Universitas Brawijaya tambah lima guru besar dari fakultas berbeda - ANTARA News Jawa Timur
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) Malang menambah lima guru besar dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK), Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) melalui pengukuhan yang akan diselenggarakan di Gedung Samantha Krida, kampus setempat, Selasa (22/9).
Kelima profesor yang akan menjalani pengukuhan, yakni Prof Ir Edi Dwi Cahyono dari FBIPK, Prof Dr Ir Putu Hadi Setyarini dan Prof Ir Winarto dari Fakultas Teknik, serta Prof Cleoputri Al Yusainy dan Prof Dr Desi Dwi Prianti dari FISIP.
Prof Cleoputri Al Yusainy saat konferensi pers menjelang pengukuhan di Gedung Samantha Krida kampus UB, Senin, mengatakan mengembangkan model psikologi berbasis realitas kehidupan yang diberi nama Lebur Duka Labur Rasa.
"Memang penekanan utamanya tentang bagaimana individu bisa menjalani kehidupan secara realistis, misalnya dengan ikut sebuah kompetisi pilihannya ada kalah atau menang," kata Prof Cleo.
Dengan begitu, masing-masing individu akan memiliki kesiapan menerima kenyataan yang tidak sejalan dengan keinginannya.
Model psikologi yang dia kembangkan itu ditujukan untuk membentuk kebugaran mental (mental fitness) bagi setiap orang.
Ia juga menyoroti keberadaan media sosial yang menghadirkan pergeseran pada proses membentuk kebugaran mental. Sebab, saat ini kalangan anak muda lebih cenderung tumbuh bersama gawai ketimbang dengan lingkungan sosial.
"Riset saya tidak sampai pada konteks gangguan mental, namun lebih mengganggu kejernihan dalam proses menjalani kehidupan, jadi lebih banyak mengembangkan mekanisme yang saya namakan delusi atau orang sekarang bilang halu," ujarnya.
Sementara itu, Prof Ir Edi Dwi Cahyono menyampaikan E/D/C-RITA sebagai model penyuluhan dan komunikasi era baru untuk pengadopsian pada inovasi pertanian berkelanjutan yang menempatkan proses sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan.
Ia menyampaikan petani yang tidak langsung mengadopsi sistem hasil inovasi bukan berarti kurang memiliki pemahaman terhadap teknologi, tapi memiliki pertimbangan rasional terkait informasi, pengamatan hasil, hingga melakukan penyesuaian dengan kondisi masing-masing.
"Model E/D/C-RITA terdiri atas lima tahap, yakni kesadaran, evaluasi awal, evaluasi reflektif, keputusan ambang, dan evaluasi setelah keputusan," ujar dia.
Melalui model itu, kata Prof Edi, penyuluh tidak lagi hanya sebagai penyampai informasi, tetapi katalisator yang membantu petani mempertimbangkan pilihan, sekaligus mitra dalam menciptakan solusi untuk pertanian.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.