Final Soekarno Cup Jadi Momentum Gotong Royong Bantu Korban Gempa NTT |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Final Soekarno Cup 2026 tidak hanya menjadi ajang pembuktian talenta muda sepak bola Indonesia. Turnamen ini juga momentum menumbuhkan kepedulian sosial dan semangat gotong royong melalui aksi kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Turnamen yang mempertemukan 400 pemain muda dari 16 provinsi itu ditutup dengan penyerahan dana gotong royong kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa NTT. Penggalangan dana dilakukan selama rangkaian pelaksanaan Soekarno Cup 2026 dengan melibatkan berbagai pihak.
Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun mengatakan aksi tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan turnamen. Sepak bola tidak semata-mata berbicara tentang pertandingan, kemenangan, dan prestasi, juga bisa menjadi sarana memperkuat persatuan serta kepedulian terhadap sesama.
Ia menuturkan, Soekarno Cup rutin digelar sejak 2023 di Jakarta, 2025 di Bali, 2026 di Jawa Timur, dan ke depan terus digelar. Ini diikhtiarkan untuk mencari talenta muda akar rumput dari berbagai pelosok Tanah Air.
‘’Turnamen ini sekaligus membangun karakter generasi muda bahwa sepak bola harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Komarudin sebelum pertandingan final Soekarno Cup di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (24/8/2026).
Final Soekarno Cup 2026 mempertemukan Banteng Jabar U-17 melawan Banteng Bali U-17. Sementara itu, laga perebutan peringkat ketiga mempertemukan Banteng Jatim U-17 dengan Banteng Papua U-17.
Komarudin menegaskan, penggalangan dana untuk korban gempa NTT wujud semangat gotong royong. Menurut dia, makna aksi tersebut tidak hanya terletak pada nominal bantuan, juga pada tumbuhnya rasa senasib dan sepenanggungan di kalangan generasi muda.
“Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya. Bersama-sama meringankan beban saudara kita tanpa melihat perbedaan daerah dan latar belakang,” ujarnya.
Juru Bicara Soekarno Cup sekaligus legenda Timnas Indonesia, Anang Maruf, menilai perpaduan pembinaan sepak bola dengan aksi kemanusiaan memberikan pelajaran penting bagi para pemain muda.
Menurut dia, 400 pemain yang berasal dari 16 provinsi tidak hanya datang dengan mimpi menjadi pesepak bola profesional. Mereka juga belajar memahami tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia.
“Anak-anak ini belajar, menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian. Ketika mereka ikut bergotong royong membantu korban gempa di NTT, mereka sedang belajar menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya,” kata Anang.
Anang menambahkan, sepak bola memiliki kekuatan untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang. Perbedaan daerah, suku, dan lingkungan dapat dipersatukan melalui semangat serta permainan yang sama.
“Dari 16 provinsi mereka datang sebagai anak-anak daerah, tetapi di lapangan mereka menjadi satu sebagai anak Indonesia. Semangat yang sama kemudian kita bawa keluar lapangan melalui aksi kemanusiaan ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, Soekarno Cup tidak hanya diarahkan untuk melahirkan pemain berbakat, juga menjadi ruang pembentukan karakter. Melalui kompetisi, para pemain muda diharapkan belajar tentang sportivitas, disiplin, persatuan, dan kepedulian sosial.
“Sepak bola harus menjadi bagian dari proses membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul di lapangan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama,” pungkas Anang.