Bahlil hitung potensi kenaikan konsumsi pertalite
Kami tetap menghitung potensi kelebihannya berapa.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan masih menghitung potensi kenaikan konsumsi pertalite yang diproyeksikan melebihi kuota penyaluran dalam APBN 2026.
“Kami tetap menghitung potensi kelebihannya berapa,” ujar Bahlil ketika dijumpai setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Bahlil menjelaskan terjadi peralihan konsumen dari pertamax yang merupakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke pertalite yang merupakan BBM bersubsidi sejak kenaikan harga pertamax pada 10 Juni 2026 lalu.
Harga pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni, sebelum turun menjadi Rp15.950 per liter pada 1 Agustus 2026. Peralihan konsumen tersebutlah yang saat ini masih dihitung oleh Bahlil.
Meskipun demikian, dalam kesempatan tersebut Bahlil kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga harga pertalite tetap di angka Rp10 ribu per liter hingga akhir tahun 2026.
“Apa pun yang terjadi, saya menyampaikan bahwa harga minyak atau harga BBM subsidi itu tidak akan kami naikkan sampai dengan Desember 2026, sambil kita melihat perkembangan global,” ujar Bahlil.
Sedangkan, untuk harga BBM nonsubsidi, Bahlil menyampaikan tetap akan mengikuti harga pasar dunia.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi pertalite naik hingga 12,92 persen pada Juli 2026, tepatnya sebulan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan rata-rata penyaluran pertalite sebelum terjadinya kenaikan harga pertamax adalah 75.795 kiloliter (kl) per hari. Akan tetapi, setelah harga pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, terjadi lonjakan rata-rata penyaluran pertalite.
Pada 10 Juni 2026, konsumsi pertalite tercatat sebanyak 82.760 kl per hari, naik 9,19 persen dengan selisih 6.965 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.
Kemudian, pada Juli 2026, kenaikan konsumsi pertalite kembali terjadi, yakni sebanyak 85.589 kl per hari, naik 12,92 persen dengan selisih 9.794 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.
Pada periode Agustus, ujar Wahyudi, terjadi penurunan konsumsi pertalite apabila dibandingkan dengan bulan Juli. Rata-rata penyaluran pertalite pada bulan Agustus berada di kisaran 84.368 kl per hari, lebih rendah dibandingkan dengan bulan Juli.
“Ini agak sedikit menurun karena harga pertamax juga ada koreksi, semula Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter. Sehingga, konsumsinya untuk pertalite juga turun,” kata Wahyudi.
Meskipun demikian, rata-rata konsumsi pertalite pada bulan Agustus masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan periode sebelum pertamax mengalami kenaikan.
Baca juga: BPH Migas catat konsumsi Pertalite naik hingga 12,92 persen pada Juli
Baca juga: Peralihan konsumsi Pertamax ke Pertalite di Jatim capai 10 persen
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.