongan Trump terhadap industri kripto dan strategi Bessent di pasar obligasi memang mulai menemukan titik temu, tetapi dampak penuhnya terhadap struktur pembiayaan pemerintah AS masih akan ditentukan oleh perkembangan pasar dalam beberapa tahun mendatang.

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]