Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

02 September 2026 16:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim membuat sektor pertanian menghadapi tantangan air yang semakin besar.

Kekeringan, pola hujan yang tidak menentu, hingga banjir membuat sistem irigasi tidak lagi cukup hanya berfungsi menyalurkan air ke lahan.

World Bank menilai kebutuhan terhadap climate-resilient irrigation semakin mendesak. Sistem irigasi yang dikelola dengan lebih baik dapat mengurangi tekanan air, meningkatkan produktivitas pertanian, memperluas pilihan tanaman, sekaligus memperkuat ketahanan petani terhadap guncangan iklim. 

Produktivitas pertanian dengan irigasi tahan iklim bahkan disebut dapat lebih dari dua kali lipat dibanding pertanian tadah hujan. Dengan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah dan kebutuhan pangan meningkat, pengelolaan air pertanian menjadi semakin penting.

Distribusi pengambilan air berdasarkan sektor di berbagai kawasan dunia pada 2022. Data FAO AQUASTAT Water Data Snapshot 2025 menunjukkan pertanian menyerap 72% pengambilan air global, dengan porsi tertinggi di Asia Selatan sebesar 91%.Distribusi pengambilan air berdasarkan sektor di berbagai kawasan dunia pada 2022. Data FAO AQUASTAT Water Data Snapshot 2025 menunjukkan pertanian menyerap 72% pengambilan air global, dengan porsi tertinggi di Asia Selatan sebesar 91%. Foto: FAO Of UN, 2025

Tekanan tersebut semakin terlihat dari besarnya penggunaan air oleh sektor pertanian.

Dalam FAO AQUASTAT Water Data Snapshot 2025 yang menggunakan data 2022, secara global sekitar 72% pengambilan air digunakan untuk pertanian, jauh di atas industri sebesar 15% dan kebutuhan municipal 13%. Di Asia Selatan porsinya mencapai 91%, sementara Asia Tenggara sekitar 85%.

Namun, berbagai prinsip yang kini disebut sebagai irigasi tahan iklim sebenarnya bukan sepenuhnya baru.

Jauh sebelum teknologi sensor, aplikasi digital, dan sistem irigasi otomatis berkembang, masyarakat di berbagai belahan dunia telah menciptakan cara untuk mengelola air sesuai kondisi alam masing-masing.

Beberapa sistem tersebut bahkan telah bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun dan masih digunakan untuk menopang pertanian hingga saat ini.

Strategi Irigasi Dunia Sudah Berkembang Ribuan Tahun

Tidak semua wilayah menghadapi persoalan air yang sama.

China harus mengendalikan sungai yang dapat meluap sekaligus mengairi dataran pertanian. Oman harus mempertahankan pertanian di wilayah dengan curah hujan sangat rendah. Sementara Bali harus mendistribusikan air di antara ribuan petani pada lanskap persawahan bertingkat.

Dari kondisi tersebut berkembang sistem irigasi dengan strategi yang berbeda. Ada yang memanfaatkan bentuk alami sungai, menggunakan gravitasi untuk membawa air dari bawah tanah, hingga mengatur pembagian air melalui organisasi petani.

Berikut tiga sistem irigasi yang masih bertahan hingga sekarang.

1. Dujiangyan, China: Mengatur Sungai Tanpa Bendungan

Sistem irigasi Dujiangyan mulai dibangun sekitar 256 sebelum Masehi di Sungai Minjiang, Sichuan. Berbeda dengan bendungan besar, sistem ini tidak menghentikan aliran sungai, tetapi membagi dan mengarahkannya dengan memanfaatkan topografi serta karakter alami aliran.

Tiga struktur utama bekerja bersama. Yuzui membagi aliran sungai, Feishayan membuang kelebihan air dan sedimen, sementara Baopingkou mengatur jumlah air yang masuk ke jaringan irigasi.

Dengan desain tersebut, Dujiangyan menjalankan tiga fungsi sekaligus: irigasi, pengendalian banjir, dan pengelolaan sedimen.

