Las Vegas -

Viral kisah cinta yang lahir dari perjuangan melawan penyakit mematikan. Liv Shaw (29 tahun), seorang wanita asal Manchester, Inggris, berhasil melawan kanker sebanyak dua kali.

Menariknya, misi kemanusiaan untuk menggalang dana penelitian kanker justru mempertemukannya dengan belahan jiwanya, Sam, yang juga merupakan seorang penyintas kanker dua kali. Pasangan ini akhirnya mengikat janji suci di Las Vegas.

Perjalanan hidup Liv tidak lah mudah. Cancer Research U.K. mengungkapkan Liz pertama kali didiagnosis mengidaposteosarkoma, sejenis kanker tulang saat masih berusia 14 tahun. Akibat penyakit tersebut, Liv harus merelakan kaki kanannya diamputasi di atas lutut dan menggunakan lutut prostetik setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kemoterapi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas.Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas. Foto: Dok. Liv Shaw/Cancer Research UK/People.

Ujian hidupnya belum selesai. Pada usia 23 tahun, Liv tidak sengaja menemukan benjolan setelah mengalami patah tulang rusuk. Hasil pemindaian medis mendeteksi adanya tumor yang setelah diangkat dan diuji, dinyatakan positif kanker.

Beruntung, jenis kanker kedua ini tumbuh cukup lambat sehingga ia hanya membutuhkan operasi pengangkatan jaringan tanpa perlu menjalani perawatan lanjutan yang agresif.

Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas.Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas. Foto: Dok. Liv Shaw/Cancer Research UK/People.

Mengingat adanya riwayat kanker dari silsilah keluarga ibunya, Liv memutuskan untuk menjalani tes genetik. Hasilnya menunjukkan bahwa ia mengidap Sindrom Li-Fraumeni (LFS), sebuah kondisi genetik langka yang secara signifikan melonjakkan risiko seseorang terkena kanker hingga 70% sampai 90% sepanjang hidup mereka.

Meskipun menghadapi kenyataan pahit tersebut, Liv memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. "Saya tetap berpikir positif dan menjaga agar semuanya berjalan 'senormal' mungkin. Tapi saya baru berusia dua puluhan dan saya sudah harus melewati dua jenis kanker yang berbeda," ungkap Liv dikutip dari People.

Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas.Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas. Foto: Dok. Liv Shaw/Cancer Research UK/People.

Sebagai langkah preventif yang ekstrem, pada 2023, wanita yang bekerja sebagai manajer operasional ini memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan kedua payudaranya guna menekan risiko kanker payudara. Ia juga diwajibkan melakukan pemeriksaan medis rutin seumur hidupnya.

Di tengah perjuangan pribadinya, Liv aktif dalam berbagai kegiatan penggalangan dana untuk yayasan kanker. Lewat aktivitas kemanusiaan inilah takdir mempertemukannya dengan Sam.

Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas.Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas. Foto: Dok. Liv Shaw/Cancer Research UK/People.

Berbicara kepada BBC, Liv menceritakan bahwa ia pertama kali mengenal Sam saat masih remaja, sebelum akhirnya jalan hidup mempertemukan mereka kembali beberapa tahun kemudian hingga mereka mulai berkencan.

Bagi Liv, Sam adalah sosok yang paling memahami bebannya karena mereka berbagi pengalaman emosional yang sama sebagai sesama penyintas.

"Sam adalah sandaran utama saya saat melewati diagnosis kedua dan diagnosis LFS. Sam selalu bisa menemukan hal yang lucu di situasi apa pun, dan dia selalu tahu cara membangkitkan semangat serta mendukung saya," kata Liv dengan penuh syukur.

Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas.Liv, pengidap sindrom langka yang selamat dari kanker dua kali, bertemu jodoh sesama penyintas saat galang dana. Pasangan ini akhirnya menikah di Las Vegas. Foto: Dok. Liv Shaw/Cancer Research UK/People.

Saat ini, Liv tengah gencar mendukung kampanye pencegahan kanker yang diinisiasi oleh Cancer Research U.K.. Kampanye ini berfokus pada metode untuk menghentikan kanker sebelum penyakit itu sempat berkembang.

Salah satu fokus utamanya adalah mendesak publik untuk mendonasikan dana bagi uji klinis bernama MILI. Uji klinis ini meneliti apakah metformin, obat yang biasa digunakan untuk pasien diabetes dapat memperlambat atau mencegah munculnya kanker pada orang dengan kondisi LFS. Selama ini, penanganan medis bagi pasien LFS dinilai masih sangat reaktif dan melelahkan secara fisik maupun mental.

"Perawatan saya selama ini sepenuhnya hanya tentang mendeteksi kanker secara dini, bukan mencegahnya sejak awal. Belum ada obat untuk LFS. Orang-orang seperti saya sangat membutuhkan cara yang lebih banyak, dan tidak terlalu invasif, untuk membantu mengurangi risiko kanker kami. Itu lah mengapa penelitian seperti uji klinis MILI ini sangat vital bersama dengan donasi yang membuatnya menjadi nyata," jelas Liv.

Dalam uji klinis MILI, para partisipan dengan kondisi LFS akan diberikan tablet metformin dibarengi dengan pemantauan ketat di rumah sakit. Para peneliti berharap uji coba ini tidak hanya menyelamatkan kelompok dengan LFS, tetapi juga pasien kanker umum lainnya yang memiliki kerusakan gen serupa pada tumor mereka.

Ketika ditanya mengenai motivasi kuatnya untuk terus bersuara dan menggalang dana di tengah keterbatasan fisiknya, Liv memberikan jawaban yang menyentuh hati.

"Meskipun kadang saya merasa frustrasi, daripada berpikir, 'Mengapa harus saya yang mengalami ini?', saya memilih berpikir, 'Mengapa bukan saya?'. Menggunakan suara saya untuk membuat perubahan positif memberi saya kekuatan. Mengetahui bahwa mungkin ada masa depan yang lebih cerah bagi orang-orang dengan LFS di luar sana adalah hal yang terus memacu semangat saya," tutupnya.

(gaf/eny)