Bill Gates Donasikan Rp 17,7 Triliun untuk AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1075017/original/015388800_1449200552-20151204-Bill-Gates-AFP-3.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Bill Gates menilai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat mengatasi ketimpangan sosial dan bukan meningkatkan kesenjangan. Seiring hal itu, miliarder ini melalui yayasannya Gates Foundation donasi US$ 1 miliar, atau Rp 17,7 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.700).
Donasi yang diumumkan Selasa, 15 September 2026 ini akan dialokasikan selama dua tahun ke depan untuk melatih model menggunakan bahasa lokal, meningkatkan kesehatan, meningkatkan kualitas alat pembelajaran, dan memberikan informasi mengenai praktik-praktik yang dilakukan petani kecil di seluruh dunia.
Melansir AP News, Rabu (16/9/2026), pendiri Microsoft ini mengajukan permohonan kepada perusahaan dan konglomerat AI dunia pada laporan Goalkeepers tahunan Gates Foundation. Laporan tersebut mencatat proses target perkembangan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kualitas hidup hingga 2030.
Meskipun AS memangkas dana bantuan internasional, CEO Gates Foundation, Mark Suzman mengatakan, akan terus menekan Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menjadi pelopor dalam bidang bantuan luar negeri. Dia percaya, masih terdapat harapan.
"Kami belum menyerah dengan AS,” ujar Suzman kepada The Associated Press."
Kami mengakui hal tersebut tidak mudah dengan AS. Namun, kami percaya masih ada harapan," ia menambahkan.
Laporan yang sudah disusun sejak lama datang saat perusahaan AI terkemuka mendesak yang lain di industri tersebut untuk memperlambat perkembangannya yang pesat. Keluarnya seorang mantan peneliti di Anthropic akibat pengembang AI yang tak bijaksana telah membangkitkan kembali debat apakah model AI yang semakin kuat bisa lepas dari kontrol manusia.
Gates ikut menggaungkan kekhawatiran yang sama dalam sebuah unggahan di situsnya. "AI akan menjadi penyeimbang terbaik atau sumber kesenjangan terbesar," tulis dia.
Dia menyadari, teknologi ini dapat mempermudah orang untuk melakukan penipuan, penyebaran informasi tidak benar, pengintaian, serangan siber, dan bioterorisme.
Rancangan Kerja Tahunan yang Dirilis di Tengah Kekhawatiran AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256413/original/068196800_1781157012-bill-gates-visit-european-commision.jpg)
Perbesar
Gates Foundation, salah satu penyumbang dalam kesehatan global terbesar di dunia, lebih berfokus kepada mendemokrasikan apa yang Gates percaya menjadi keuntungan teknologi dibanding keamanannya. Gates mengumumkan bulan lalu di dalam sebuah unggahan blog.
"Semua pekerjaan kami akan memanfaatkan AI secara maksimal. Ini akan menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan dari anggaran pencetak rekor tahun ini,"
Namun, pasar akan mendesain alat AI terbaik untuk yang mampu membelinya, menurut Gates.
"Inilah yang menumpuk kesenjangan: teknologi yang mempermudah hidup, meningkatkan produktivitas, dan terkadang menyelamatkan nyawa pertama didapat oleh orang yang sudah punya paling banyak,” dia menulis di laporan Goalkeepers.
Gates Foundation memandang AI sebagai alat yang memiliki potensi transformatif untuk dunia yang sedang mengalami krisis, menurut Suzman. Yayasan ini melihat 2025 sebagai tahun pertama pada abad ini di mana kematian anak meningkat.
Hambatan pemerintah Trump untuk bantuan AIDS global telah mengganggu upaya pencegahan dan pengobatan penyakit ini di puluhan negara. Sementara, kesenjangan antara negara kaya dan miskin semakin melebar, menurut laporan PBB terbaru.
Pemakaian Teknologi AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5399810/original/068925400_1762009108-OPENAI.jpg)
Perbesar
Suzman berpendapat, agar AI dapat membantu prosesnya, teknologi tersebut harus bisa bekerja di semua bahasa lokal, tidak hanya Bahasa Inggris atau Mandarin. Yayasan tersebut mengumumkan pada Selasa sekitar US$ 100 juta, atau Rp 1,77 triliun akan dialokasikan untuk membangun data set dalam bahasa yang digunakan oleh komunitas yang kurang terlayani dan mencerminkan konteks lokal mereka.
