BBKSDA mengintensifkan pemantauan antisipasi kebakaran hutan di Garut - ANTARA News Jawa Barat
Garut (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyiagakan personel untuk mengintensifkan pemantauan mengantisipasi dan penanganan cepat apabila terjadi kebakaran hutan di dalam dan luar kawasan cagar alam selama musim kemarau di Kabupaten Garut.
"Jadi, patroli tetap dilaksanakan sambil terus bekerjasama dengan pemerintah desa dan masyarakat sekitar," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut BBKSDA Jawa Barat (Jabar), Vitriana Yulalita di Garut, Selasa.
Ia menuturkan, daerah yang rawan sehingga menjadi perhatian untuk mencegah terjadinya kebakaran yakni kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Papandayan, CA Talaga Bodas, CA Kamojang/Guntur, dan CA Sancang.
Sejak musim kemarau, kata dia, sudah terjadi beberapa titik kebakaran hutan di kawasan CA, terutama di Kamojang atau Guntur, dan juga kebakaran lahan yang dekat dengan kawasan CA.
Adanya tim gabungan dari BBKSDA dan unsur lainnya, kata dia, kobaran api yang membakar kawasan hutan maupun lahan di luar kawasan CA berhasil dipadamkan sehingga tidak menjalar luas.
"Alhamdulillah saat ini sudah padam dan aman," katanya.
Ia menyampaikan, meski kondisi kawasan CA dan sekitarnya di luar CA dalam kondisi aman, pihaknya tetap melakukan patroli rutin dengan menyisir sejumlah kawasan untuk memastikan tidak ada potensi yang dapat menimbulkan kebakaran.
Jajarannya, kata dia, tidak hanya patroli, tapi juga melakukan sosialisasi dan mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan CA, karena salah satu penyebab terjadinya kebakaran karena perbuatan manusia.
"Terutama sosialisasi dan edukasi masyarakat sekitar ya, karena faktor penyebab paling besar adalah aktivitas manusia. Lebih baik mencegah daripada pemadaman," katanya.
Ia menambahkan, BBKSDA juga melibatkan masyarakat peduli api (MPA) untuk membantu mencegah dan mengatasi kebakaran hutan di kawasan CA, dan juga lahan yang berdekatan dengan CA.
"MPA kami penekanan aksinya di dalam kawasan konservasi, tapi tidak menutup kemungkinan di lahan di luar kawasan konservasi yang potensi merembet ke dalam karena tidak terkendali lagi," katanya.
Pewarta: Feri Purnama
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.