Dujiangyan, China. (Dok. whc.unesco.org)Dujiangyan, China. (Dok. whc.unesco.org) Foto: (Dok. whc.unesco.org)

Lebih dari 2.200 tahun kemudian, Dujiangyan masih mengairi sekitar 668.700 hektare lahan pertanian di Dataran Chengdu. Aliran airnya sebagian besar memanfaatkan gravitasi dan kondisi alami sungai, sehingga tidak bergantung pada pompa besar untuk mendistribusikan air.

Dari sisi ketahanan iklim, keunggulannya terletak pada kemampuan mengelola perubahan debit air. Saat aliran meningkat, kelebihan air dan sedimen dapat dilepas. Sementara saat air dibutuhkan untuk pertanian, sebagian aliran tetap dapat diarahkan menuju jaringan irigasi.

2. Aflaj, Oman: Mengalirkan Air Gurun dengan Gravitasi

Berbeda dengan China, tantangan utama Oman adalah kelangkaan air dan tingkat penguapan yang tinggi.

Sistem aflaj mengambil air dari sumber bawah tanah, mata air, atau aliran permukaan, kemudian membawanya menuju permukiman dan lahan pertanian melalui jaringan kanal.

Aflaj, Oman. (Dok. whc.unesco.org)Aflaj, Oman. (Dok. whc.unesco.org) Foto: (Dok. whc.unesco.org)

Sebagian kanal dibangun di bawah tanah. Selain melindungi sumber air dari panas gurun, cara ini membantu mengurangi kehilangan air akibat evaporasi sebelum mencapai lahan pertanian. Air kemudian bergerak mengikuti kemiringan tanah dengan gravitasi, sehingga tidak membutuhkan pompa untuk terus mengalirkannya.

Efisiensinya juga berasal dari cara air dibagikan. Setiap petani memperoleh jatah aliran berdasarkan waktu, sehingga sumber air yang terbatas tidak digunakan sekaligus oleh seluruh pengguna.

Sekitar 3.000 aflaj masih berfungsi di Oman dan menyediakan sekitar 30%-50% air yang digunakan di negara tersebut. Ketika pasokan air berkurang, luas lahan yang diairi juga dapat disesuaikan. Kombinasi antara pengurangan evaporasi, penggunaan gravitasi, dan pembagian air yang ketat membuat sistem ini mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat kering.

3. Subak, Bali: Air Dikelola Bersama Petani

Indonesia memiliki Subak Bali, sistem irigasi tradisional yang telah digunakan selama lebih dari seribu tahun dan masih berfungsi hingga sekarang. Air dari sungai dan mata air dialirkan melalui bendung, kanal, dan terowongan menuju persawahan, termasuk sawah terasering yang mengikuti kontur alami lahan.

Kekuatan Subak tidak hanya terletak pada infrastrukturnya, tetapi juga tata kelola air secara kolektif. UNESCO mencatat sekitar 1.200 kelompok Subak mengatur pembagian air bagi petani, sehingga penggunaan satu sumber air dapat dikoordinasikan dari hulu hingga ke lahan pertanian.

Subak Bali (Angela Jennifer Aroemrasni/dTraveler)Subak Bali (Angela Jennifer Aroemrasni/dTraveler) Foto: Subak Bali (Angela Jennifer Aroemrasni/dTraveler)

Dari sisi ketahanan iklim, sistem tersebut memungkinkan petani menyesuaikan pembagian air ketika ketersediaannya berubah. Pengelolaan secara bersama juga mengurangi risiko petani di bagian hulu mengambil terlalu banyak air sehingga lahan di bagian hilir kekurangan.

4. Qanat: Strategi Rahasia Iran Menaklukkan Gurun Selama 2.800 Tahun


Sistem irigasi kuno qanat telah menjadi fondasi kehidupan di wilayah kering Iran selama ribuan tahun.

Teknologi ini memungkinkan air tanah dialirkan dari pegunungan menuju kawasan pertanian di dataran kering melalui jaringan terowongan bawah tanah. Melansir dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta dokumen warisan dunia UNESCO, teknologi ini telah digunakan sejak sekitar 800 sebelum masehi. Artinya, usianya sudah 2.800 tahun.

