Unbrah jadi tuan rumah seminar dan Rapat Kerja Nasional APTFI 2026
Padang (ANTARA) - Universitas Baiturahmah Padang menjadi tuan rumah kegiatan Seminar dan Rapat Kerja Nasional APTFI yang dilaksanakan mulai 8-10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Digitalisasi Informasi Obat Herbal Terstandar dalam Mendukung Pariwisata Kesehatan di Sumatera Barat."
"Unbrah merasa bangga bisa menjadi tuan rumah kegiatan nasional ini. Apalagi, kami juga sangat butuh dukungan APTFI, mengingat Unbrah telah mengantongi izin membuka Prodi Farmasi yang tahun depan mulai melakukan penerimaan mahasiswa," ujar Rektor Unbrah Prof. Musliar Kasim di Padang, Kamis.
Ketua Panitia Seminar dan Rapat Kerja Nasional APTFI, Eka Desnita merinci, rangkaian kegiatan dimulai pada 8 Oktober 2026 dengan pelaksanaan workshop dengan materi penyusunan kurikulum farmasi berbasis Outcome Based Education.
Selanjutnya, membahas penguatan mutu dan akreditasi serta implementasi Evidence Based Pharmacy dalam pelayanan klinis. Selain itu, terdapat workshop pengaplikasian metode analisis TLC Densitometri pada standardisasi produk bahan alam, serta workshop instrumen BUCHI Flash Chromatography C-900.
Pada 9 Oktober 2026 dilaksanakan Seminar Nasional dengan 20 narasumber dan 440 peserta.
"Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi juga dijadwalkan hadir sebagai invited speaker. Peserta juga dapat mengikuti presentasi oral maupun poster," ucapnya.
Rangkaian APTFI 2026 dilanjutkan pada 10 Oktober dengan APTFI Fun Run 2026 sejauh lima kilometer di kawasan Jembatan Siti Nurbaya, Padang. Kegiatan tersebut juga dilengkapi dengan pemeriksaan gula darah dan asam urat serta donor darah. Pada hari yang sama juga dilaksanakan kegiatan wisata ke kawasan Mandeh, Sumatera Barat.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) Prof. Yandi Syukri mengatakan pihaknya mendorong agar perguruan tinggi farmasi bisa mencetak calon apoteker yang handal karena kebutuhan tenaga apoteker di Indonesia masih tinggi.
Ia mengatakan, jumlah apoteker di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 100 ribu orang. Berdasar rasio ideal kebutuhan apoteker sebesar 6,2 orang per 10 ribu penduduk, namun keterpenuhan tenaga apoteker secara nasional baru mencapai sekitar 35 persen. "Selain jumlah yang masih kurang, distribusi apoteker juga belum merata karena sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan," katanya.
Yandi menyebut, sejumlah wilayah Indonesia bagian timur bahkan masih mengalami kekurangan apoteker. Enam provinsi di Papua, misalnya, belum memiliki apoteker, demikian pula sejumlah daerah seperti Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. "Untuk menjawab persoalan tersebut, APTFI mendampingi perguruan tinggi di daerah agar mampu menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan tenaga apoteker berkualitas," ucapnya.
Yandi membeberkan, saat ini terdapat 276 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program farmasi dengan sekitar 15 ribu lulusan setiap tahun. Namun, dari jumlah tersebut baru 127 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesi apoteker, sehingga penguatan pendidikan profesi masih menjadi tantangan.
APTFI berkomitmen mendampingi perguruan tinggi dalam meningkatkan kurikulum, kualitas dosen dan sistem penjaminan mutu agar program studi farmasi di berbagai daerah mampu menghasilkan lulusan berkualitas. Komitmen dimaksud dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan Seminar dan Rapat Kerja Nasional APTFI di Kota Padang.*