UNICEF usulkan empat prinsip penanggulangan TBC anak di Papua Barat - ANTARA News Papua Tengah
Manokwari (ANTARA) - Perwakilan UNICEF Indonesia mengusulkan empat prinsip penyusunan rencana aksi penanggulangan tuberkulosis (TBC) pada anak di Provinsi Papua Barat, yakni kegiatan realistis, kejelasan tanggung jawab, langkah segera, dan pengukuran hasil.
Perwakilan UNICEF Indonesia Denis Oxy Handika di Manokwari, Kamis, mengatakan empat prinsip itu diperlukan agar rencana aksi dapat dilaksanakan, dipantau, serta memberikan hasil terukur bagi kesehatan anak.
“Empat kegiatan yang benar-benar dilaksanakan akan lebih bermanfaat dibandingkan puluhan kegiatan yang sulit diwujudkan,” ucapnya.
Dia menjelaskan prinsip pertama ialah memilih kegiatan dengan sasaran jelas dan realistis sesuai kemampuan masing-masing pihak. Kedua, menetapkan penanggung jawab dan batas waktu setiap kegiatan berdasarkan kesepakatan bersama.
Ketiga, menentukan langkah yang dapat dikerjakan hingga akhir tahun 2026 tanpa harus menunggu ketersediaan anggaran baru. Keempat, mengukur keberhasilan berdasarkan hasil pelayanan bagi anak, bukan sekadar penyerapan anggaran.
“Indikatornya meliputi jumlah anak yang diperiksa, mendapatkan pengobatan hingga sembuh, serta memperoleh terapi pencegahan sesuai indikasi medis,” ujarnya.
Untuk mengoptimalkan rencana aksi, Denis mengusulkan pemanfaatan jaringan pelayanan masyarakat yang sudah tersedia, seperti usaha kesehatan sekolah (UKS), posyandu, puskesmas, kader kampung, gereja dan masjid.
Pelaksanaan seluruh kegiatan memerlukan koordinasi lintas perangkat daerah, sekolah, pemerintah kampung, tokoh agama, TNI-Polri, serta masyarakat agar pelayanan dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
“Program perlindungan sosial yang telah menjangkau keluarga rentan juga dapat menjadi bagian dari upaya pengendalian TBC anak,” ujarnya.
Menurut Denis, penyusunan rencana aksi perlu mempertimbangkan pengalaman keluarga, kader kesehatan, dan orang yang pernah menjalani pengobatan TBC karena lebih memahami cara menghadapi stigma dari masyarakat sekitar.
Stigma tersebut menimbulkan rasa malu bagi keluarga penderita sehingga enggan untuk membawa anak ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis, bahkan terdapat beberapa kasus pengobatan terhenti sebelum waktu.
“Selain hambatan sosial, TBC pada anak lebih sulit dikenali sejak dini, sehingga penderita berisiko terlambat mendapat diagnosis hingga kondisinya memburuk,” ucap Denis.
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.