Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan alasan kebijakan sektor pangan menjadi sangat penting. Ia menuturkan, jika sumber pangan hanya impor akan berdampak luas tidak hanya pertumbuhan ekonomi tetapi kemiskinan. Selain itu, kesejahteraan petani, nelayan dan peternak Indonesia juga harus menjadi perhatian untuk mendukung sektor pangan Indonesia.

Zulkifli menuturkan, nilai tukar nelayan berada di angka 103, yang masih relatif rendah dan sebagai salah satu kelompok tertinggal karena masuk desil 1. Jika hal itu dibiarkan, Zulkifli mengatakan, Indonesia menjadi bangsa yang tidak bertanggung jawab. Ia mengatakan, jika nelayan Indonesia lemah akan berdampak terhadap nilai tawar nelayan Indonesia karena tidak memiliki pendukung.

"Kalau nelayan kita lemah, ikan kita dicuri Rp 200 triliun per tahun. Nelayan Jepang merupakan nelayan tangguh karena punya kapal besar. (Nelayan-red) kita tidak punya, kita hanya dekat, hanya kapal kecil. Apa yang terjadi?, dia tidak punya daya tawar. Tidak punya pendukung. Kalau dapat ikan, harganya murah, kalau enggak ikan busuk,” ujar dia, saat acara peluncuran buku Pangan Indonesia yang ditulis oleh Zulkifli Hasan dan Dirgayuza Setiawan, di JCC, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

“Jadi dampaknya luas sekali, itu baru kita ngomong nelayan. Belum terhadap pertumbuhan ekonomi, belum terhadap kemiskinan,” ia menambahkan.

Ia menuturkan, nelayan jika tidak dibantu beras dan bantuan tunai akan berdampak terhadap kesejahteraan. "Dia enggak bisa sekolah, enggak bisa makan,” ujar Zulkifli.

Ia menuturkan, jika dibandingkan petani pandi, pada 2024, nilau tukar petani 110, dan saat ini sudah 127. Pada 2024, Zulkifli menuturkan, Indonesia masih impor 4,5 juta ton beras. “Oh enggak boleh kalau waktu beras, jangan impor saja. Saudara tahu dampaknnya itu? Dampaknya itu akan membuat kemiskinan yang masif,” kata dia.