Belum ada kepastian apakah Paus Leo tetap dapat melakukan perjalanan yang telah direncanakan ke Amerika Selatan bulan depan.

Dokter spesialis kanker umumnya menyarankan pasien untuk tidak melakukan perjalanan udara selama tiga minggu setelah operasi.

Jika pemulihannya berjalan sesuai harapan, jeda waktu tersebut masih memungkinkan Paus Leo menjalankan kunjungannya ke Uruguay, Argentina, dan Peru yang dijadwalkan berlangsung pada 6–17 November.

Rencana perjalanan itu tergolong padat dan akan menjadi kunjungan terpanjang selama masa kepausannya.

Berdasarkan jadwal saat ini, Paus Leo akan menempuh perjalanan lebih dari 31.000 kilometer dengan sekitar 12 penerbangan dan dua perjalanan helikopter. Kunjungan tersebut juga mencakup perubahan ketinggian yang cukup signifikan selama berada di Peru.

"Ia memutuskan untuk segera menjalani operasi agar tidak perlu mengubah rencana kunjungan luar negerinya. Jadi, tidak perlu khawatir karena ini bukan kondisi darurat," tutur Kardinal Kikuchi Tsutomu dari Tokyo, yang bertemu Paus Leo pada Senin.

Nodul paru-paru merupakan area abnormal berukuran kurang dari tiga sentimeter yang terkadang ditemukan melalui pemeriksaan CT scan pada dada atau perut.

Nodul tersebut sering kali ditemukan secara tidak sengaja ketika pasien menjalani pemeriksaan untuk kondisi lain, seperti cedera atau infeksi paru-paru, bukan melalui pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kanker paru-paru.

Nodul dapat bersifat jinak maupun ganas. Dalam banyak kasus, dokter menyarankan pengangkatan melalui operasi untuk memastikan apakah nodul tersebut merupakan kanker, sekaligus mengobatinya jika terbukti ganas dan masih terbatas pada satu area.

Pernah Dirawat Akibat Demam Tifoid pada 1985

Operasi kali ini diyakini menjadi perawatan kedua Paus Leo di rumah sakit.

Selama ini, ia dikenal aktif berolahraga dan memiliki kondisi fisik yang prima. Ia rutin bermain tenis setiap pekan dan berenang.

Ketika masih menjadi imam misionaris muda, Paus Leo pernah terserang demam tifoid pada 1985, tidak lama setelah tiba di Chulucanas, Peru.

Pengalaman sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Saat itu, ia memutuskan untuk tetap tinggal di Peru meski harus menghadapi kemiskinan dan berbagai keterbatasan, setelah sebelumnya menikmati kehidupan yang relatif nyaman di Roma.

Keputusan tersebut pada akhirnya membuka jalan menuju kepausannya. Paus Leo menceritakan pengalaman itu dalam wawancara dengan Elise Ann Allen pada 2025 untuk buku "Pope Leo XIV: The Biography".

Dalam buku tersebut, Paus Leo mengaku pernah berdoa kepada Tuhan agar dirinya dibiarkan meninggal dunia daripada harus terus menanggung rasa sakit yang "mengerikan" akibat demam tifoid.

"Saat itu saya sedang diinfus dan berkata, 'Tuhan, jika ini cara-Mu bercanda, menurut saya Engkau bisa melakukannya dengan lebih baik.'"

"Tentu saja saya selamat dan sembuh. Namun, pengalaman itu menjadi momen yang sangat penting bagi saya. Saat itu, saya seolah berkata kepada diri sendiri, 'Kamu sudah berhasil melewati penyakit ini. Kamu sudah melihat sendiri berbagai kebutuhan masyarakat di sini. Ordo Agustinian dan Gereja mengatakan bahwa mereka membutuhkanmu di sini. Jadi, lanjutkanlah tugasmu.' Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mempertanyakan keputusan untuk tetap menjalankan tugas sebagai misionaris di Peru."