Viral di Medsos, Appendicitis Penyakit Apa Sih?
Jakarta -
Konten selebgram Fahira Amira yang membandingkan layanan dan diagnosis dokter di rumah sakit Indonesia dan Penang, Malaysia, viral di media sosial. Fahira mengaku sempat didiagnosis radang usus buntu atau appendicitis (apendisitis) oleh tiga rumah sakit di Indonesia.
Namun, saat memeriksakan diri ke Penang, Malaysia, dia mengaku mendapat diagnosis yang berbeda. Dokter di sana tidak menemukan appendicitis di tubuhnya. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi saat seseorang mengalami appendicitis?
Mengenal Appendicitis
Appendicitis atau radang usus buntu terjadi ketika organ ini tersumbat, terinfeksi, dan mengalami peradangan. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, usus buntu merupakan kantung jaringan kecil dan tipis yang melekat pada usus besar. Letaknya di bagian kanan bawah perut dengan panjang sekitar 3-4 inci (7-10 cm), kira-kira sepanjang jari tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kotoran yang bergerak melalui usus besar dapat menyumbat atau menginfeksi usus buntu dan menyebabkan peradangan. Kondisi ini menyebabkan usus buntu membengkak dan, saat pembengkakan semakin parah, usus buntu bisa pecah.
Usus buntu yang pecah merupakan kondisi darurat medis. Hal ini dapat menyebarkan bakteri dari usus ke seluruh rongga perut. Infeksi tersebut kemudian bisa menyebar ke aliran darah dan menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.
Dengan demikian, pengobatan standar untuk kondisi ini adalah dengan mengangkat usus buntu.
Gejala Appendicitis
Gejala umum appendicitis di antaranya:
- Sakit perut
- Mual
- Kehilangan nafsu makan
Pada kondisi yang umum terjadi, sakit perut awalnya muncul di bagian tengah perut, tepatnya di sekitar pusar. Rasa sakit dapat menetap atau hilang timbul selama beberapa jam. Seiring waktu, nyeri semakin kuat dan dapat disertai mual serta muntah.
Beberapa jam kemudian, rasa mual biasanya mulai mereda, sementara nyeri berpindah ke perut bagian kanan bawah, yaitu area tempat usus buntu berada. Nyeri kemudian menjadi lebih terpusat dan terus memburuk.
Adapun beberapa gejala lain yang bisa terjadi di antaranya:
- Demam: Hingga 40 persen orang yang mengidap usus buntu mengalami demam.
- Malaise: Tidak enak badan dan merasa kekurangan energi.
- Perut bengkak: Perut mungkin terlihat membesar atau terasa kembung.
- Gejala saluran kemih: Merasa ingin buang air kecil lebih sering.
- Diare: Beberapa orang mungkin mengalami usus yang terlalu aktif dan buang air besar lebih sering.
Kondisi Lain yang Mungkin Disalahartikan sebagai Appendicitis
Gejala appendicitis bisa menyerupai banyak kondisi lain. Hal ini terutama berlaku pada wanita.
Perut bagian bawah terletak dekat dengan rongga panggul dan kondisi yang memengaruhi organ panggul mungkin terasa mirip dengan appendicitis. Organ-organ ini termasuk sistem urine dan sistem reproduksi wanita.
Ada beberapa kondisi yang mudah dikira sebagai appendicitis, di antaranya:
Bagaimana Cara Mendiagnosis Appendicitis?
Penyedia layanan kesehatan akan mengajukan pertanyaan tentang rasa sakit dan gejala lainnya. Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda seperti nyeri tekan dan kekakuan.
Jika memiliki gejala khas, penyedia layanan kesehatan mungkin bisa mendiagnosis secara langsung. Namun, jika tidak, perlu dilakukan tes lebih lanjut.
Pemeriksaan selanjutnya bisa meliputi tes darah yang menunjukkan tanda-tanda peradangan, seperti jumlah sel darah putih atau kadar protein C-reaktif yang tinggi. Selain itu, pemeriksaan pencitraan seperti USG perut atau CT scan dapat digunakan untuk melihat apakah usus buntu mengalami pembengkakan. Dokter juga mungkin melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan gejala yang muncul bukan disebabkan oleh kondisi medis lainnya.
Halaman 2 dari 2
(elk/up)