Bagikan:

JAKARTA - UNESCO mencatat 113 negara yang dihuni 6,1 miliar orang mengeluarkan dana lebih besar untuk membayar utang daripada membiayai pendidikan. Pada saat yang sama, bantuan global untuk sektor ini terus menyusut.

Dikutip dari Xinhua, Minggu, 12 Juli, riset terbaru UNESCO yang dirilis dalam Transforming Education Summit +4 menunjukkan pendidikan hanya menerima 7,5 persen dari total bantuan pembangunan resmi pada 2024. Angka itu menjadi yang terendah dalam dua dekade.

UNESCO memperkirakan total bantuan global untuk pendidikan bisa turun hingga 30 persen antara 2023 dan 2027.

Tekanan paling berat dihadapi negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah. Kelompok negara ini kekurangan dana pendidikan sebesar 97 miliar dolar AS per tahun. Kekurangan tersebut diperkirakan masih akan melebar.

Di saat bantuan menyusut, pembayaran utang juga makin menekan anggaran pendidikan.

Laporan UNESCO mengenai utang dan pendidikan menemukan belanja pendidikan secara riil stagnan atau menurun di banyak negara. Kondisi itu berisiko menimbulkan dampak jangka panjang terhadap akses, mutu, dan pemerataan pendidikan.

BACA JUGA:


“Pendidikan merupakan investasi paling besar dampaknya yang dapat dilakukan suatu negara, tetapi terus kekurangan dana secara sistematis,” kata Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany.

Ia memperingatkan penurunan bantuan pendidikan global berisiko memperpanjang kekurangan investasi, ketimpangan, dan pembangunan yang tersendat.

UNESCO kembali mendorong skema pengalihan pembayaran utang untuk pendidikan atau debt-for-education swaps. Melalui mekanisme ini, sebagian pembayaran utang luar negeri dapat dialihkan untuk membiayai pendidikan.

Lembaga tersebut juga menerbitkan panduan teknis untuk membantu negara menerapkan skema itu.

Temuan tersebut disampaikan dalam Transforming Education Summit +4, pertemuan lanjutan dari forum pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Forum itu membahas upaya memperbaiki sistem pendidikan dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 tentang pendidikan berkualitas.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+