Berat badan merupakan salah satu indikator penting untuk menilai apakah tumbuh kembang bayi sudah optimal atau belum. Nah, apa saja makanan untuk bantu berat badan bayi bertambah saat MPASI?

Asupan yang mengandung gizi tepat seimbang dapat membantu memenuhi kebutuhan harian bayi, sehingga berat badannya diharapkan bisa kembali meningkat secara bertahap.

Dalam beberapa kasus berat badan bayi bisa terus menurun atau tidak mengalami kenaikan sesuai kurva pertumbuhan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Jika kondisi tersebut bukan disebabkan oleh masalah medis, seperti gangguan pencernaan atau penyakit jantung, penyebabnya bisa jadi karena bayi tidak mendapatkan asupan lemak yang cukup.

Pentingnya lemak dalam asupan harian bayi

Seorang ahli gizi bernama Jill Castle, RD, menuturkan bahwa sebagian orang tua sering keliru menganggap bahwa pola makan rendah lemak dan tinggi serat merupakan pilihan yang tepat untuk bayi.

"Jika melihat komposisi ASI maupun susu formula, sekitar setengah dari total kalorinya berasal dari lemak. Bayi dan anak usia dini memang memiliki kebutuhan lemak yang lebih tinggi," ujar Castle, dikutip dari Parents.

Lemak tidak hanya berperan penting dalam mendukung perkembangan otak dan sistem saraf, tetapi juga membantu tubuh menyerap vitamin-vitamin penting, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Jika Bunda khawatir dengan masalah kenaikan berat badan bayi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak.

Sebelum melakukan perubahan besar pada pola makan bayi untuk meningkatkan berat badannya, penting untuk memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada masalah medis yang mendasarinya.

Setelah bayi mulai mengonsumsi MPASI, pastikan menu hariannya mengandung cukup lemak sehat yang bergizi. Asupan padat nutrisi dan tinggi kalori dapat membantu mendukung kenaikan berat badan Si Kecil, seperti: 

1. Minyak zaitun

Setiap 1 gram lemak mengandung sekitar 9 kalori, sedangkan 1 gram protein maupun karbohidrat hanya mengandung sekitar 4 kalori.

Salah satu pilihan yang baik adalah minyak zaitun. Bunda dapat menambahkan sekitar satu sendok teh minyak zaitun ke dalam puree sayuran untuk meningkatkan kandungan kalorinya.

2. Selai kacang

Kacang-kacangan kaya akan nutrisi sekaligus mengandung lemak sehat dalam jumlah tinggi. Menurut American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology, kacang bisa mulai diperkenalkan secara bertahap saat bayi mulai MPASI. Tepatnya setelah bayi dapat mentoleransi makanan yang risiko alerginya lebih rendah. 

Cara ini diyakini dapat membantu menurunkan risiko alergi di kemudian hari. Castle menyarankan untuk mencampurkan sedikit selai kacang tanah, selai almond, atau selai kacang mede ke dalam bubur sereal bayi pada pagi hari.

3. Susu dan produk olahannya

Selama tahun pertama kehidupannya, bayi sebaiknya tetap mendapatkan ASI atau susu formula sebagai sumber nutrisi utama.

Setelah usia 1 tahun hingga 2 tahun, Bunda dapat mulai memberikan susu sapi full cream (whole milk) untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan mendukung pertambahan berat badan Si Kecil.

Sebelum usia 1 tahun, susu tetap dapat diperkenalkan melalui produk olahan lainnya, seperti keju dan yogurt.

4. Alpukat

Teksturnya yang lembut dan rasanya yang tidak terlalu 'berat' membuat alpukat menjadi salah satu makanan yang mudah diperkenalkan saat bayi mulai fase MPASI.

Haluskan daging buah alpukat, lalu berikan pada bayi. Bunda juga bisa menambahkan sedikit ASI untuk melembutkan tekstur daging buah alpukat.

5. Pisang

Tidak semua buah memiliki kandungan kalori yang sama. Dibandingkan semangka, apel, atau stroberi, pisang mengandung kalori yang lebih tinggi.

Selain itu, pisang juga merupakan sumber kalium dan serat yang baik untuk bayi.

6. Keju

Untuk membantu menambah aroma, rasa sekaligus kalori pada asupan sehari-hari bayi, Bunda bisa menambahkan keju parut ke dalam puree MPASI-nya. Keju kaya akan kandungan lemak sehat dan kalori untuk menambah berat badan bayi.

Selain itu, keju juga mengandung lemak jenuh sehat, protein, zinc dan vitamin B12 untuk perkembangan otak bayi. Sebagai produk olahan susu, keju juga menjadi salah satu sumber kalsium, fosfor dan vitamin D. Ini penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi bayi.

7. Oatmeal

Taburan oatmeal dapat membuat puree bayi menjadi lebih mengenyangkan sekaligus menambah kandungan nutrisinya. Ini karena oatmeal mengandung zat besi dan zinc yang penting untuk pertumbuhan Si Kecil.

8. Pir

Seperti pisang, buah pir juga memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis buah lainnya. Untuk dijadikan menu MPASI, Bunda dapat mengukus buah pir yang matang hingga lunak, kemudian haluskan dengan menggunakan garpu.

9. Yogurt 

Seperti disebutkan sebelumnya, meskipun bayi belum boleh mengonsumsi susu sapi sebagai minuman utama sebelum usia 1 tahun, Bunda tetap dapat memberikan produk olahan susu lain seperti yogurt. Pilih yogurt full-fat yang plain, hindari produk yang mengandung tambahan gula dalam jumlah tinggi.

10. Telur

Dikutip dari Healthline, menu olahan telur seperti telur orak-arik dapat menjadi salah satu pilihan makanan pendamping ASI yang baik untuk bayi.

Telur mengandung Docosahexaenoic Acid (DHA), yaitu salah satu jenis asam lemak omega-3 yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak secara optimal pada awal masa kanak-kanak.

Perlukah khawatir jika berat badan anak kurang?

Jika dokter tidak menemukan adanya masalah pada berat badan bayi, kemungkinan besar tidak ada alasan untuk terlalu khawatir.

Perlu diingat bahwa bayi yang lahir prematur maupun bayi dengan kondisi kesehatan tertentu mungkin memiliki pola pertumbuhan yang berbeda, sehingga tidak selalu mengikuti kurva pertumbuhan umum.

Meski demikian, tak ada salahnya untuk rutin berkonsultasi dan sampaikan kekhawatiran Bunda kepada dokter. Catatlah secara rinci hal-hal yang menurut Bunda mengkhawatirkan, misalnya waktu makan, tanggal, jumlah makanan yang dikonsumsi, serta jenis makanan yang diberikan.

Apabila bayi benar-benar menolak makan atau menyusu, tampak sangat lemas, atau tidak mencapai tonggak perkembangan (developmental milestones) sesuai usianya, konsultasi juga diperlukan. 

Selain melakukan pemeriksaan medis, apabila diperlukan dokter juga dapat merujuk Si Kecil ke tenaga profesional lain, seperti konsultan laktasi, terapis okupasi, atau ahli gizi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)