7 Penyebab kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran di Kalimantan menjadi pemberitaan hingga Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Pemerintah juga memperkuat operasi pemadaman dan pencegahan di sejumlah wilayah yang terdampak.
Berdasarkan data dan pemantauan terbaru, persoalan karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan. Sejumlah wilayah di Sumatra juga menghadapi ancaman serupa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur sebagai wilayah dengan jumlah titik panas yang signifikan pada 19 Agustus 2026. Kondisi atmosfer yang kering dan minim pertumbuhan awan turut meningkatkan risiko kebakaran.
Di Kalimantan Tengah sendiri, lebih dari 7.600 hektare lahan dilaporkan telah terbakar dalam rangkaian karhutla terbaru. Sementara itu, di Sumatra, Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 15.000 hektare berdasarkan data pemerintah daerah yang disampaikan pada 10 Agustus 2026.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh musim kemarau yang berlangsung di tengah fenomena El Nino. BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kering pada periode 21-27 Agustus 2026.
Baca juga: Hutan terbakar, biodiversitas dan DNA Sustainability ikut terancam
Baca juga: Prabowo akan tinjau penanganan karhutla Sumatera, dimulai dari Riau
Lalu, sebenarnya apa saja yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Indonesia?
1. Pembukaan lahan dengan cara dibakar
Salah satu penyebab yang paling sering dikaitkan dengan karhutla adalah aktivitas manusia dalam membuka lahan.
Pembakaran dianggap sebagai cara yang cepat untuk membersihkan vegetasi sebelum lahan digunakan untuk kegiatan pertanian atau perkebunan. Masalahnya, api dapat dengan mudah menyebar ketika kondisi lahan kering, terutama jika tidak terkendali.
BMKG bahkan menyebut aktivitas manusia menjadi faktor utama dalam banyak kejadian karhutla di Indonesia. Karena itu, pencegahan tidak hanya bergantung pada kondisi cuaca, tetapi juga pada perilaku masyarakat dan pengelolaan lahan.
2. Kelalaian saat menggunakan api
Api yang digunakan untuk aktivitas tertentu dapat menjadi sumber masalah apabila tidak diawasi dengan baik.
Kebakaran bisa berawal dari aktivitas sederhana di sekitar lahan, kemudian merambat ke vegetasi kering. BNPB dalam salah satu laporan kejadian karhutla pada 2026, misalnya, mencatat adanya dugaan kelalaian warga saat membakar lahan untuk membuka area tanaman palawija.
Karena itu, penggunaan api di kawasan yang memiliki banyak bahan mudah terbakar perlu menjadi perhatian, terutama ketika musim kemarau.
3. Kondisi lahan yang sangat kering
Cuaca memang tidak selalu menjadi sumber api, tetapi kondisi kering membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan menyebar.
Baca juga: Ekonom: Dampak ekonomi yang timbulkan oleh karhutla jauh lebih luas
Daun, rumput, ranting, serta vegetasi lain yang kehilangan banyak kadar air menjadi lebih mudah terbakar. BMKG menjelaskan bahwa tingkat kekeringan bahan bakar halus seperti daun kering dan rumput menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat potensi kemudahan api menyala.
Semakin kering kondisi lahan, semakin besar pula kemungkinan api berkembang dengan cepat ketika terdapat sumber pemicu.
4. Fenomena El Nino
Indonesia pada 2026 menghadapi kondisi kemarau yang bersamaan dengan fenomena El Nino. Fenomena iklim ini dapat membuat kondisi menjadi lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan.
BMKG menyebut El Nino berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi kering menyebabkan vegetasi dan lahan kehilangan kelembapan sehingga menjadi lebih sensitif terhadap api.
Dengan kata lain, El Nino bukan berarti secara langsung "menyalakan" kebakaran, tetapi menciptakan kondisi lingkungan yang membuat api lebih mudah muncul dan meluas.
5. Lahan gambut yang mengering
Lahan gambut menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus ketika musim kemarau.
Gambut yang kehilangan banyak air menjadi lebih mudah terbakar. Api juga dapat merambat di bawah permukaan sehingga penanganannya tidak selalu cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat.
Karena karakteristik tersebut, menjaga kondisi gambut tetap basah menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla. BMKG dan Kementerian Kehutanan bahkan melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Riau dan Kalimantan Barat, salah satunya untuk membantu meningkatkan tinggi muka air tanah gambut.
6. Api merambat karena angin dan vegetasi kering
Setelah api muncul, kondisi lingkungan dapat menentukan seberapa cepat kebakaran meluas.
Baca juga: BMKG deteksi 2.610 titik panas di Pulau Sumatera
Angin dapat membantu api bergerak dari satu area ke area lain, sementara vegetasi kering menjadi bahan bakar yang membuat api terus menyebar. Karena itu, kebakaran yang awalnya berada di area terbatas dapat berkembang menjadi karhutla yang lebih luas jika kondisi cuaca mendukung.
BMKG menggunakan sejumlah parameter cuaca dan kondisi bahan bakar untuk memantau potensi karhutla, termasuk tingkat kekeringan vegetasi dan pengaruh angin.
7. Faktor alam, meski relatif lebih kecil
Kebakaran hutan juga dapat terjadi akibat faktor alam, meskipun kontribusinya di Indonesia relatif kecil dibandingkan aktivitas manusia.
Dalam kondisi tertentu, sambaran petir atau proses alami lainnya dapat menjadi sumber penyalaan, terutama ketika vegetasi sangat kering. BMKG juga menjelaskan bahwa dalam kondisi El Nino, lahan yang kering menjadi sangat sensitif terhadap kebakaran dan dalam situasi tertentu proses alami dapat memicu api.
Namun, faktor alam tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan peran manusia. Banyak kejadian karhutla justru berkaitan dengan aktivitas manusia yang kemudian diperparah oleh kondisi cuaca dan lingkungan.
Karhutla bukan cuma soal api
Kebakaran hutan dan lahan sebenarnya merupakan persoalan yang cukup kompleks. Ada sumber api, kondisi lahan, cuaca, hingga aktivitas manusia yang saling berkaitan.
Kondisi tersebut terlihat dari karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia saat ini. Di tengah kemarau dan El Nino, lahan yang kering menjadi jauh lebih rentan ketika terkena sumber api. Tidak mengherankan jika pemerintah harus mengerahkan berbagai upaya, mulai dari pemadaman darat, pemantauan titik panas, hingga operasi modifikasi cuaca.
Selain merusak hutan dan lahan, karhutla juga dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara. Bahkan, dampaknya dapat meluas melewati batas wilayah Indonesia. Karhutla terbaru di Kalimantan, misalnya, dilaporkan berpotensi memengaruhi kualitas udara hingga negara tetangga.
Karena itu, mencegah kebakaran sejak awal menjadi langkah yang tidak kalah penting dibandingkan memadamkan api yang sudah telanjur meluas. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama di wilayah yang masuk kategori rawan karhutla.
Pada akhirnya, kebakaran hutan tidak selalu dimulai dari kobaran api yang besar. Api kecil yang muncul di lahan kering dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih luas ketika kondisi lingkungan mendukung. Kesadaran untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi salah satu kunci untuk mencegah karhutla berulang.
Baca juga: BNPB perkuat operasi karhutla di Jambi, Kalsel, Kalteng, Kalbar
Baca juga: Kemenhub: 35 izin pesawat asing tangani karhutla dari Rusia hingga AS
Baca juga: BNPB: Karhutla hanguskan 396 hektare lahan di tujuh distrik di Nabire
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.