Qanat dibangun dengan menggali terowongan horizontal yang mengikuti lapisan akuifer di kaki pegunungan.

Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)Irigasi Iran. (Dok. UNESCO) Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)

Qanat bekerja tanpa pompa. Air mengalir menuju dataran rendah melalui kemiringan terowongan, sementara sumur-sumur vertikal berfungsi sebagai ventilasi sekaligus jalur penggalian.

Di wilayah Kashan, sekitar 75% kebutuhan air dipasok dari qanat. Sistem ini mengairi sekitar 7.350 hektare lahan pertanian dan menopang sekitar 20.000 petani.

Ketersediaan air memungkinkan berbagai komoditas tumbuh di kawasan kering, mulai dari delima, mawar, almond, pistachio hingga saffron.

Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)Irigasi Iran. (Dok. UNESCO) Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)

Selain untuk pertanian, qanat menciptakan ekosistem yang mendukung berbagai organisme air. Sistem ini juga efisien karena mengurangi penguapan dan mengambil air dari bagian atas akuifer sehingga cadangan air tanah tetap terjaga.

Hingga kini, sejumlah qanat masih berfungsi dan dikelola masyarakat melalui sistem pembagian air serta pemeliharaan bersama. UNESCO menilai qanat sebagai warisan budaya hidup yang membantu menjaga keberlanjutan air di wilayah kering.

Kenapa Sistem Irigasi Kuno Ini Masih Bertahan?

Ketiga sistem tersebut dibangun di tempat dan dalam kondisi alam yang berbeda. Namun, ada kesamaan mendasar yaitu mereka tidak mencoba melawan kondisi alam sepenuhnya.

Dujiangyan mengikuti karakter alami sungai dan topografi. Aflaj menggunakan gravitasi untuk membawa air di lingkungan gurun. Subak mengatur distribusi berdasarkan bentang alam dan kepentingan bersama para petani.

Pengelolaannya juga tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur.

Dujiangyan terus dipelihara dan dikembangkan selama berbagai dinasti. Aflaj membutuhkan investasi serta pemeliharaan bersama oleh masyarakat. Subak mempunyai aturan mengenai hak dan kewajiban anggotanya serta pengelolaan air secara kolektif.

Dengan demikian, keberlanjutan ketiganya bukan hanya ditentukan oleh desain fisik, tetapi juga pemeliharaan, tata kelola, dan kemampuan beradaptasi. Meski demikian, bukan berarti sistem lama tersebut bebas dari ancaman.

UNESCO mencatat aflaj menghadapi tekanan akibat menurunnya muka air tanah. Subak juga rentan terhadap perubahan penggunaan lahan, praktik pertanian, pembangunan, dan tekanan pariwisata.

Irigasi RI Terus Dimodernisasi, Prinsip Lama Tetap Relevan

Indonesia sendiri sudah melakukan modernisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi. Pada 2025, Kementerian PU merealisasikan pembangunan dan rehabilitasi jaringan sekitar 589.606 hektare, dengan target meningkat menjadi 750.000 hektare pada 2026.

Modernisasi juga mulai menggunakan teknologi untuk membuat distribusi air lebih terukur. Di Lombok, misalnya, sistem pintu air elektro-hidrolik telah digunakan, sementara World Bank mencatat proyek modernisasi irigasi di Indonesia telah merehabilitasi lebih dari 250.000 hektare sistem irigasi dan drainase serta memberi manfaat kepada hampir 350.000 petani di 10 provinsi.

Namun, teknologi baru tidak membuat prinsip lama kehilangan relevansi. Dujiangyan, Aflaj, dan Subak sama-sama menunjukkan pentingnya menyesuaikan sistem dengan kondisi alam, menggunakan air secara efisien, dan mengatur distribusinya dengan baik.

Prinsip tersebut justru semakin penting ketika perubahan iklim membuat ketersediaan air semakin tidak menentu. Sensor, otomatisasi, irigasi tetes, dan pemantauan berbasis data dapat meningkatkan presisi, tetapi tetap perlu ditopang pengelolaan air yang efisien dan adaptif.

(slm/slm)