Di sisi lain, seorang asisten profesor jurusan sosiologi di University of Vermont, Jonathan Shaffer, mengatakan data tambahan tidak menjamin alat yang adil. Shaffer, yang riset berfokus pada bagaimana tata kelola kesehatan global dibangun oleh sains dan ilmu pengetahuan, menambahkan bahwa infrastruktur kesehatan sangat lemah di banyak bagian di dunia.
Ia menilai, populasi paling termarjinalisasi kemungkinan besar akan tetap dikecualikan di dalam data yang dimasukkan ke model AI berorientasi kesehatan, yang bisa memperparah kesenjangan yang yayasan tersebut ingin kurangi.
Gates Foundation Gandeng Perusahaan AI Besar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4461777/original/028802500_1686500112-16268340_rm373batch5-banner-08.jpg)
Perbesar
Gates Foundation bergandengan dengan beberapa perusahaan AI terbesar. Google.org dan AI milik Microsoft for Good Lab membantu meluncurkan panggilan terbuka untuk pendanaan proyek yang memperkuat kerangka kerja yang diperlukan bagi ribuan bahasa yang kurang terwakili di seluruh Afrika.
OpenAI memberikan US$ 50 juta, atau Rp 884,4 miliar bersama yayasan tersebut untuk melatih pekerja kesehatan di klinik Rwanda sebagai bagian dari program yang akan melibatkan negara Afrika lainnya, menurut Suzman. Sementara, Anthropic bekerja dengan yayasan tersebut untuk mempercepat perkembangan vaksin dan meningkatkan kualitas chatbot-nya dalam data set pangan lokal, dan yang lainnya.
Pengumuman pada Selasa tersebut menjanjikan sekitar US$ 400 juta, atau sekitar Rp 7 triliun untuk pendidikan, seperti alat yang membantu guru merombak bahan ajar dalam konsep yang kurang dipahami kelasnya; US$ 400 juta (Rp 7 triliun) untuk layanan kesehatan, seperti alat yang mengecek ulang laporan tenaga kesehatan untuk gejala yang terlewat.
Selain itu, sekitar US$ 100 juta, (Rp 1,77 triliun) untuk pertanian, seperti aplikasi yang menawarkan saran real-time kepada petani dalam hal pola cuaca, pengendalian hama dan penggunaan pupuk.
Potensi Bias
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5107459/original/086283800_1737682639-ai-7111802_1280.jpg)
Perbesar
Suzman mengatakan ini hanya sebagian kecil dari miliaran dolar AS yang digunakan oleh perusahaan teknologi terkemuka untuk produk komersialnya.
Dia juga mengonfirmasi yayasan tersebut sedang berdiskusi dengan raksasa perusahaan AI ini tentang bagaimana sumber daya teknis mereka dapat berkontribusi pada tujuannya dan di mana para pemimpin mereka harus menginvestasikan kekayaan pribadi sangat besar yang diperkirakan diperoleh.
Gates juga menyoroti potensi bias dalam unggahan Agustus lalu, karena dia masih memiliki kaitan finansial dengan industri teknologi, di mana dia membangun kekayaannya yang diestimasikan lebih dari US$ 100 miliar, atau Rp 1.770 triliun, yang sebagian besar diberikannya pada Gates Foundation.
Dia juga bekerja bersama Microsoft dan perusahaan AI lainnya sebagai dewan Gates Foundation. Namun, dia mengatakan pandangannya tidak berdasar atas keuntungan.
Shaffer dari University of Vermont mempertanyakan keadilan upaya ini karena penerapannya masih diarahkan oleh yayasan dan perusahaan swasta dibanding organisasi yang dibentuk secara demokratis.
“Mereka masih merujuk pada suatu bentuk akses yang bersifat sangat privat,” katanya.
Diskusi PBB Minggu Depan
Laporan Goalkeepers ini keluar sebelum pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB yang akan digelar minggu depan di New York. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres pernah mencoba mengajak negara berkembang dalam diskusi tata kelola AI.
Guterres, yang masa jabatannya akan berakhir tahun ini mengatakan teknologi tersebut tidak bisa hanya dikelola oleh beberapa negara atau perusahaan.
Namun, proses PBB bergerak jauh lebih lambat dibanding perkembangan AI, menurut anggota International Crisis Group, serta seorang direktur program dan pengamat PBB, Richard Gowan. PBB juga dipertanyakan relevansinya seiring mendekatnya proses pemilihan pengganti Guterres.
“Belum ada kepastian apakah sekretaris jenderal berikutnya akan memiliki fokus yang sama,” ujar Gowan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
![]()
Cahya Alena Fauza, Agustina MelaniTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan