Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat Hadapi Dinamika Global
Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:50 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat didukung disiplin fiskal, peringkat investasi, dan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga
Airlangga mengatakan Indonesia masih mempertahankan status investment grade dari lembaga pemeringkat internasional, seperti S&P, Fitch, dan Moody's, sehingga mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas perekonomian nasional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Nah kalau kita lihat memang salah satu yang selalu dibahas, sovereign rating Indonesia tetap pada investment grade (layak investasi)," kata Airlangga dalam Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2026 bertajuk "Regaining Investor Trust: Navigating the Future of Indonesian Listed Companies", di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Baca Juga
Dia menambahkan Panda Bond Indonesia juga memperoleh peringkat Triple A yang menunjukkan kredibilitas instrumen keuangan pemerintah tetap diakui dan memiliki daya tarik bagi investor internasional.
"Kita lihat dari S&P, kemudian Fitch, Moody's, kemudian juga rating untuk Panda Bond Indonesia juga Triple A," ujarnya.
Baca Juga
Menurut Airlangga, pelaku pasar tidak perlu khawatir terhadap satu atau dua penilaian, karena yang terpenting adalah perusahaan mampu menjaga prospek usaha, transparansi, dan tata kelola yang baik.
Ia menegaskan Indonesia tetap dipandang sebagai negara dengan ekonomi stabil, bukan frontier market, sehingga pemerintah akan terus menjaga berbagai indikator makroekonomi agar tetap berada pada jalurnya. "Jadi itu yang harus kita jaga," katanya lagi.
Airlangga mengatakan salah satu kekuatan Indonesia adalah disiplin fiskal melalui pengelolaan defisit anggaran di bawah 3 persen, yang hanya mampu dipertahankan oleh sedikit negara di dunia.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara maju yang memiliki rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) jauh lebih tinggi, termasuk Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Negara seperti Jepang, punya debt terhadap GDP-nya juga di atas 100 persen. Amerika juga demikian, Singapura pun demikian. Jadi apa yang membuat kita worry? Ini kan semua angka-angka yang kita targetkan sendiri dan juga kita masih relatif aman di angka-angka tersebut. Jadi jangan kita khawatir berlebihan," ujarnya menegaskan.
Selain itu, Airlangga menyebut Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah investor terbesar di ASEAN serta memiliki perusahaan tercatat terbesar kedua yang memperkuat daya saing pasar modal nasional.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, sektor basic materials, transportasi dan logistik, serta jasa keuangan mencatat pertumbuhan laba yang tinggi.