Wali kota: Penyelesaian masalah sampah dimulai dari perilaku warga

Jumat, 14 Agustus 2026 06:56 WIB

Image Print

Acara Sosialisasi Program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengembangan Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Ruang Sidang Lantai 2 Setda Kota Magelang, Kamis (13/8/2026). ANTARA/HO-Bagian Prokompim Pemkot Magelang

Magelang (ANTARA) - Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan penyelesaian persoalan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, akan tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu.

"Harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu," katanya dalam rilis Bagian Prokompim Pemkot Magelang diterima di Magelang, Jumat.

Ia mengatakan hal itu pada kegiatan Sosialisasi Program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengembangan Kolaborasi Pengelolaan Sampah di Ruang Sidang Lantai 2 Sekretariat Daerah Kota Magelang, Kamis (13/8).

Penguatan di tingkat hulu, kata dia, menjadi fondasi dalam mengatasi persoalan sampah.

Ia menjelaskan edukasi pemilahan sampah perlu menjadi kebiasaan warga, sedangkan bank sampah, kampung mandiri sampah, TPS3R, transfer depo, dan fasilitas pengolahan lainnya harus bekerja sebagai satu sistem, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Oleh karena itu, katanya, edukasi pemilahan dan pengelolaan sampah terus diperkuat melalui berbagai program, sedangkan pengelolaan di hilir membutuhkan dukungan teknologi dan kolaborasi.

Selain itu, ujar dia, Kota Magelang perlu memastikan sistem pengangkutan warga selaras dengan kapasitas pengolahan di TPST Regional.

Alokasi kapasitas TPST Regional mencapai 80 ton per hari sehingga paradigma pengelolaan diarahkan dari sekadar “membuang” menjadi “mengolah dan mengurangi”.

Ia menjelaskan persoalan sampah tidak lagi semata-mata dapat dilihat dari sisi untung dan rugi, melainkan sebagai persoalan lingkungan dan sosial yang membutuhkan kehadiran negara.

Pemerintah Kota Magelang membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pengelolaan sampah melalui program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF).

Pengelolaan sampah di Kota Magelang telah mencapai 95,7 persen. Meski demikian, masih terdapat sekitar 4,3 persen sampah yang menjadi pekerjaan rumah karena masih berpotensi dibakar maupun dibuang ke sungai.

Pemerintah Kota Magelang menargetkan pada akhir 2026 dapat mencapai kondisi zero waste (nol sampah).

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan kesiapan Kota Magelang menjadi lokasi percontohan pengembangan teknologi pengelolaan sampah.

Dengan luas wilayah yang relatif kecil dan produksi sampah sekitar 90–100 ton per hari, Kota Magelang dinilai dapat menjadi tempat uji coba teknologi sebelum dikembangkan ke daerah lain.

“Kota Magelang siap menjadi pilot project-nya (proyek percontohan), siap menjadi laboratoriumnya,” katanya.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Magelang berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, sehingga volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat terus ditekan dan tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Pewarta: M. Hari Atmoko
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.