UM Papua dampingi Kelompok Tani Suka Maju produksi pakan ternak jagung
UM Papua dampingi Kelompok Tani Suka Maju produksi pakan ternak jagung
Selasa, 18 Agustus 2026 17:23 WIB
Tim PKM UM Papua (ANTARA/HO-Tim PKM UM Papua)
Jayapura (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah (UM) Papua melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 menggelar program pendampingan bertajuk “Pendampingan usaha agribisnis jagung untuk mendukung ketahanan pangan di Kampung Yatu Raharja, Kabupaten Keerom, Papua.
Program ini menyasar Kelompok Tani Suka Maju di Kampung Yatu Raharja, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom, salah satu wilayah dengan potensi lahan jagung terbesar di kawasan perbatasan RI–Papua Nugini (PNG).
Program ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai oleh Anita Apriani beranggotakan Dani Arisandi DN, Zulrijal Bushido Gani, Sinta Nurcahya Sulistyani serta melibatkan empat mahasiswa pendamping, yaitu, Sarlin Saken Yual , Ambros Meaga, Jenige Hilapok, dan Dian Fuji Lestari.
Meski produktivitasnya tinggi, sebagian besar hasil panen jagung di wilayah ini selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah, sementara limbah bonggol jagung pascapanen kerap dibuang atau dibakar tanpa dimanfaatkan.
Sebelum program ini berjalan, Kelompok Tani Suka Maju belum pernah menghasilkan produk olahan sendiri. Hasil panen jagung selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah kepada tengkulak, sementara limbah bonggol jagung tidak dimanfaatkan sama sekali.
Melalui pendampingan ini, kelompok tani untuk pertama kalinya berhasil menghasilkan produk olahan berupa pakan ternak, sekaligus menjadi langkah awal diversifikasi usaha di tingkat kelompok.
“Selama ini jagung di Kampung Yatu Raharja hanya dijual mentah, sementara limbah bonggolnya dibuang begitu saja," kata Ketua Tim Pelaksana PKM UM Papua Anita Apriani dalam siaran pers di Jayapura, Selasa.
Menurut Anita, padahal hasil kajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua menunjukkan bahwa Distrik Arso Barat merupakan salah satu wilayah basis pengembangan jagung di Kabupaten Keerom dengan nilai Location Quotient sebesar 2,34 dan didukung potensi lahan pengembangan jagung se-Kabupaten Keerom yang mencapai lebih dari 294 ribu hektare.
"Melalui program ini, kami ingin membuktikan bahwa potensi besar itu bisa diikuti dengan hilirisasi, sehingga jagung dan limbahnya benar-benar punya nilai jual dan manfaatnya langsung dirasakan oleh kelompok tani, khususnya yang juga berprofesi sebagai peternak,” ujarnya.
Dia menjelaskan data tersebut merujuk pada hasil penelitian Petrus A. Beding dan tim dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, yang dipublikasikan dalam Jurnal SEPA (2023) mengenai analisis potensi pengembangan komoditas jagung di wilayah perbatasan NKRI–PNG, Kabupaten Keerom.
"Penelitian tersebut juga mencatat bahwa penerapan inovasi teknologi budidaya dapat meningkatkan produktivitas jagung dari rata-rata 3 ton per ha menjadi 6–7 ton per ha, sekaligus menjadi dasar bagi tim PKM dalam merancang program pendampingan ini," katanya lagi.
Dia menambahkan pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi juga mencakup penguatan manajemen usaha kelompok dan strategi pemasaran, agar produk yang dihasilkan dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompok tani secara berkelanjutan.
Proses pendampingan berlangsung melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada 10 Juli 2026 bersama mitra untuk menyepakati jenis usaha yang akan dikembangkan serta kebutuhan Teknologi Tepat Guna (TTG).
Tahap kedua berupa sosialisasi, pelatihan, dan serah terima alat, yang dilaksanakan pada 19 Juli 2026, meliputi penyampaian materi, pelatihan pembuatan produk, sekaligus serah terima empat unit TTG kepada Kelompok Tani Suka Maju, yakni mesin hammer mill, mesin pencetak pelet pakan, alat "vacuum sealer" dan timbangan digital.
Tahap ketiga adalah pendampingan finishing produk prototipe, yang dilaksanakan pada pekan ketiga, di mana tim mendampingi kelompok tani menyempurnakan hasil produksi awal, mulai dari uji coba formula, pengemasan, hingga pelabelan, sampai dihasilkan produk prototipe pakan ternak yang siap diujicobakan kepada peternak.

Produk yang dihasilkan dari program ini adalah pakan ternak olahan berbahan dasar jagung dan limbah bonggol jagung, diproses menggunakan mesin "hammer mill" untuk digiling menjadi tepung, kemudian dicetak menjadi bentuk pelet menggunakan mesin pencetak pelet, dan dikemas dengan "vacuum sealer" agar lebih higienis, rapi, dan tahan lama disimpan.
Produk ini diformulasikan sebagai alternatif pakan yang lebih ekonomis bagi peternak ayam, itik, kambing, hingga ikan, karena memanfaatkan bahan baku lokal yang selama ini terbuang percuma.
Selain menekan biaya produksi bagi peternak, kehadiran produk ini juga menjadi solusi atas persoalan limbah pertanian di Kampung Yatu Raharja, sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi Kelompok Tani Suka Maju melalui penjualan produk pakan olahan tersebut.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Suka Maju Puji mengatakan pihaknya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tim PKM Universitas Muhammadiyah Papua dan Kemdiktisaintek atas bantuan alat serta pendampingan yang diberikan.
"Ini adalah produk pakan ternak pertama yang kami hasilkan sebagai kelompok, dan kami berharap dapat terus mengembangkannya menjadi usaha yang mandiri,” kata Puji.
Program ini merupakan bagian dari komitmen UM Papua dalam mendorong hilirisasi hasil pertanian dan penguatan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan Papua.
Tim pelaksana berharap, produk pakan ternak olahan yang dihasilkan dapat menjadi fondasi bagi Kelompok Tani Suka Maju untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan, sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan lokal di Kabupaten Keerom.
Pewarta : Admin Portal
Editor:
Editor Papua
COPYRIGHT © ANTARA 2026