Vietnam terancam kekurangan pasokan listrik di tengah tingginya permintaan dan lambatnya realisasi proyek pembangkit serta jaringan transmisi nasional. Pemerintahnya kini mengupayakan pembangunan pembangkit yang bisa selesai cepat, selain memperbesar impor listrik.

Mengutip portal informasi pemerintah Vietnam.vn, sistem kelistrikan Vietnam berisiko menghadapi kekurangan kapasitas pembangkit sekitar 4,3 gigawatt (GW) pada 2027. Kondisi ini dapat menyebabkan defisit listrik hingga 2,9 miliar kWh.

Kekurangan tersebut berisiko terus melebar. Pada 2028, kekurangan kapasitas pembangkit diperkirakan mencapai 8,3 GW dengan defisit listrik sekitar 20,7 miliar kWh. Pada 2029, kekurangan kapasitas dapat mencapai 13,3 GW dengan defisit listrik sekitar 50,4 miliar kWh.

Pada 2030, kekurangan kapasitas pembangkit diperkirakan mencapai hampir 14 GW dengan defisit listrik sekitar 61,18 miliar kWh. Kekurangan pasokan diperkirakan paling berat terjadi di wilayah utara Vietnam.

Kawasan utara merupakan salah satu pusat ekonomi dan manufaktur Vietnam, mencakup Hanoi, Hai Phong, Bac Ninh, Hai Duong, Quang Ninh, dan sekitarnya. Bac Ninh dan Hai Phong khususnya menjadi magnet investasi manufaktur berteknologi tinggi, elektronik, semikonduktor, otomotif, dan mesin.

Untuk mengantisipasi risiko ini, Pada Juli 2026, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Lê Mạnh Hùng meminta kementeriannya menyiapkan berbagai skenario untuk memastikan kecukupan pasokan listrik pada 2027.

Sejauh ini, pemerintah Vietnam telah menyiapkan sederat langkah antara lain percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pemasangan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS), penambahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara, serta impor listrik dari Laos dan Cina.

Proyek Listrik Berjalan Lambat

Laporan terbaru Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menunjukkan pembangunan proyek listrik berjalan lambat. Setelah lebih dari tiga tahun pelaksanaan Power Development Plan 8 atau Power Plan 8, baru sekitar 5 persen proyek pembangkit listrik skala besar yang telah beroperasi.

Sekitar 9 persen kapasitas proyek masih dalam tahap konstruksi. Kemudian, 28 persen telah memiliki investor tetapi belum memulai konstruksi, 12 persen masih dalam tahap perencanaan investasi dan belum memiliki investor, sedangkan sekitar 45 persen lainnya belum memiliki rencana investasi.

Masalah juga terjadi pada jaringan transmisi. Vietnam Electricity Group (EVN) dan unit usahanya tengah mengerjakan dan menargetkan penyelesaian 292 proyek jaringan listrik pada 2025-2030, terdiri atas 78 proyek jaringan 500 kV dan 214 proyek jaringan 220 kV. Proyek tersebut mencakup pembangunan lebih dari 16 ribu kilometer jaringan listrik dan kapasitas transformator sekitar 91 ribu MVA.

Namun, 292 proyek tersebut hanya mencakup sekitar 28,6 persen dari proyek jaringan listrik yang tercantum dalam Power Development Plan 8. Angka tersebut juga hanya setara sekitar 40,2 persen dari kebutuhan proyek jaringan listrik seluruh sistem pada periode 2025-2030. Sisa kebutuhan proyek jaringan bergantung pada investasi dari pihak lain.

Permintaan Listrik Tumbuh Tinggi

Di sisi lain, permintaan listrik Vietnam terus meningkat. Produksi listrik pada 2026 diperkirakan mencapai 354,4 miliar kWh, naik sekitar 9,7 persen dibandingkan 2025.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menilai pasokan listrik pada 2026 masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan mulai muncul pada 2027 apabila pembangunan proyek tidak dipercepat.

Wilayah utara menjadi salah satu yang paling terdampak. Pada 2030, kawasan tersebut diperkirakan mengalami kekurangan kapasitas pembangkit sekitar 13 GW yang dapat menyebabkan kekurangan pasokan listrik sekitar 44,65 miliar kWh.

Kebut PLTS dan Baterai

Untuk menutup kesenjangan tersebut, pemerintah Vietnam mengusulkan percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Pada 2027-2028, pemerintah daerah akan diberi target pengembangan PLTS untuk kebutuhan sendiri. Pada tahap awal, anggaran negara akan digunakan untuk memasang PLTS di kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya dengan kapasitas sekitar 2,8 GW.

Pembangunan tersebut ditargetkan selesai sebelum Juni 2027.

Pemerintah juga akan mendorong pemasangan PLTS untuk kebutuhan sendiri di kawasan industri, fasilitas produksi, dan perusahaan. Pembangkit tersebut akan dipadukan dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau BESS.

Kapasitas PLTS tersebut ditargetkan mencapai sekitar 3-5 GW sebelum musim kemarau 2027 dan 2028.

Selain itu, Vietnam akan menambah kapasitas BESS sekitar 2-3 GW untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik pada jam beban puncak selama 2027-2028.

Pemerintah juga menargetkan percepatan pembangunan PLTS terpusat yang telah mendapat persetujuan investasi dan memiliki investor. Potensi realisasinya mencapai 1 GW pada 2027 dan 3 GW pada 2028.

Selain PLTS, pemerintah tetap mendorong penambahan pembangkit energi terbarukan lainnya seperti pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) di wilayah yang memiliki potensi besar.

Perbesar Impor Listrik hingga Tambah PLTU

Vietnam juga akan meningkatkan impor listrik dari Laos dan Cina. Saat ini, Vietnam telah mengimpor sekitar 1,6 GW listrik dari Laos dan 550 MW dari Cina.

Selain itu, Vietnam mempertimbangkan penambahan PLTU batu bara untuk mengompensasi keterlambatan sejumlah proyek pembangkit berbahan bakar gas alam cair atau LNG.

Bersamaan dengan itu, Vietnam mengagendakan penyusunan peta jalan pemasangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).