12 Fakta Medis Kelam yang Dialami Perempuan Era 50-70an, Gen Z Pasti Kaget!
Kamis, 24 September 2026 - 22:11 WIB
VIVA – Perempuan yang lahir pada era 1950-an, 1960-an, hingga 1970-an harus menghadapi berbagai kenyataan pahit dalam dunia medis yang mungkin sulit dibayangkan oleh generasi Z saat ini. Mulai dari minimnya keterlibatan perempuan dalam penelitian kesehatan, nyeri yang kerap diremehkan dokter, hingga ketimpangan penanganan medis berdasarkan gender, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana sistem kesehatan selama bertahun-tahun belum sepenuhnya berpihak pada perempuan.
Baca Juga
Meski perempuan mencakup lebih dari separuh populasi dunia, kebutuhan kesehatan mereka kerap kurang mendapat perhatian. Bias gender yang telah mengakar dalam masyarakat turut memengaruhi perkembangan ilmu kedokteran, mulai dari penelitian klinis hingga diagnosis dan pengobatan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sejumlah fakta berikut, melansir dari YourTango, menggambarkan berbagai persoalan medis yang dialami perempuan lintas generasi. Beberapa di antaranya bahkan masih menjadi bahan perdebatan dan penelitian hingga saat ini.
Baca Juga
1. Penelitian Medis Baru Mewajibkan Keterlibatan Perempuan pada 1993
Selama bertahun-tahun, penelitian medis lebih banyak menggunakan laki-laki sebagai subjek penelitian. Akibatnya, pemahaman tentang respons tubuh perempuan terhadap penyakit maupun obat-obatan menjadi terbatas.
Baca Juga
Pada 1993, kebijakan di Amerika Serikat mulai mewajibkan keterwakilan perempuan dan kelompok minoritas dalam penelitian klinis yang didanai National Institutes of Health (NIH). Sebelumnya, perempuan kerap dikecualikan karena perubahan hormon dianggap dapat membuat hasil penelitian lebih bervariasi.
Ketimpangan ini berpotensi memengaruhi diagnosis, dosis obat, hingga panduan pengobatan yang belum sepenuhnya mempertimbangkan perbedaan biologis perempuan dan laki-laki.
2. Operasi pada Laki-laki Disebut Mendapat Pembayaran Lebih Tingg
Sebuah penelitian bertajuk Price and Prejudice pada 2025 membandingkan pembayaran medis untuk 55 prosedur yang setara. Hasilnya, pembayaran untuk operasi pada pasien laki-laki dilaporkan rata-rata 30 hingga 50 persen lebih tinggi dibandingkan prosedur serupa pada perempuan.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan ketimpangan dalam sistem pembayaran layanan kesehatan, bahkan ketika jenis tindakan medis yang dilakukan relatif sama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
3. Rasa Sakit Pemasangan IUD Kerap Diremehkan
Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD dapat menimbulkan rasa sakit yang berbeda pada setiap perempuan. Namun, pengalaman pasien tidak selalu sejalan dengan perkiraan tenaga medis.
Halaman Selanjutnya
Dalam sebuah penelitian, pasien menilai puncak rasa sakit saat pemasangan IUD sekitar 65 dari 100. Sementara itu, tenaga medis memperkirakan tingkat nyeri tersebut hanya sekitar 35.